ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Mengatasi Dilema Edukasi Humanistik dan Instrumentalis

15 Maret 2018
Mengatasi Dilema Edukasi Humanistik dan Instrumentalis
Ilustrasi: Siswa SMK salah satu jurusan sedang melakukan praktek kerja. (Istimewa)
Oleh: M Sunyoto

KETIKA data tentang jutaan lulusan sekolah menengah kejuruan yang menganggur mencuat di media massa, spontan para pemerhati pendidikan menyatakan hasil amatannya dengan merujuk pada teori pendidikan bahwa kurikulum yang ada kurang berfokus pada kebutuhan pasar dan industri.

Begitu juga ketika media massa mengungkapkan kekejian siswa yang menganiaya guru secara fenomenal, para analis pendidikan segera menyatakan pandangan mereka bahwa dunia pendidikan kurang berfokus pada sistem pendidikan yang humanis untuk melahirkan pribadi berwatak luhur.

Spektrum pendidikan agaknya berkisar pada persoalan dikotomis di atas. Pernyataan klasik seputar praksis pendidikan menjadi jelas: apakah institusi pendidikan harus
memberikan aksentuasi pada humaniora untuk melahirkan lulusan yang berkarakter, berintegritas? Ataukah lembaga pendidikan perlu lebih memprioritaskan aspek instrumentalis sehingga dunia industri bisa segera menyerap lulusannya? 

Sesungguhnya, dalam praksis pendidikan di mana pun dua aspek itu dicoba untuk diimplementasikan secara simultan dan dalam bidang-bidang tertentu masing-masing aspek memperoleh penekanan lewat kurikulum yang diterapkan.

Dengan demikian, apa yang muncul di permukaan, di media massa sering kali tak mesti dibaca sebagai refleksi problem aktual dunia pendidikan. Apalagi jika kasus-kasus yang muncul ke permukaan itu bukan suatu gejala berkesinambungan dengan pola-pola yang ajek.

Mendidik manusia jelas perlu memperhatikan aspek humanis dan instrumentalis. Pendidikan bukan saja harus menghasilkan manusia yang bertanggung jawab dalam menapaki hidupnya, baik di ranah keluarga maupun sosial, tapi juga harus punya keterampilan atau kesanggupan memproduksi benda ataupun gagasan sebagai bekal hidupnya.

Dalam konteks ini, yang harus dijaga oleh penyelenggara pendidikan adalah memberikan rasio yang seimbang dalam menjalankan kurikulum pendidikan untuk mencetak lulusan yang diidealkan.

Mengacu pada dunia pendidikan liberal di negara-negara maju, proses pembentukan watak humanis pada siswa juga diserahkan kepada lembaga keagamaan dan pendidikan keluarga, yang tentu saja berlangsung mulai dari anak-anak berusia balita hingga dewasa.

Adab sopan-santun atau pendidikan etiket dan adab berbuat baik dan benar yang menyangkut pendidikan etika dilakukan baik lewat narasi maupun praktik hidup keseharian. Di komunitas keagamaan lah semua itu diinternalisasikan dalam diri anak atau remaja.

Dengan demikian, tugas institusi pendidikan formal di sekolah tak lagi banyak memberikan jatah waktu belajar untuk memperdalam perkara pembentukan watak itu, apalagi lewat pengajaran teoritis. Kalau toh hal itu dilakukan, penerapannya diimplementasikan secara integral dalam proses belajar. Larangan mencontek adalah bagian dari pendidikan integritas murid di sekolah. 

Sikap-sikap pendidik yang penuh kepedulian dan kasih sayang kepada anak didik selama berinteraksi di dalam kelas maupun di luar jam belajar sebenarnya sebentuk internalisasi nilai-nilai humanis, yang dampaknya jauh lebih signifikan dalam pembentukan watak seorang anak didik.

Ketika siswa mendapatan tempaan psikis yang penuh kasih di kala menapaki pendidikan jenjang dasar dan menengah, pendidikan vokasi atau kejuruan di jenjang menengah atas tak lagi banyak berurusan dengan pendidikan karakter lagi. Namun, tetap saja dalam proses belajar interaksi siswa dan guru harus berlangsung dalam derajat kemanusiaan yang tinggi.

Di sinilah terjadi perpaduan atau integrasi pendidikan humanis dan instrumentalis yang bisa mengantarkan lulusan sekolah menengah kejuruan menjadi pribadi yang berkarakter sekaligus terampil untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja.

Yang menjadi soal klasik di sekolah-sekolah kejuruan adalah: minimnya peranti kerja sebagai sarana belajar praktik. Rata-rata alat-alat praktik kerja di sekolah kejuruan adalah peranti manual yang sudah ketinggalan jauh dibandingkan dengan peranti kerja di industri-industri yang sudah memasuki tahap komputerisasi.

Maka tak mengherankan jika banyak lulusan sekolah menengah kejuruan yang tak memiliki keterampilan yang sepadan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja industri. Sementara itu untuk lulusan yang menempuh bidang studi keadministrasian atau kesekretariatan, lulusannya memang melebihi daya serap pasaran kerja.

Tampaknya tak mudah menemukan solusi atas masalah ini. Diperlukan dana besar untuk memutakhirkan peralatan untuk belajar praktik di sekolah menengah kejuruan. Penyumbang terbesar pengangguran lulusan sekolah kejuruan adalah lembaga-lembaga pendidikan menengah kejuruan swasta yang minim peralatan praktiknya.

Di era 60-an beberapa sekolah menengah kejuruan swasta paling dinilai berhasil adalah sekolah-sekolah yang didirikan oleh perusahaan atau industri yang akan menyerap lulusan sekolah bersangkutan. Dulu sebelum berubah menjadi sekolah menengah kejuruan, Sekolah Teknik Menengah (STM) Semen Gresik adalah sekolah favorit, yang mayoritas lulusannya menjadi karyawan pabrik penghasil semen itu.

Lokasi sekolah yang berdampingan dengan kawasan pabrik membuat siswa dengan leluasanya melakukan praktik kerja atau magang sebelum lulus. Jaminan terserapnya lulusan STM Gresik menjadikan sekolah itu sangat terpandang dan diminati oleh anak-anak cerdas dari kalangan kurang mampu, yang mendambakan anak-anak mereka segera memperoleh pekerjaan begitu menamatkan sekolah.

Sekali lagi, menjamurnya sekolah-sekolah menengah kejuruan swasta, yang tak dilengkapi dengan peralatan praktik kerja yang sesuai dengan tuntutan industri, merupakan salah satu biang kerok dari fenomena membengkaknya jumlah pengangguran dari lulusan sekolah meengah kejuruan itu.

Perlukah pemerintah menertibkan kembali sekolah-sekolah kejuruan yang tak memadai dalam menyediakan peralatan di bengkel kerja sebagai sarana mutlak yang harus dimiliki? Jawaban afirmatif atas pertanyaan ini sedikit banyak akan bisa mereduksi jumlah pengangguran sekolah menengah kejuruan di masa depan.

Penulis adalah Pemerhati Pendidikan. 

Tags :

KOMENTAR