ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Indonesia Cerdas

26 November 2015
Indonesia Cerdas
Foto: Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, MSc (Foto: Ist)

Oleh: Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, MSc

Indonesia cerdas adalah suatu keadaan dimana Indonesia tidak lagi terbelenggu oleh hal-hal yang bersifat kontra produktif. Seperti irasionalitas, emosionalitas, kebencian, hidup tidak manusiawi, merusak alam, politik saling menihilkan, saling menjatuhkan, dan perilaku-perilaku lainnya yang merusak baik secara individu atau pun kelompok. Jadi, Indonesia cerdas itu mencakup cerdas secara emosi, intelektual, sosial, dan spiritual.

Keinginan menjadi Indonesia cerdas harus dimulai dari pembenahan pendidikan. Pendidikan sejatinya adalah untuk menjadikan manusia sebagai manusia yang fitrah. Kesucian atau fitrah kemanusiaan itulah yang akan menjadikan manusia lebih kreatif, memahami kebebasan secara hakiki, punya jiwa sosial entrepreneur, serta peduli terhadap sesama serta makhluk hidup lainnya, dan alam lingkungan.

Pendidikan menjadi sangat penting karena faktor inilah yang secara sistematis membentuk manusia. Kesalahan pendidikan efeknya sangat mahal, fatal, merugikan, bahkan bisa merusak tatanan sosial kemasyarakatan.

Pada saat seperti inilah maka korupsi sangat sulit diberantas. Lembaga yang semestinya menjaga kewibawaan hukum, bahkan bisa jadi pelaku kerusakan hukum. Antar lembaga bisa saling serang, partai politik tidak lagi menjaga kesantunan, siswa tawuran, narkoba merajalela, lingkungan hidup kotor, WC bau, sungai penuh dengan sampah, transportasi semrawut, birokrat elet, pengrusakan alam dimana-mana, dan banyak kekacauan lainnya. Semua adalah akibat pendidikan yang salah.

Mengapa hal itu terjadi, padahal manusia semakin pintar? Karena awalnya sudah terjadi corrupted mind, otak yang sudah cacat akibat pendidikan yang salah. Dan secara sistematis keadaan ini terus dipelihara oleh lembaga yang namanya sekolah dan universitas. Sadarlah seluruh bangsa, bahwa situasi ini tidak bisa dibiarkan terus terjadi. Kalau tidak, negara Indonesia yang besar ini akan menjadi neraka.

Pembenahan pendidikan harus dimulai sejak dini. Saat ini, anak didik kita terlalu diarahkan untuk mengejar sesuatu secara kompetitif. Jarang fitrah kemanusiaan untuk saling tolong menolong itu dipupuk dengan baik. Ruang kelas sejak pendidikan usia dini terlihat menyekat. Mereka masuk ke dalam kurungan untuk mencapai kelas yang efisien dan efektif. Pada saat yang sama mereka harus kehilangan jati diri anak-anak yang ceria penuh canda dan terbuka.

Memang mereka menjadi pintar, tetapi untuk mengantri pun kesulitan. Anak didik tidak terbiasa memungut sampah plastik di sekolah. Banyak hal-hal mendasar kemanusiaan hilang hanya untuk mengejar kepintaran. Keadaan ini terus berlanjut sampai tingkat atas. Manakala masuk ke perguruan tinggi, justru mereka (pada umumnya) sudah lelah. Apalagi sejak awal anak didik sudah kekurangan gizi. Jangan heran, bila secara nasional IPM (Indeks Pembangunan Manusia) kita selalu kedodoran. Dus, Indonesia masih belum cerdas. Secara ekonomi pun kita belum berbasis pengetahuan.

Aspek Hukum dan Keadilan
Pada saat membenahi pendidikan, aspek kedua yang harus dibenahi adalah hukum dan keadilan. Jangan sampai persoalan hukum ini dijadikan komoditas jual beli kasus, alat untuk saling menjatuhkan, atau alat untuk saling menjegal. Saat ini kerunyaman sosial politik, dekandensi moral, korupsi, kesemrawutan birokrasi, dan tatanan kehidupan lainnya sering menjadi tontonan. Jauh dari model Indonesia cerdas.

Keadaan rusak ini harus disadari bersama, diakui secara jujur. Untuk itu jangan sekali-sekali dijadikan alat untuk menyerang oleh siapapun yang berkuasa. Mereka yang kalah, terus menerus mencerca sambil tetap melakukan lobi-lobi mencari celah fasilitas. Yang berkuasa janganlah membongkar kasus hanya karena dendam kesumat dengan memanfaatkan kesempatan power yang dimiliki. Bila hal ini terus terjadi, niscaya persoalan perbaikan bangsa tidak akan pernah terwujud, apapun namanya, termasuk bernama Revolusi Mental sekalipun. Mengapa? Karena kekuasaan itu seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Pada saat di atas, jangan sampai dipergunakan untuk menyikat yang di bawah. Manfaatkanlah kekuasaan itu untuk pembenahan total. Perbaikan yang mendasar dengan menghilangkan dendam kesumat melalui upaya menggencet yang sedang di bawah. Teladan yang baik telah dilakukan oleh Mr. Nelson Mandela yang telah memaafkan perilaku bejat lawan politiknya. Terjadilah rekonsiliasi yang hakiki, bukan basa-basi. Dengan demikian di Afrika Selatan tidak terjadi lagi serangan bolak balik yang hanya akan membuat rakyat sengsara.

Dalam proses menuju Indonesia cerdas, benahi persoalan hukum dan keadilan ini secara bijak. Termasuk pembenahan ke dalam lembaga negara itu sendiri, tetapi bukan untuk sekedar memuaskan batin. Harus dalam konteks pembenahan menuju Indonesia cerdas yang membahagiakan dan menyejahterakan seluruh warga, tanpa kecuali. Dus, secara politik, tidak ada kalah menang, semuanya harus saling bantu, walaupun dari sisi yang berbeda. Buat road pembenahan sehingga dalam kurun waktu tidak ada lagi aparat hukum yang tajam ke bawah, tumpul ke atas, dan hanya untuk memperkaya diri.

Aspek Kewirausahaan
Kewirausahaan kita sangat lemah. Inipun bisa akibat sistem pendidikan kita sejak kecil yang kurang memberdayakan potensi manusia. Termasuk memberdayakan kebebasan anak-anak untuk berkreasi dalam dunia usaha. Adanya suatu kesan bahwa dunia usaha itu dunia tipu muslihat, harus mulai dikikis. Kesan bahwa pegawai negeri itu mulia justru akan membebani negara. Dunia usaha akan maju penuh berkah bila dikelola oleh pengusaha yang baik. Dunia pemerintahan akan kacau bila diisi oleh orang-orang yang tidak bermoral. Dus, pendidikan memegang peranan dalam membangun manusia.

Anggapan bahwa bisnis itu jelek telah membuat dunia usaha kita tidak berkembang. Anak didik dan orang tua cenderung menyekolahkan anaknya untuk menjadi pegawai negeri atau swasta, paling banter jadi professional. Jarang sekali ada keinginan orang tua agar anaknya lebih kreatif, berjiwa entrepreneur, mandiri. Celakanya, lembaga pendidikannya itu pun jarang dikelola secara entrepreneur. Teacher-centered sangat dominan. Mending kalau teachernya itu kreatif, tapi umumnya mereka sangat tergantung sama buku panduan, arahan-arahan, regulasi-regulasi, dan tuntunan serta tuntutan dari atas.

Sebagai akibat dari kurungan pendidikan yang terlalu berpola pada patokan pemerintah, sedikit sekali entrepreneur hasil didikan sekolah dan universitas. Perubahan hanya ada dalam jargon, selainnya tetap begitu-begitu saja. Alhasil, jumlah entrepreneur kita tidak lebih dari 0.5%, sedangkan Malaysia 3%, dan Singapura 7%. Wajar bila mereka lebih sejahtera. Karena negara mendapat pemasukan dana dari pajak itu besar sekali. Indonesia? Sudah kecil, dikorupsi, bak sudah jatuh ketimpa tangga pula.

Para pengusaha malah kongkalikong dengan penguasa untuk bisnis eksploitasi alam, pengiriman TKW kelas pembantu. Memang negara mendapatkan devisa, tetapi harga diri bangsa jatuh ke posisi paling bawah. Kita hanya menang jumlah, tetapi tidak ada negara asing yang menghormati kita. Efek dari situ, jangan berharap banyak orang asing menjadi mahasiswa di Indonesia. Padahal pendidikan bisa jadi devisa. Tetapi mereka ngeri juga kalau hanya diajar menjadi pesuruh. Sama sekali jauh dari perilaku entrepreneur.

Akankah kita terus begini? Jangan sampai terjadi. Untuk itu marilah kita bekerjasama membangun Indonesia cerdas. Ayo!

Penulis adalah Rektor Universitas Trilogi/Guru Besar IPB



Tags :

KOMENTAR