Prof. Anita Lie (Foto: Ist)

Prof. Anita Lie: LPTK Perlu Memperketat Seleksi Agar yang Terjaring adalah Calon Guru yang Bermutu

Sebagai seorang Pakar Pendidikan, nama Prof. Anita Lie, Ed. D memang dikenal banyak memberikan sumbangsih bagi dunia pendidikan. Kiprah beliau di bidang pengajaran, dikenal hingga ke mancanegara. Doktor Pendidikan alumni Baylor University (USA, 1994) ini pernah menjadi dosen tamu di SEAMEO RELC (Singapore), Kwansei Gakuin, Fu Jen University, Chinese University of Hong Kong, Ateneo University dan De La Salle University, University of Brunei Darussalam, Universiti Putra Malaysia dan Universiti Kebangsaan Malaysia.  Lebih lanjut, ia juga meraih penghargaan The Rotary International Ambassador of Good Will dan 2000 SEAMEO Jasper Fellowship Award dari pemerintah Kanada untuk kategori penelitian terbaik. Saat ini, ia berkarya sebagai  Direktur  EduBusiness Consulting, dosen di Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya. 

Prof. Anita Lie tak jarang menulis artikel-artikel untuk media massa. Buku-buku pendidikan yang ditulisnya antara lain: 101 Cara Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak, 101 Cara Mengembangkan Kecerdasan Anak, 101 Cara Menumbuhkan Kemandirian dan Tanggung Jawab Anak, Cooperative Learning, English via Environmental Education, Building Bridges, dan Beyond the Classroom. Dan disepanjang tahun 2015, anggota dan salah satu pendiri Komunitas Indonesia untuk Demokrasi ini, melakukan penelitian bertajuk The Impact of a graduate Program on Participants’ Professional Practice (Januari – Desember 2015) serta Evaluation Study of Pelita Pendidikan Program (Mei – November 2015)

Menanggapi pelaksanaan Program Sertifikasi—sesuai yang diamanatkan UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2016—ia mengungkapkan bahwa Sertifikasi guru telah berhasil dalam beberapa hal. Namun masih harus diperbaiki lebih lanjut agar bisa memenuhi sasaran sesuai UU Guru dan Dosen, yaitu meningkatkan kualitas guru.  Program sertifikasi—beserta dengan pemberian tunjangan profesionalnya—baru berhasil meningkatkan minat anak muda untuk menjadi guru dan minat lembaga pendidikan tinggi untuk merebut peluang baru dan berlomba-lomba memperbesar daya tampung untuk program-program studi pendidikan dan keguruan.  Pemberian tunjangan profesional ini juga berhasil membantu guru mengatasi masalah keterbelitan finansial. 

Perhatian lain selanjutnya, Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) perlu memperketat seleksi agar yang terjaring adalah calon guru yang bisa lebih bermutu. Selain itu pula, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  perlu mengembangkan sistem penilaian kinerja yang lebih menyeluruh dan meng-eksekusinya dalam koordinasi dengan Dinas-dinas Pendidikan di daerah-daerah

Ia pun beranggapan bahwa, Uji Kompetensi Guru (UKG) hanya menilai kompetensi profesional dan sebagian kecil saja dari kompetensi pedagogis. Tes tertulis UKG hanya mampu menilai pengetahuan para guru dalam bidang studi tertentu dan pengetahuan mereka tentang pedagogi. Kompetensi pedagogis seharusnya dinilai melalui penilaian di kelas dan sekolah.  Kompetensi kepribadian dan sosial hanya bisa dinilai oleh atasan (kepala sekolah), rekan kerja, tenaga kependidikan, para siswa dan wali murid.  Kedua kompetensi terakhir belum dinilai secara sistematis,” paparnya.

Lantas apakah Program ini mujarab untuk memperbaiki hasil belajar siswa?

Penelitian-penelitian menunjukkan program sertifikasi belum mampu meningkatkan kinerja guru, apalagi hasil belajar siswa,” paparnya, lagi.

Alasannya, gebrakan awal program sertifikasi bersifat massal dan masih berfokus pada peningkatan kesejahteraan guru.  Administrasi Uji Kompetensi Guru juga masih berkutat pada tataran pemahaman guru, belum pada kompetensi pedagogis yang sebenarnya, apalagi kompetensi pribadi dan sosial.  Menurutnya, langkah awal ini masih harus dilanjutkan melalui kolaborasi dengan Dinas-dinas Pendidikan.  Perlu ada pemberdayaan para Pengawas dan Kepala Sekolah untuk melakukan mekanisme supervisi guru yang lebih intensif dan menyeluruh untuk menilai peningkatan keempat kompetensi.

Maka ia pun menyarankan agar pelatihan supervisi bagi para kepala sekolah, Standar Operasional Prosedur (SOP) dan mekanisme, supervisi dan penilaian guru pada ke-empat kompetensi perlu ditingkatkan lagi.