ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | SCHOLAE

DR Jan Riberu, Tokoh Pendidikan yang Juga Politisi Senior dari Flores

17 Maret 2018
DR Jan Riberu, Tokoh Pendidikan yang Juga Politisi Senior dari Flores
DR Jan Riberu, Tokoh Pendidikan yang juga politisi senior dari Flores. (Istimewa)
DI USIA yang yang 86 tahun, pada tahun ini, Jan Riberu meluncurkan sebuah buku berjudul “Pergulatan Pemikiran Dr Jan Riberu: Pendidikan, Realasi Agama-Negara dan Pancasila”.

Buku yang diluncurkan di Jakarta pada Sabtu (27/1) ini berisi biografi singkat dan sejumlah artikel yang pernah ditulis Dr Jan selama dia masih aktif baik di dunia pendidikan maupun politik.

Nama lengkapnya, Joanes Riberu, dilahirkan di Nunukae,  Nagekeo, Flores, NTT, 27 Juni 1931.

Ia memulai pendidikan di Sekolah Desa tiga tahun di kampung Deru, Nagekeo. Memiliki keinginan sangat kuat untuk menjadi guru seperti ayahnya, ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Schakelschool di Ndao, Ende (1940). Ketika sekolah ini ditutup Jepang, ia pindah ke Vervolgschool (VVS) di Mataloko (1942); kemudian melanjutkan ke Seminari St. Johanes Berchmans Mataloko (1945-1951).

Pendidikan filsafat dan teologia yang mengantarnya ditahbiskan sebagai seorang imam atau pastor Katolik, dijalaninya di Seminari Tinggi Ledalero di Kabupaten Sikka (1952-1959).

Ia kemudian melanjutkan studi di Universitas Salesiana, Roma, Italia dan meraih gelar Licentiat, sama dengan S2 (1960-1963); dan kemudian meraih gelar Ph.D dengan predikat sangat istimewa  di universitas yang sama (1965).

Setelah meraih gelar Ph.D dari Universitas Salesiana, ia kembali dan mengajar di almamaternya Seminari Tinggi Ledalero (1965-1969). Selain di Ledalero, ia juga mengajar di IKIP Malang cabang Kupang di Ende. Tahun 1969, ia memutuskan berhenti sebagai seorang imam.

Sejak 1969 hingga pensiun di tahun 2012, suatu kurun waktu selama 43 tahun, ia mengarungi kehidupan di Jakarta dan menjalani peran penting di bidang pendidikan, organisasi keagamaan (Katolik) dan juga politik.

Di bidang pendidikan, ia pernah menjabat Pembantu Rektor, Rektor dan Dekan di beberapa Fakultas di Unika Atma Jaya Jakarta (1969-1987); dosen tetap Fakultas Sastra Universitas Indonesia; dosen tidak tetap Unika Atma Jaya Jakarta, IKIP Negeri Jakarta, UKI, Akademi Kateketik, Akademi Sekretari Tarakanita dan Pusat Pembinaan Mental (Pusbintal) ABRI; anggota pengurus Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Manajemen—YPPM (1978); aktif penuh di PPM sejak 1997; lalu menjadi Sekretaris Pengurus merangkap Administrator PPM (2006-2012).

Di organisasi keagamaan (Katolik), ia mulai terlibat aktif sejak 1974, ketika dipercaya menjadi Kepala Departemen Dokumentasi dan Penerangan (Dokpen) Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI). Ia praktis jadi Jubir MAWI yang tak tergantikan, merangkap Wakil Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) dan anggota Sekjen MAWI (1974-1986); Ketua Umum ISKA—Ikatan Sarjana Katolik (1974-1991); anggota Pimpinan Pusat  ICMICA—Cendekiawan Katolik Sedunia (1974-1982); anggota Pimpinan Pusat OIEC—Organisasi Pendidikan Katolik Internasional (1978-1982); penggagas sekaligus penggerak PNUKI – Pertemuan Nasional Umat Katolik Indonesia (1984).

Kiprah di bidang politik diawali dengan aktif di SOKSI – Serikat Organisasi Karyawan Swadiri (1986); menjadi anggota DPR/MPR dari Golongan Karya (1987-1997). Selama 10 tahun sebagai anggota DPR, ia menjadi juru bicara Komisi Pendidikan. Selain di Komisi Pendidikan, ia juga menjadi anggota kerjasama antarparlemen, baik dengan Parlemen Eropa, maupun dengan Parlemen ASEAN.

Dr. Jan Riberu sering diminta menjadi pembicara mengenai  berbagai topik permasalahan dalam seminar-seminar yang diselenggarkan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Beberapa topik yang disampaikannya dalam seminar, kemudian diterbitkan sebagai buku atau bagian dari buku di antaranya, Our Understanding of Social Justice  (seminar di Singapura, 1974);  Modified Emphasis Which Benefit Development, (seminar ASEAN di Jakarta, 1978); A National Identity in Process: Indonesian Experience (seminar di Den Haag, Belanda,1990);  Die Menschenrechte und die Pancasila-Lebensanschauung der Indonesier  (seminar di Bonn, Jerman,1991).

Luncurkan Buku
Tokoh pendidian asal NTT, Dr Jan Riberu meluncurkan buku  berjudul “Pergulatan Pemikiran Jan Riberu: Pendidikan, Relasi Agama-Negara dan Pancasila” di Jakarta, Sabtu (27/1/2018).

Buku setebal 424 halaman ini merupakan  gabungan dari biografi singkat Dr Jan Riberu dan pergulatan pemikirannya tentang pendidikan, pembinaan sumber daya manusia(SDM), Pancasila sebagai warisan budaya bangsa, dan pentingnya pendidikan di dalam keluarga.

Buku ini terdiri atas lima bagian. Bagian pertama, dengan judul ‘Pedagog Unggul dari Kaki Gunung Ebulobo’. Bagian ini memaparkan biografi singkat Dr Jan Riberu. Pria yang dijuluki sebagai ‘Pedagog Unggul Tanah Air’ oleh Menteri Pendidikan  tahun 1985-1993, Prof Fuad Hassan, sejak masa kecil bercita-cita menjadi guru seperi ayahnya. Ia kemudian masuk seminari dan ditabiskan menjadi imam Katolik pada tahun 1959. Kemudian, melanjutkan pendidikan di Universitas Salesian Roma dan meraih gelar S2 dan Doktor (1960-1965). 

Tahun 1969, ia mengundurkan diri dari imam dan kemudian berkiprah di bidang pendidikan dengan menjadi Rektor di Unibersitas Atma Jaya Jakarta dan mengajar di berbagai perguruan tinggi di Jakarta. Jan juga pernah menjadi Kepala Dokumentasi dan Penerangan Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI) atau sekarang KWI selama lebih dari 10 tahun sejak 1974. Jan juga mengabdi di PPM Manajmen dari 1978 hingga 2012.

Bagian kedua hingga kelima buku yang diterbitkan PT Grafika Mardi Yuana Bogor ini, berisi cermah dan tulisan-tulisan  Dr Jan Riberu yang tersebar di berbagai media cetak  sejak tahun 1970 sampai 2007.

Pada bagian kedua dengan judul ‘Sistem Pendidikan, Politik Kebijakan, Kurikulum dan Mutu Guru’, Jan Riberu meyoroti kasus korupsi dan tindakan anarkis sebagai bukti kemerosotan moral bangsa sebagai akibat dari gagalnya pendidikan dalam membina watak bangsa.

Pada bagian ketiga dengan judul ‘Relasi Agama-Negara dan Pancasila, Jan Riberu menyoroti  adanya kecenderungan ke arah negara agama (theokrasi).

Bagian keempat dengan judul ‘Era Globalisasi, Mutu SDM dan Jati Diri Bangsa’ meyajikan tulisan-tulisan bagaimana dunia pendidikan Indonesia harus mempersipakan SDM yang adal agar bisa bersaing dengan bangsa lain di era globalisasi ini.

Bagian kelima dengan judul ‘Pendidikan Keluarga dan Permasalahan Remaja” menyajikan tulisan kasih sayang sebagai landasan keberhasilan pendidikan dalam keluarga.

Peluncuran buku ini diisi dengan diskusi yang dihadiri sejumlah toloh nasional seperti Dr Cosmas Batubara, Dr Ignas Kleden dan Dr Yudi Latif.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir, dalam sambutan pada peluncuran buku ini dan dibacakan perwakilan Kementerian, menyamapaikan apresiasi atas terbitnya buku Jan Riberi ini.

Nasir mengatakan pemikiran yang disampaikan Dr Jan Riberu, sebagai disampaikan dalam bukunya, menjelaskan bahwa pendidikan Indonesia merupakan penciptaan identitas bangsa yang didasarkan  pada falsafah hidup bangsa yaitu Pancasila dan dibingkai dalam konteks multikulturalisme sebagai perwujudan keragaman Indonesia.

“Atas karya, pemikiran dan sumbangsihnya bagi Indonesia, saya sampaikan salut dan terima kasih kepada Dr Jan Riberu. Ke depan, Indonesia memerlukan lebih banyak lagi pemikir sekaligus penggagas, dan pelaksana pendidikan  yang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan pendidikan Indonesia,”ujarnya.


Tags :

KOMENTAR