ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Pulau Bair, Mutiara Tersembunyi dari Tenggara

02 Desember 2015
Pulau Bair, Mutiara Tersembunyi dari Tenggara
Wisata bahari di Kota Tual, Pulau Bair. (Foto-Foto: Humas Kemendes RI)
Pulau Bair, Kota Tual, Provinsi Maluku, mungkin masih menjadi nama asing bagi banyak orang di Indonesia. Namun perlahan tapi pasti, keindahan pulau tersebut kini mulai di sejajarkan dengan Kepulauan Raja Ampat, di Papua Barat.

Kota Tual tadinya masuk Kabupaten Maluku Tenggara. Mulai berdiri sendiri bersamaan dengan terbitnya Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 31. Jadi maklum namanya belum banyak dikenal di Indonesia.

Padahal sejak lama kawasan Kota Tual yang terdiri dari 66pulau memiliki keindahan bahari yang luar biasa. Banyak pantai dengan air laut masih jauh dari tercemar. Pasir putih yang sangat memberikan pengalaman, sensasi dan pesona tersendiri bagi wisatawan.

Nah, di antara kekuatan wisata bahari di Kota Tual, Pulau Bair, akan menjadi tempat tak terlupakan. Pulau Bair memiliki keunikan dan daya tarik yang berbeda dengan pulau pulau kecil disekitarnya. Yakni memiliki dua teluk dengan air laut jernih dan tenang berwarna biru kehijauan, vegetasi mangrove dan tebing batu.

Pulau ini dengan demikian menjadi tempat asyik untuk berwisata bahari. Bukan saja untuk berselfie dengan latar belakangnya yang menawan, tapi juga kegiatan menyelam, snorkel, dan mamancing. Pulau ini terlindungi oleh gelombang laut sehingga cocok untuk berperahu kano dan jetski. Sekilas Pulau Bair mirip dengan Raja Ampat, Papua. Atau bisa saja disebut sebagai Raja Ampatnya Maluku.

“Untuk menuju Pulau Bair tentunya harus menuju Kota Tual terlebih dahulu. Nah, dari terminal Kota Tual melakukan perjalanan darat atau angkutan umum menuju Desa Dullah sekitar 30 menit. Dari dermaga Desa Dullah Darat selanjutnya melakukan perjalanan laut dengan menyewa perahu speed boat,” terang Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tual Siti Tamher saat ditemui di Jakarta, ketika Kota Tual menggelar ekspose di Kantor Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Jakarta beberapa waktu lalu.

Perjalanan menuju Pulau Bair diperlukan waktu sekitar 30 menit dari Dullah, namun dipastikan tak akan terasa lama karena kita akan melewati pemandangan laut dan beberapa pulau kecil yang menawan. Salah satunya Pulau Adranan yang memiliki pasir pantai yang halus. Pulau Adranan cocok untuk wisatawan yang senang bermain air di pantai dan berfoto-fota selfie.

Menjelang Pulau Bair, kita juga akan dibikin decak kagum dengan suguhan tebing tebing batu yang mengelilingi Pulau Bair. Kalau perjalanan kita beruntung,  konon dapat melihat anak ikan hiu jenis blackpit.

“Begitu sampai  teluk Pulau Bair, kita benar-benar merasakan di sebuah daerah yang luar biasa megah dan indah dengan suguhan tebing batu. Tebing batu itu mengelilingi teluk di Pulau Bair. Dalam kondisi laut surut kita akan menemukan beberapa pantai yang bisa disinggahi karena tidak tertutup oleh air laut,” tambah Siti Tamher.

Keindahan Tual tak hanya di situ, setelah puas dengan Pulau Blair, wisatawan bisa mampir ke Pulau Adranan yang sempat dilewati tadi. Atau sebenarnya bisa ke Pulau ini dulu baru ke Pulau Blair. Pulau Adranan memiliki luas sekitar 5.000 meter persegi. Selain cocok untuk main pasir dan mandi di pantai, pulau dengan air nan jernih ini bisa untuk kegiatan menyelam sekaligus melihat pemandangan di bawah laut khususnya terumbu karang.

Oleh warga setempat, Pulau Adranan juga biasa digunakan sebagai ritual mandi bulan Safar atau upacara membersihkan diri. Daya tarik lainnya adalah saat perubahan musim timur ke barat atau sebaliknya, pasir pantai pantai bergeser sesuai musim.

Pulau Ohoimas/ Pulau Burung termasuk pulau unggulan yang berdampingan dengan Pulau Bair. Di pulau ohoimas tengah dikembangkan wisata bersantai sambil kerkemah, sedangkan di Pulau Burung untuk wisata konservasi burung dan biota laut.

Pulau Ut, mungkin agak jauh dari Ohoimas dan Bair, karena ditempuh dengan waktu 45 menit. Pulau Ut dikelilingi pasir putih. Pecinta olahraga selancar pasti takkan melewati pulau ini. Pada musim tertentu, gelombang lautnya cukup tinggi.

Tempat wisata andalan lainnya adalah di sekitar Desa Dullah Laut, yakni Pantai Duroa. Selain memiliki pantai dengan pasir putih halus, Pantau Duroa juga dikelilingi laut yang indah dengan variasi warna hijau ke biru-biruan. Di sini juga banyak pulau kelapa dimana minuman kepala muda bisa dinikmati sampai bersantai di pantai. Nah, di kawasan Pantai Duroa, ada peninggalan sejarah, tepatnya peninggalan tentara Jepang. Yakni berupa Benteng dan Meriam Duroa.

Pantai Difur, terletak di Desa Labetawi, Kecamatan Dullah Utara, sekitar 30 menit dari Kota Tual.  Keberadaan tumbuhan pantai menjadi daya tarik sendiri. Wisatawan yang datang bisa menikmati kesejukan Pantai Difur. Pantai ini juga memiliki daya tarik makanan khas berupa umbi-umbian, pisang goring, keripik pisang, aneka masakan seafood dengan sambal khasnya.

Kota Tual memiliki 66 pulau yang hampir sebagian besar berpasir putih dan karang bervariatif. Sebanyak 13 pulau berpenghuni 53 pulau lainnya tak berpenghuni. Nah, pulau-pulau tak berpenghuni, selain untuk lahan pertanian, perkebunan, dan tempat singgah, sebagian diantaranya dikembangkan sebagai pusat Wisata Bahari.

Selain wisata pantai, pemerintah Kota Tual juga mengembangkan andalan wisata lainnya, terutama wisata budaya di Teluk Taar, yang dipadukan dengan wisata konservasi pantai dan wisata kuliner khas Tual. Menurut Siti Tamher, Tual memiliki keterkaitan budaya dengan Bali. Peninggalan sejarah banyak berada di Kota Tual, hukum Adat Larwul Ngabal juga bisa menjadi pengetahuan menarik wisata budaya.

Karena itu tengah dikembangkan tema wisata Bali Masa Lalu atau The Real Bali. Tema ini akan melengkapi julukan kekuatan wisata di Kota Tual sebagai  Mutiara dari Tenggara.(*)

 

 

Editor: Farida Denura
KOMENTAR