ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Ini Kisah Pemburu Beasiswa yang Gagal di LPDP

04 Maret 2018
Ini Kisah Pemburu Beasiswa yang Gagal di LPDP
Ilustrasi: Logo LPDP (Istimewa)
BUAT setiap orang yang mengklaim dirinya sebagai Scholarship Hunter, pasti khatam banget soal beasiswa bergengsi satu ini, beasiswa yang bikin saya kemarin harus rela memangkas jam tidur siang demi bisa menelurkan esai yang stand out from the crowd. Apalagi kalau bukan beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Beasiswa dari pemerintah Indonesia yang nominalnya bisa gila-gilaan ini juga sukses membuat saya jatuh – bangun – jatuh lagi – bangun lagi. Kenapa??

Pertama. Saya (dan ribuan orang lainnya) dibuat menunggu sekian bulan karena kepastian pembukaan pendaftaran tahun 2017 kemarin nggak kunjung datang. Iya, tahun ini LPDP menerapkan kebijakan baru yang lumayan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya pendaftaran dibuka 4 kali dalam setahun, tapi 2017 ini LPDP cuma ‘buka gerbang’ SATU KALI. Dan kepastian ini baru diumumkan sekitar bulan Februari.

Kedua. Adanya isu kalau mereka membatasi keberangkatan ke UK, bikin saya yang sudah punya LOA (Letter of Acceptance) dari 4 universitas di sana harus putar otak, atur strategi, dan siapkan kuda-kuda (apasih). Awalnya saya pede aja buat tetap mempertahankan tujuan UK ini karena memang jurusan yang saya mau banyak ditawarkan di sana. Tapi setelah bertapa di Gunung Kawi 7 hari 7 malam, saya putuskan maju tanpa LOA, alias ganti haluan ke Swedia.

Ketiga. Singkat cerita, saya pun berusaha memenuhi setiap persyaratan berkas yang diminta, termasuk esai yang direvisi habis-habisan sama salah satu awardee yang saya kenal. Dan selama menunggu kabar, saya kudu rela bolak-balik ke WC karena mules tiada henti! Akhirnya selang beberapa minggu setelah penutupan pendaftaran, saya kegirangan karena berdasarkan pengumuman, saya lolos seleksi administrasi!

Keempat. Nah, tahap selanjutnya adalah online assessment (OA). Tahap ini juga baru ada di 2017. Jadi OA ini semacam tes psikologi online. Nggak ada benar atau salah di tes ini, yang ada lulus atau nggak. Ini nih, tahap dimana saya harus jatuh, kesandung, njlungup, ke sekian kalinya, karena beasiswa tersohor ini. Jadi sudah bisa disimpulkan kan saya lolos OA atau nggak.

Kalau kebanyakan orang cuma haus cerita dari mereka yang berhasil lolos aja, di sini saya mau coba kasih perspektif yang sedikit berbeda. Karena menurut saya, motivasi bisa datang dari mana aja, termasuk dari mereka yang pernah gagal.

Satu hal yang saya lakukan pertama kali saat baca tulisan ‘Maaf, Anda Tidak Lolos Seleksi Online Assessment’ adalah pulang ke kos, cuci muka dan gosok gigi, lalu nangis sejadi-jadinya

Karena kadang, menangis adalah koentji via www.powerofpositivity.com

Oh nggak, saya nggak malu mengakui kalau saya memang cengeng dan hampir selalu nangis tiap kali gagal melakukan sesuatu. Karena seringnya, cuma dengan nangis saya bisa merasa super duper lega. Bahkan kadang ‘puk-puk’-an dari abang pacar justru nggak ngasih efek apapun (haha!).

Nah kamu yang kebetulan juga lagi gagal percintaan, pekerjaan, pendidikan, atau yang lain, nggak usah segan-segan kalau mau nangis. Nangis aja sampai puas. Jangan lupa siapkan tisu atau sapu tangan.

Tags :

KOMENTAR