ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Penguatan Pendidikan Sastra dalam Keluarga

16 April 2018
Penguatan Pendidikan Sastra dalam Keluarga
Hamidulloh Ibda, Ketua Program Studi Pendidikan Guru MI (PGMI) STAINU Temanggung. (Dok. Pribadi)
Oleh: Hamidulloh Ibda

DI ERA Revolusi Indonesia 4.0 ini, salah satu yang perlu dikuatkan adalah pendidikan sastra dalam keluarga untuk memajukan kebudayaan Indonesia. Keluarga sebagai tri sentra pendidikan pertama sebelum sekolah dan pendidikan masyarakat sangat urgen dan strategis mencetak generasi melek sastra. Semua itu, bisa diawali dengan penguatan pendidikan sastra agar memajukan kebudayaan Indonesia.

Melihat beberapa polemik kasus karya sastra belakangan ini, membuktikan bahwa manusia Indonesia masih belum literat dan melek sastra. Pertama, kasus ungkapan Indonesia bubar pada tahun 2030 oleh Prabowo Subianto lantaran mengutip novel. Kedua, polemik puisi “Ibu Indonesia” oleh Sukmawati Sukarno Putri. Ketiga, puisi Gus Mus bertajuk “Kau Ini Bagaimana” yang dibawakan Ganjar Pranowo dan berujung polemik. Keempat, ungkapan Rocky Gerung yang menyebut kitab suci itu fiksi.

Deretan polemik di atas jangan sampai terulang lagi. Artinya, untuk memajukan kebudayaan Indonesia salah satu solusinya adalah penguatan pendidikan sastra. Bisa dimulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sebab, bangsa yang besar adalah yang melek sastra dan berbudaya. Sumber Daya Manusia (SDM) kita tidak cukup hanya cerdas intelektual, namun harus diimbangi spiritual dan emosional. Salah satunya dengan melek sastra.

Penguatan Pendidikan Sastra
Penguatan pendidikan sastra tidaklah semudah membalik telapak tangan. Sebab, sangat sedikit orang yang mau belajar sastra dengan serius. Apalagi, domain sastra tidak hanya pada karya sastra, melainkan juga ilmu sastra. Lantaran banyak orang tidak terlalu paham tentang itu, banyak yang menilai belajar sastra itu susah, bias, njelimet, menilai bahasa sastra terlalu metafor dan bersayap.

Dalam penerapan pendidikan sastra tak melulu terjebak dalam formalitas. Sebab, terbukti banyaknya fakultas bahasa dan sastra lebih cenderung mencetak kritikus dan apresiator sastra. Fakultas bahasa dan sastra di negeri ini lebih konsen mencetak ilmuwan sastra daripada sastrawan. Jarang sekali kita temukan fakultas bahasa dan sastra bisa mencetak sastrawan.

Sementara sastrawan, kebanyakan lahir dari fakultas jalanan, dan universitas kehidupan. Mereka bisa menjadi sastrawan dengan produk cerpen, novel, puisi, gurindam, drama, seloka, fabel, dan lainnya. Semua itu lahir dari pengembaraan empirik di lapangan tanpa belajar di bangku kuliah. Sastrawan dan ilmuwan sastra memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, Indonesia membutuhkan keduanya untuk bisa memajukan kebudayaan.

Sudah saatnya pendidikan sastra dikuatkan sejak dini untuk mengeluarkan Indonesia dari belenggu kejumudan dan tafsir sastra yang dangal, permukaan, subjektif, serta tanpa logos. Ada beberapa formula bernas untuk menguatkan pendidikan sastra. 

Pertama, pendidikan dan pembelajaran sastra harusnya menyeluruh dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan perguruan tinggi. Menyeluruh di sini mulai dari konten, cakupan kurikulum, dan pemetaan antara materi bahasa dan sastra. Sebab, selama ini materi sastra hanya menjadi “tambahan” setelah materi Bahasa Indonesia. Padahal, bahasa dan sastra memiliki cakupan materi berbeda dan learning outcome (capaian pembelajarannya) sangat beda.

Kedua, pemisahan materi antara ilmu sastra dan karya satra. Harusnya, semua lembaga pendidikan mengajarkan anak-anak, pelajar, dan mahasiswa tidak hanya pada teori sastra saja. Namun, harus mengajarkan pembelajaran mengarang, menulis, membaca, bahkan mendeklamasikan. Kita lihat, saat ini budaya mengarang sangat lemah sekali pada kaum akademik kita. Maka sangat wajar ketika bangsa ini cenderung memiliki generasi yang gumunan, daya imajinasinya lemah, serta tidak bisa memetakan suatu masalah dari sudut pandang sastra.

Ketiga, penguatan “literasi baru” sebagai konsep yang dilahirkan Kemristek Dikti untuk menjawab tantangan era Revolusi Industri 4.0. Selama ini, lembaga pendidikan hanya fokus pada literasi lama (membaca, menulis, berhitung). Padahal, literasi baru sudah menekankan pada aspek data literation (literasi data), technology literation (literasi teknologi) dan human literation (literasi humanisme/SDM). 

Melalui literasi baru, sastra bisa diajarkan dengan menggunakan pendekatan data, teknologi, dan aspek humanisme. Sebab, orang yang melek sastra dipastikan selalu humanis, memiliki teknologi batin kuat, dan tidak mudah terprovokasi isu SARA, berita fake, hoax, hate speech, bahkan cyberbullying.

Keempat, mendesain “keluarga sastra” yang literat. Hal ini menjadi implementasi bahwa keluarga menjadi tri sentra pertama sebelum anak-anak mendapat pembelajaran sastra di sekolah formal. Maka budaya menulis, membaca, mendongeng, bahkan mendeklamasikan puisi, dan bermain drama harus dihidupkan dalam keluarga. Sebab, saat ini anak-anak lebih asyik main gadget daripada membaca, menulis, dan bermain drama.

Kelima, menerapkan program Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku) yang digagas Kemdikbud. Gernas Baku tidak hanya diterapkan dalam keluarga, namun juga di lembaga sekolah seperti PAUD, SD/MI bahkan sampai SMA/SMK/MA. Sebab, saat ini budaya membaca khususnya dalam keluarga sudah terkikis dengan budaya bermain gawai. Anak-anak yang seharusnya dekat dengan karya sastra dan karya ilmiah, namun sangat ironis jika tiap hari sejak bangun tidur sampai tidur lagi hanya bermain gawai.

Desain keluarga sastra ini harus diterapkan orang tua. Melalui pembangunan dan penguatan iklim sastra, anak-anak bisa berbahasa halus, berpikir jauh ke depan, dan bisa membaca zeitgeist (spirit zaman). Sebab, hanya generasi yang bisa menjawab spirit zaman yang bisa menjawab dan menguasai zaman. Mereka paham akan kecenderungan, dan keinginan zaman sehingga bisa memajukan kebudayaan di negeri sendiri. Sebab, sastra tidak akan jauh-jauh dari kebudayaan khas Nusantara.

Memajukan Kebudayaan
Ibarat laut, kebudayaan sangatlah luas. Jika ditelaah berdasarkan TAP MPRI RI tahun 1998, kebudayaan sebagai perwujudan cipta, karya, dan karas bangsa Indonesia, salah satunya adalah karya sastra. Karya sastra di sini menjadi bentuk seni, budaya, dan bisa menjadi aspek penguatan nasionalisme karena mengutamakan keindahan bahasa dalam karya tersebut.

Jika kita lihat para sastrawan kita, baik yang sudah wafat atau yang masih hidup, mereka menggerakkan dan memajukan budaya Nusantara ini melalui karya sastra yang mereka buat. Katakan saja seperti Marah Rusli, WS Rendra, Gus Mus, D. Zawawi Imron, Sitor Situmorang, Widji Thukul, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, Emna Ainun Nadjib, Fatin Hamama, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Asrizal Nur, dan lainnya, semua adalah pendobrak kemajuan kebudayaan kita. Juga para kritikus atau apresiator sekaliber HB. Jassin, Maman S Mahyana, Abdul Hadi WM, dan lainnya juga pahlawan kemajuan kebudayaan bangsa kita lewat sastra.

Maka dari itu, cita-cita mereka harus diteruskan dan negeri ini tidak boleh defisit sastrawan atau kritikus sastra. Secara spesifik, adanya keluarga sastra dan penguatan pendidikan sastra di lembaga pendidikan adalah untuk mencetak sastrawan, kritikus dan apresiator sastra. Namun secara luas, menjadikan bangsa ini melek sastra dan memajukan kebudayaannya. Sebab, bangsa yang besar selalu identik dengan melek aksara, sastra, berbahasa santun, literat, dan juga berbudaya. Jika tidak dimulai sekarang, lalu kapan lagi?

Sastra memang bukan segalanya. Namun, segelanya bisa berawal dari sana!

Penulis adalah: Ketua Program Studi Pendidikan Guru MI (PGMI) STAINU Temanggung,  Penulis Buku “Senandung Keluarga Sastra” (2018)



Editor: Hamidulloh Ibda
KOMENTAR