DR. Salman Habeahan, yang berbicara dihadapan para peserta seminar tentang

Menjawab Tuntutan Pasar Lewat Teknologi Pendidikan

Berdasarkan Statistik Biro Tenaga Kerja Amerika Serikat 2013, tujuh tahun mendatang  di seluruh dunia akan terbuka 6,2 juta lowongan kerja di bidang komputasi awan berbasis tehnologi. Dari 6,2 juta lowongan pekerjaan tersebut, sekitar 51 persen di antaranya pekerjaan di bidang komputer, 27 persen di bidang tehnik, dan 18 persen di bidang lain yang terkait komputasi awan berbasis teknologi.

Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus siap menghadapi tuntutan perubahan jaman dan dapat meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non-akademik, penguasaan Iptek, tehnologi pendidikan dan memperbaiki manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.

Demikian pemaparan awal yang disampaikan DR Salman Habeahan, yang berbicara dihadapan para peserta seminar tentang "Perkembangan Tehnologi Pendidikan Sebagai Peluang dan Tantangan dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan", Sabtu 21 November 2015 di Jakarta. Pakar dan Konsultan Pendidikan untuk media www.scholae.co ini, memaparkan beragam persoalan menyangkut tehnologi pendidikan, diantaranya rendahnya kualitas penyelengaraan pendidikan dan kurangnya pemanfaatan tehnologi pendidikan dalam proses pembelajaran dan peningkatan kualitas pendidikan dan pemerataan pendidikan di Indonesia.

“Untuk mengatasi permasalahan rendahnya kualitas dan efektifitas pendidikan di negara kita, salah satu alternatif yang dapat dilakukan yaitu dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam penyelenggaraan pendidikan,” ungkapnya.

Hal ini, lanjut Salman,  didasarkan pada fakta yang terjadi di negara-negara maju bahwa pemanfaatan teknologi informasi dalam penyelenggraraan pendidikan terbukti mampu menunjang peningkatan kualitas pendidikan.  “Kita sekarang memasuki era baru pembelajaran digital sehingga para guru dituntut mampu memadukan tehnologi dalam pembalajaran. Guru abad 21 dituntut dapat menguasai berbagai macam kompetensi, antara lain; mampu memanfaatkan tehnologi untuk menciptakan konten pembelajaran, mampu beradapatsi dengan perkembangan tehnologi informasi dan komunikasi,” tandas pengajar di berbagai perguruan tinggi ini.

Berbicara dalam rangkaian kegiatan Asia Education Technology Expo 2015 yang digagas oleh PT Debino Multi Adhiswasti ini, Salman menegaskan bahwa, selain kemampuan intelegensia lembaga pendidikan pun perlu memberi perhatian kepada pembentukan watak dan kepribadian manusia. Maka ia menanggapi positif pihak-pihak yang memberi perhatian kepada pembangunan karakter dan mentalitas manusia, seperti yang dilakukan Debindo dan Rxpotama Sinergi yang secara bersamaan mengadakan Pameran Indonesia Toys and Game Fair 2015.  Pameran ini, selain memperkenalkan berbagai lembaga pendidikan skala Asia juga menggelar permainan-permainan edukasi yang bertujuan mengembangan instelegensia dan kepribadian anak.

“Lewat kegiatan-kegiatan seperti ini, dibangun kepribadian dan pembentukan manusia seutuhnya,” tandas praktisi pendidikan lulusan Universitas Nasional Jakarta ini.

Selain website scholae, organisasi guru yakni PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), juga menyampaikan materi seputar Digital Learning. Hadir sebagai pembicara, Ketua Pengurus Besar PGRI, Unifah Royidi.

Dalam kesempatan itu, Unifah menyoroti tentang maksud diterapkannya program sertifikasi bagi para guru. “Ada dua hal penting yang melandasinya. Yaitu, meningkatkan kualitas pengajaran dan kesejahteran para pendidik,” katanya. Ia pun merasa program ini berdampak positif bagi dunia pendidikan. Meski ia tidak menampik, adanya rentetan persoalan yang perlu dibenahi.

Misalnya, kualifikasi guru dan kompetensi kinerja yang masih harus diberdayakan. Walaupun sertifikasi telah berjalan, toh tidak serta merta seorang guru memiliki kapasitas yang memadai sesuai dengan tuntutan jaman. Karena masih ada beberapa pendidik, yang belum mengenyam pendidikan S1. “Maka ke depan, perlu dilakukan perencanaan kebutuhan guru baik dari segi ekonomis maupun manajemen guru,” katanya.

Selain itu, komitmen dan political will dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dalam membenahi manajemen guru, harus ditingkatkan lagi. “Karena harus diakui, penyerbaran tugas mengajar untuk daerah-daerah terluar masih belum merata. Ditambah lagi persoalan banyak guru-guru yang pensiun di tahun mendatang,” papar Unifah.