ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Rektor IPB Sebut Era Disrupsi Ciptakan Lapangan Pekerjaan Baru

14 Maret 2018
Rektor IPB Sebut Era Disrupsi Ciptakan Lapangan Pekerjaan Baru
Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Arif Satria saat memberikan kuliah umum di Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) di Jakarta, Rabu (14/3/2018). (Dok. UAI)
JAKARTA, SCHOLAE.CO - Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Arif Satria mengatakan era disrupsi tidak hanya menghilangkan sejumlah lapangan pekerjaan namun juga menciptakan lapangan pekerjaan baru.

"Di Amerika Serikat, ada sekitar 3.500 lapangan pekerjaan yang hilang karena era disrupsi atau era teknologi ini. Namun era ini juga menciptakan sekitar 19.000 pekerjaan baru di sana," ujar Arif saat memberikan kuliah umum di Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) di Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Kunci agar bertahan pada era ini, kata Arif, adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi yang ada. Di Tanah Air sendiri, sejumlah pekerjaan hilang seperti penjaga pintu tol karena era disrupsi, namun menciptakan ribuan lapangan pekerjaan baru melalui aplikasi Gojek, Grab maupun Uber.

"Kalau tidak mampu beradaptasi, maka akan kehilangan. Tapi kalau mampu beradaptasi dan bisa memahami akan bisa bertahan." Arif memberi contoh bagaimana perusahaan telekomunikasi seperti Nokia lamban memahami perubahan itu. Nokia cenderung tidak peduli dengan kehadiran ponsel pintar berbasis Android karena pada saat itu penjualan
Nokia mencapai empat juta unit di seluruh dunia, sementara ponsel pintar berbasis Android baru 200.000 unit.

"Nokia berpikir ngapain ngurusin yang 200.000 ini. Nokia tidak sadar jika Android adalah inovasi yang paling disruptif," tegas Arif.

Era disrupsi terjadi karena didorong perubahan teknologi yang luar biasa cepat. Dalam perkuliahan, Arif juga mendorong agar perkuliahan harus berbasiskan pada data.

Menurut dia, kalau dulu siapa yang menguasai energi maka akan menguasai dunia, maka sekarang siapa yang menguasai data maka akan menguasai dunia.

"Bagaimana Jerman bisa mengalahkan Brazil 7-1 pada Piala Dunia 2014, yakni dengan menggunakan 'big data'. Tim Jerman mengumpulkan data dan mempelajari semua gerakan pemain Brazil, sehingga bisa mengalahkan Brazil pada semifinal," papar dia seperti dikutip dari Antara.

Dalam kesempatan tersebut, Arif juga menekankan pentingnya penggunaan data dan juga teknologi robotik dalam pengembangan pertanian yang presisi di Tanah Air.

"Kami berkomitmen IPB menjadi pelopor pertanian yang presisi di Indonesia," tegas dia.

Tags :

KOMENTAR