ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Menatap 2018 dengan Penuh Optimisme

29 Desember 2017
Menatap 2018 dengan Penuh Optimisme
Prof Asep Saefuddin, Rektor Universitas Al Azhar Indonesia/Guru Besar Statistika IPB
TAHUN  2017 akan berakhir segera. Tahun 2018 segera masuk. Memang pergantian waktu ini sebenarnya adalah pergantian siang dan malam setiap hari. Tidak ada yang istimewa secara natural dan biologis, karena itu semua adalah keniscayaan. 

Tetapi tidak begitu dalam manajemen, perencanaan, dan bahkan secara psikologis. Tahun baru adalah sesuatu yang berbeda dengan setumpuk harapan dan keinginan. Juga untuk negara, tahun baru harus diisi dengan jiwa baru yang bisa memberikan ketenangan bagi masyarakat.

Tahun 2017 dunia dan juga Indonesia tidak lepas dari persoalan yang sering menyedihkan, selain membahagiakan. Bencana alam dan disrupsi ekonomi sempat menjadi berita. Bali sebagai andalan pariwisata Indonesia sedikit terganggu dengan batuk-batuk Gunung Agung. Juga ada gempa bumi di wilayah Jawa Barat bagian selatan. Gunung Sinambung yang sering mengeluarkan asap. Juga ada banjir bandang di beberapa daerah. Itu adalah kejadian alam.

Bila melihat fenomena alam, guncangan apapun, walaupun tidak bisa dihindari, tetapi bisa diprediksi dan disiapkan upaya meminimumkan dampak kerusakannya. Manusia bisa dilatih bagaimana menghadapi fenomena alam itu. Semua itu untuk memperbaiki sistem dan teknologi agar para penduduk tidak terdampak sangat parah akibat bencana alam. Dalam hal ini manusia terus melakukan penelitian sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju.

Yang lebih mengerikan itu justru fenomena sosial berupa kerusuhan, begal, perampokan, perkosaan, geng motor, penindasan, bullying, human traficking. Semua itu berkaitan dengan perilaku manusia yang berkaitan dengan pendidikan, politik, dan ekonomi. Inilah yang sangat penting untuk terus dibenahi di negara Pancasila.

Kita patut bersyukur bahwa Indonesia telah memainkan peranan yang sangat mendasar untuk Rohingya dan Palestina. Semua itu dikembalikan ke hak-hak azasi perikemanusiaan yang menjadi salah satu alasan Kemerdekaan Indonesia. Bahwa penjajahan di muka bumi ini harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
 
Kita juga patut bersyukur bahwa pelaksanaan ibadah natal tahun ini berjalan lancar. Banyak komunitas dan organisasi Islam membantu menjaga ketenangan ibadah kaum Nasrani, selain secara resmi dari aparat kepolisian. Mereka menyadari bahwa ibadah agama apapun harus bisa dijalankan secara khusuk. Untuk itu lingkungan di sekitar rumah ibadah dan bahkan seluruh daerah harus aman, nyaman, dan tenang. Apa yang dilakukan organisasi masa, organisasi mahasiswa, dan komunitas dalam turut serta menjaga kekhidmatan ibadah ini patut diacungkan jempol.

Ketenangan, kenyamanan, dan keamanan tentu harus berlangsung di sisa akhir tahun, awal tahun, dan seterusnya. Terbukti kita bisa melakukan hal positif itu. Masyarakat Indonesia semakin dewasa dalam saling menghormati keragaman. Perbedaan ternyata bisa jadi alat persatuan, selain suatu keniscayaan yang indah. Itulah yang disebut bahwa perbedaan adalah rahmat.

Dengan modal sosial yang kuat ini, marilah kita menatap 2018 dengan penuh optimisme. Ada hal-hal yang sederhana patut menjadi kebiasaan bangsa, seperti membuang sampah pada tempatnya. Membantu menjaga pintu terbuka bila kita berada di depan dimana ada orang lain di belakang kita. Dalam bahasa normatifnya kita harus meneruskan pola gotong royong, saling tolong menolong, saling bantu, saling mendo’akan untuk kebaikan, saling asih, saling asuh, dan saling asah. As simple as that.

Insya Allah Indonesia akan semakin maju. Selamat tahun baru 2018. Semoga Allah senantiasa membimbing dan melindungi kita. Amin!

Penulis adalah Rektor Universitas Al Azhar Indonesia/Guru Besar Statistika IPB

Tags :

KOMENTAR