Ilustrasi: Sex Education (Foto: Ist)

Hari AIDS Sedunia: Pendidikan Seksualitas Dini Cegah Penularan HIV-AIDS

Sebuah  diskusi yang digagas Universitas Negeri Jakarta dan Rutgers WPF (World Population Foundation), Selasa (2/12) menyebutkan bahwa remaja tingkat dasar dan menengah, yang menerima pendidikan seksualitas secara komprehensif di sekolah, lebih tahu tentang penularan HIV. Forum juga menyebutkan bahwa, para siswa yang memiliki pemahaman komprehensif, juga bisa menolak ketika terjadi pemaksaan aktivitas seksual serta mampu mengidentifikasi kekerasan seksual.

Pendidikan seksual komprehensif buka sekedar memberikan informasi dan pengetahuan soal pubertas, kesehatan reproduksi, ataupun tahapan seksualitas. Namun juga memberikan keterampilan untuk mampu bernegosiasi dan menyatakan sikapnya terhadap seksualitas setelah mendapatkan pandangan yang benar lewat pendidikan seksualitas komprehensif, utamanya di sekolah.

Peringatan klasik ini, memang kerap didengungkan hampir di tiap satuan pendidikan maupun lembaga-lembaga swasta yang memiliki kepedulian terhadap aktivitas prolife. Bahkan penelitian kerjasama antara WPF dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menegaskan bahwa seyogyanya pemahaman serupa diberikan kepada anak-anak usia sekolah yang memang rentan terhadap masalah kekerasan seksual.

Di tingkat Pemerintah, kepastian mengenyam pendidikan untuk anak-anak usia 12 tahun (tingkat Dasar dan Menengah) yang berkualitas, harus diberikan di tiap jenjang pendidikan, jika Indonesia ingin mencapai tujuan pembangunan yang infkulif dan berkelanjutan.

Hal tersebut dapat dilakukan melalui berbagai rangkaian strategi kebijakan melalui Rancangan Pembangunan Jangka Menengah (2015-2019) Bidang Pendidikan. Yakni, meningkatkan kualitas pendidikan dasar dan mengah, dengan memperkuat pengembangan anak usia dini dan memastikan anak-anak siap untuk belajar ketika mereka menapaki jenjang pendidikan berikutnya. Selain itu, berupaya meningkatkan pemarataan akses ke sekolah menengah atas. Ditenggarai, ada sekitar enam juta anak yang tidak menyelesaikan pendidikan 12-tahun. Tantangan memperluas kesempatan untuk anak-anak ini sangat besar dan akan membutuhkan kombinasi peningkatan pasokan serta berbagai peningkatan permintaan untuk mendukung anak-anak dari rumah tangga miskin.

Strategi lainnya, meningkatkan kesempatan pendidikan yang berkualitas untuk semua. Untuk bisa memberikan akses pendidikan universal 12-tahun yang berkualitas baik, sangat penting untu mengembangkan strategi efektif untuk mendukung daerah-daerah dan kelompok-kelompok masyarakat yang tertinggal. Meskipun ada kemajuan yang signifikan dalam pencapaian pendidikan anak-anak dari rumah tangga miskin dan rentan selama sepuluh tahun terakhir, upaya terpadu terus diperlukan untuk menjangkau anak-anal yang masih tertinggal.

Serta kebijakan meningkatkan sistem pendidikan. Upaya untuk meningkatkan pencapaian dan memperbaiki kualitas pendidikan tidak akan berhasul tanpa investasi yang memadai. Namun sebagian besar investasi yang diperlukan bisa didapatkan dari penghematan efisiensi anggaran pendidikan saat ini serta memperkuat kemitraan dengan sektor swasta.