ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Endah Yanuarti, Tidak Putus Asa Mengejar Beasiswa ke Australia

26 Maret 2018
Endah Yanuarti, Tidak Putus Asa Mengejar Beasiswa ke Australia
Endah Yanuarti di Curtin University (Perth)--(Istimewa)
MENDAPAT beasiswa untuk belajar ke luar negeri bukan hal yang gampang. Diperlukan tekad, persiapan, dan berbagai hal lain, seperti yang dialami oleh Endah Yanuarti, mahasiswa asal Indonesia yang sekarang sedang menempuh pendidikan doktoral di Curtin University di Perth (Australia Barat) setelah mendapat beasiswa Endeavour Awards.

Pernah dengar lagu dangdut “jatuh bangun aku mengejarmu”? Lagu yang populer ditahun 2000-an ini dan masih sering dinyanyikan sampai sekarang mirip dengan nasib saya berburu beasiswa.

Pengalaman saya yang jatuh bangun dalam memenuhi persyaratan belum lagi jatuh bangun ketika saya tinggal selangkah lagi menuju kepergian menuntut ilmu.

Diawali dengan keinginan untuk meneruskan menimba ilmu ketingkat yang lebih tinggi, berbekal pengalaman ‘pernah’ kuliah singkat selama 3 bulan di Australia saya bertekad untuk mencari beasiswa ke luar negeri.

Saya mulai dengan mengambil kursus dan tes IELTS yang berbuah manis, yaitu hasil yang sesuai dengan persyaratan PhD pada saat itu.

Saya mendaftar ke Curtin University of Technology (sekarang jadi Curtin University) dan mulus diterima dengan IELTS tersebut.

Beberapa kali saya dihubungi administrasi bagian International Student kapan akan segera 'commence" atau masuk perkuliahan yang saya jawab belum tahu kapan karena belum mendapatkan sponsor.

Pencarian sponsor inilah yang bikin jatuh bangun bagian pertama mengejarnya.

Dimulai dengan Australian Leadership Awards (ALA) yang saya incar. Kemudian mendapat informasi bahwa ada Endeavour Awards (EA) yang bisa juga dijajal karena saya sudah dapat LoA dari Curtin.

Setelah mengunduh aplikasi ALA, rupanya sudah tidak sempat saya memenuhi persyaratannya, karena batas waktunya sudah lewat.

Kemudian banting stir membuka informasi EA dan ternyata masih ada waktu yang cukup menurut saya. Agak kebangetan juga saya, terlalu banyak keinginan.

Sempat mengintip Chevening (UK) dan Fulbright (US) karena mendapat masukan dari teman untuk mempertimbangkan negara selain Australia.

Setelah mengintip aplikasinya, sempat bingung juga karena adanya perbedaan style bahasa dan aplikasi.

Karena itu saya berputar haluan lagi untuk mencari beasiswa Australia dan mengincar Australian Development Scholarship (ADS) yang cukup sering saya dengar.

Saya kirimkan berkas aplikasi saya ke kantor ADS/APS karena persyaratannya masih bisa saya penuhi dan batas pengumpulan aplikasinya lebih cepat ketimbang EA.

Kejatuhan saya yang pertama adalah ketika saya tidak bisa mengumpulkan aplikasi ke EA yang serba online karena kekurangan waktu.

Ada saja masalahnya, tiba-tiba kuota internet di rumah habis, coba pasang ke pesawat telepon juga sedang tidak bagus koneksinya. Akhirnya bela-belain ke kantor malam itu juga sampai hampir tengah malam, tetapi tidak terkejar waktunya (perbedaan waktu yang saya tidak sadari waktu itu).


Endah Yanuarti (dua dari kiri) bersama para penerima beasiswa Endeavour Awards lainnya di Curtin University. (Istimewa)

Anehnya, keinginan saya tetap menggebu dan optimis untuk melamar pada tahun berikutnya dengan berbekal bahan-bahan yang sudah ada di tahun sebelumnya.

O iya, aplikasi ADS saya ditolak dengan sukses dengan alasan kuota PhD hanya 10 persen dari keseluruhan kuota yang 90 persen diperuntukkan bagi mahasiswa Master.

Semangat saya di tahun 2011 cukup tinggi, aplikasi ALA saya kirim sendiri ke Jakarta tetapi aplikasi ADS tetap saya kirim via kantor pos.

Kemudian aplikasi EA saya kerjakan dengan seteliti mungkin, saya baca dan pahami baik-baik sampai semua yang sekiranya memang terkait dengan persyaratan saya scan dan saya kirimkan. Teringat juga saya harus mengejar professor saya sewaktu S2 untuk meminta rekomendasi, sampai menunggu beliau di salah satu hotel di Bandung selama berjam-jam karena beliau mengikuti kegiatan Kemendikbud.

Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan, karena semua aplikasi dapat saya submit semua. Tinggal berdoa semoga diberikan yang terbaik bagi saya oleh Tuhan.

Tuhan mendengar doa saya. Datanglah email dari admin ALA bahwa saya ter-short listed dari sekian ratus menjadi 36 kandidat untuk dipanggil wawancara.

Senang sekaligus gugup membuat saya bingung apa yang harus dipersiapkan padahal sudah jelas disurat tersebut apa-apa yang menjadi fokus wawancara.

Singkat cerita, saking gugupnya karena menjadi ‘korban’ pertama, saya merasa tidak yakin dengan hasil wawancara tersebut. Akhirnya saya pasrah, apapun yang terjadi saya sudah berusaha.

Dan benar saja, tidak lolos alias ditolak. Kemudian datanglah email dari EA. Berdebar-debar saya buka, voila sampai berkali-kali saya baca, hasilnya sama: “congratulation, you are one of the successful aplicants…” Ya Tuhan.. alhamdulillah..

Setelah saya ‘bangun’, dapat juga ‘jatuh’ bagian kedua. Saya baca kembali surat dari EA dengan teliti karena ada perincian biaya living allowance dan tuition fee.

Wah, saya kaget juga karena tuition fee antara yang diberikan EA dan yang diminta Curtin berbeda. Gap-nya cukup besar menurut saya, sekitar AUD$7000/semester yang memang tidak bisa saya penuhi apabila dari kantong sendiri.

Supervisor saya sudah berusaha meminta keringanan pada pihak universitas dan tidak ada tambahan dari pihak beasiswa.

Kemudian saya diminta mencari universitas yang biaya per semesternya lebih rendah dari Curtin.

Betapa sedihnya saya, serasa patah hati, beasiswa sudah ditangan tapi tidak bisa pergi. Kalau saya nekad, saya bayar pakai apa?

Karena sudah kadung alias terlanjur dapat beasiswa, tidak mungkin saya mengundurkan diri, sayangkan kalau tidak saya ambil.

Semangat saya tumbuh kembali. Saya browsing beberapa universitas seperti Monash University dan University of Western Australia (UWA) yang memang sebelum saya ke Curtin sudah saya coba hubungi tapi menolak saya.

Kali ini saya lebih berusaha memenuhi persyaratannya. University of Adelaide dan University of Queensland (UQ) juga saya jajal karena biaya per semesternya jauh lebih murah dari Curtin.

Saya kontak juga Australian National University (ANU) yang sampai sekarang tidak ada balasannya. Monash menolak karena saya tidak punya Degree of Distinction dan UWA tetap menolak saya dengan alasan semua professor sibuk.

UQ ada balasan dan aplikasi saya dalam proses assessment. Adelaide juga merespon dan mereka langsung meminta beberapa tambahan dokumen untuk memenuhi persyaratan.

Akhirnya, email dari Adelaide tiba. Saya baca baik-baik dan saya simpulkan bahwa saya diterima dengan syarat: harus mengikuti PEP (Programme of English Preparation) yaitu kursus dulu selama 20 minggu karena skor writing saya cuma 6.0 di IELTS (pihak universitas pasang standar 6.5) dengan penundaan beasiswa.

Jadi saya selama 20 minggu tinggal di Adelaide tanpa biaya hidup dan belum boleh langsung jadi mahasiswa?!? Wah..tambah pusing saya.

Kembali saya kontak UQ dan jawabannya tetap sama: masih dalam proses assessment. Putus asa, saya kontak Murdoch University dan Edith Cowan University (ECU). Pihak Murdoch telat membalas email saya, ECU malah tidak ada respon padahal profesornya itu teman dari dosen saya dulu.

Saya isi lagi aplikasi dari Murdoch dengan perasaan bingung sekaligus pasrah. Ya Allah..bagaimana sebenarnya nasib saya ini..seperti terombang ambing.. PHP kata anak jaman sekarang.

Memang Tuhan menguji saya sepertinya, apakah saya menyerah atau tidak mungkin menjadi nilai dimata-Nya. Saya ingat, bulan November tahun 2012, email dari case manager saya di EA masuk ke inbox.

Isi surat itu menyatakan saya bisa lanjut ke Curtin dengan penyetaraan biaya kuliah alias saya tidak perlu nombok. Sujud syukur saya panjatkan, dengan tekad yang bulat dan doa tentunya tidak ada yang tidak mungkin. Rejeki saya memang di Curtin tampaknya, tidak perlu jauh-jauh ke negara bagian Australia lainnya.

Tapi masih ada masalah ketiga yang saya hadapi. Saya lupa kalau IELTS itu batasnya 2 tahun (Juni 2010 – Juni 2012).

Ketika saya sudah siap ke Curtin, saya diingatkan bahwa IELTS saya sudah habis masa berlakunya, jadi saya harus mengulang kembali.

Wah, ternyata tidak semudah pertama kali. Saya sampai beberapa kali pindah tempat kursus IELTS karena merasa tidak ada peningkatan.

Saya nekad mengambil IELTS ketika saya ambil privat dengan tutor orang Amerika. Gagal. Kemampuan saya malah menurun.

Sedih, karena mengingat waktu, biaya privat dan tes yang cukup mahal. Berhenti dari privat, saya berniat ambil kursus singkat saja di IDP, 10 kali pertemuan dengan biaya yang cukup ekonomis.

Sialnya ketika saya booking via telpon, lupa menyebutkan nama dan diserobot orang kursi yang tinggal 1 lagi.

Menangislah saya, bingung harus kemana lagi sampai akhirnya sekretaris IDP memberikan 2 kartu nama tempat kursus IELTS dengan paket hemat.

Saya pilih yang pembayarannya dihitung per datang mengingat saya juga harus masuk kantor di siang hari.

Ketemu jodoh tampaknya, karena selama 7 kali pertemuan saya merasa sudah mampu mengikuti tes IELTS berikutnya. Akhirnya… kembali puji dan syukur saya panjatkan, lolos dengan hasil lebih dari yang saya harapkan.

Begitu mungkin rasanya ‘jatuh bangun aku mengejarmu’ sekaligus PHP yang saya alami dalam mendapatkan beasiswa luar negeri.

Sekarang saya jatuh bangun menyelesaikan Thesis karena beasiswa ini akan berakhir dalam waktu dekat.

Mendapatkan beasiswa bukanlah hal yang mudah. Jangankan beasiswa ke luar negeri, dalam negeri juga belum tentu bisa sukses diterima.

Beberapa tips:

Pertama, bulatkan tekad, siapkan mental baik fisik maupun finansial.

Kedua, jangan gampang menyerah, terus saja dicoba sampai batas kemampuan anda. Ketiga, tekun dan teliti dalam membaca dan memenuhi semua persyaratan.

Jangan malu bertanya, bisa konsultasi ke lembaga yang ditunjuk sebagai wakil dari negara pemberi beasiswa (saya sering datang ke IDP, gratis biaya konsultasi dan buku-buku universitas).

Keempat, bukalah cakrawala pandangan anda, lebarkan sayap dan jangan takut untuk mencoba. Terkadang kemampuan kita melampaui sugesti kita selama ini.

Endah Yanuarti, menempuh pendidikan PhD di Curtin University bidang Education. Berasal dari Bandung, bekerja di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat - lembaga di bawah naungan Kemendikbud, sebagai widyaiswara.

|Sumbangan Tulisan: Endah Yanuarti (australiaplus.com)|


Editor: Endah Yanuarti
KOMENTAR