ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | SCHOLAE

Guru Ini Akui Tak Bisa Menahan Hasrat Seksual

02 Maret 2018
Guru  Ini  Akui Tak Bisa Menahan Hasrat Seksual
Ilustrasi: Kekerasan seksual pada anak. (Konvensi)
JAKARTA, SCHOLAE.CO - Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti mengatakan, menurut hasil pengawasan, oknum guru yang lakukan pelecehan pada siswa di Jawa Timur tidak bisa menahan hasrat seksual.

Untuk diketahui, pelaku berinisial E (49 Tahun) adalah seorang guru PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan saat ini sudah di non aktifkan dengan gaji hanya diberikan sebesar 50persen, adapun  status kepegawaian di mutasi ke Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang (bukan lagi guru di SMP tersebut).

Jika E sudah menjalani proses pengadilan dan terbukti bersalah serta dijatuhi hukuman penjara lebih dari dua tahun, maka kepegawaiannya akan di pecat dengan tidak hormat.
Kasus kekerasan seksual oknum guru SD di kota Surabaya berinisial MSH (28 tahun) terhadap 65 anak didiknya yang masih berusia 6-9 tahun dilakukan antara 2014-2017. Kekerasan seksual dilakukan oknum guru tersebut di dalam kelas,  kolam renang dan bus pariwisata,  bahkan disaksikan siswa lainnya dan tengah ditangani oleh Polda Jawa Timur.

"KPAI sempat bertemu dengan pelaku, dan pelaku menyatakan penyesalannya dan ingin sembuh. Pelaku mengaku tidak mampu menahan hasratnya selama ini dan merasa malu dengan kondisinya," kata Retno pada NNC, Kamis (1/3/2018).

Pelaku kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Polisi mengenakan pasal 82 UU Nomor 14 Tahun 2014 terhadap pelaku dengan hukuman 15 tahun penjara dan ditambah sepertiga hukuman maksimal karena pelaku masuk kategori orang terdekat korban.

KPAI juga mengapresiasi kinerja jajaran Polda Jawa Timur yang bertindak sigap dalam memproses kasus ini. Tersangka sudah ditahan sejak (22/2/2018) hanya sehari setelah 4
orangtua korban melapor ke kepolisian.

Kepolisian juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap anak korban serta konseling ke 42 korban dari 65 siswa. Hasil konseling menunjukkan 35 korban mengalami trauma berat dan akan dibantu pemulihannya oleh tim psikologi dari RS POLDA Jawa Timur hingga tuntas.

"Dalam peristiwa tersebut ada hak anak dan kewajiban kita dalam memberikan perlindungan yang optimal dari berbagai aspek sehingga kasus yang memprihatinkan seperti ini tidak terjadi lagi. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak didik. Guru seharusnya menjadi penolong dan pelindung bagi anak didiknya di sekolah bukan justru membahayakan anak-anak," kata Retno.

Dikenal Religius
"Kedua oknum guru pelaku kekerasan seksual dikenal sebagai guru yang rajin beribadah, rajin mendampingi para siswa kegiatan ekstrakurikuler, berperilaku santun, bahkan  kerap menjadi imam sholat di sekolahnya. Oleh karena itu, pimpinan sekolah maupun segenap guru dan karyawan di sekolahnya sama sekali tidak menaruh curiga pada perilaku menyimpang keduanya," kata Retno pada NNC, Kamis (1/3/2018).

Lebih lanjut Retno katakan, kasus kekerasan seksual oleh onum guru  terhadap anak didik terjadi di salah satu SMP di Jombang, dengan dalih melakukan ruqiyah seorang guru bahasa Indonesia tega melakukan pencabulan terhadap 25 siswinya di toilet sekolah dan di perkemahan saat kegiatan ekstrakurikuler. 

"Program rehabilitasi psikologis terhadap anak-anak korban hingga tuntas akan dilakukan oleh pemerintah kabupaten tanpa pembiayaan. Kepolisian mengaku sudah menyelesaikan pemeriksaan dan berkas sudah siap P21. Pelaku dikenakan pasal 82 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak junto pasal 65 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP,)" papar Retno.

Untuk diketahui, pelaku berinisial E (49 Tahun) adalah seorang guru PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan saat ini sudah di non aktifkan dengan gaji hanya diberikan sebesar 50 persen, adapun  status kepegawaian di mutasi ke Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang (bukan lagi guru di SMP tersebut). Jika E sudah menjalani proses pengadilan dan terbukti bersalah serta dijatuhi hukuman penjara lebih dari dua tahun, maka kepegawaiannya akan di pecat dengan tidak hormat.

"Kasus kekerasan seksual guru SD di kota Surabaya berinisial MSH (28 tahun) terhadap 65 anak didiknya yang masih berusia 6-9 tahun dilakukan antara 2014-2017.  Kekerasan seksual dilakukan oknum guru tersebut di dalam kelas,  kolam renang dan bus pariwisata,  bahkan disaksikan siswa lainnya.  Saat ini kasus ditangani oleh Polda Jawa Timur," tukas Retno.

Tags :

KOMENTAR