ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | SCHOLAE

Cerita Arip Muttaqien, Generasi Pertama Penerima Beasiawa LPDP

14 Mei 2018
Cerita Arip Muttaqien, Generasi Pertama Penerima Beasiawa LPDP
Arip Muttaqien adalah satu dari 60 orang generasi pertama penerima beasiwa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). (Media Keuangan Kemenkeu)
ARIP MUTTAQIEN adalah satu dari 60 orang generasi pertama penerima beasiwa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Pada 2013, Arip, biasa dia disapa berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studi.

Hingga saat ini, Arip masih merampungkan pendidikan doktoral bidang Innovation, Economics and Governance for Development (IEGD) di Maastricht University. Maastricht adalah kota di ujung selatan Belanda, tepatnya di perbatasan Belanda, Belgia, dan Jerman. 

Arip mendaftar program beasiswa LPDP ketika lembaga itu belum lama berdiri. Lewat beasiswa LPDP, dia berniat memperoleh kualitas pendidikan yang lebih baik dan jejaring yang lebih luas. 

“Niat saya juga ingin mencari pengalaman hidup melalui interaksi dengan orangorang dari beragam bangsa dan penduduk lokal di Belanda,” kata Arip.

Skema pendanaan beasiswa yang berasal dari pemerintah menjadi alasan utama ketertarikan Arip mendaftar beasiswa LPDP. 

“Saya melihat beasiswa LPDP berpeluang hadir dengan skema lebih baik ke depan. Beasiswa pemerintah yang ada pada saat itu, terkesan selalu terlambat pencairan dananya, sehingga mahasiswa harus nombok dulu,” ujar lulusan Program Master dari Toulouse School of Economics tahun 2010 dengan beasiswa dari Pemerintah Perancis itu. 

Kehadiran LPDP memiliki daya tarik karena berbentuk Badan Layanan Umum. “Saya merasa ada yang berbeda antara LPDP dengan beasiswa-beasiswa dari pemerintah sebelumnya,” katanya lagi. 

Ketika mengikuti proses seleksi LPDP, Arip telah mengantongi Letter of Acceptance (LoA) dari kampus pilihannya. Selanjutnya, Arip mencari lembaga sponsor untuk membiayai studinya.

Ketika seorang kawan memberikan informasi soal LPDP, dia tertarik mencoba. “Saya mendaftar ketika LPDP belum terlalu gencar melakukan publikasi dan dikenal orang,” kata Arip yang menamatkan studi S1 Jurusan Teknik Industri, Universitas Indonesia (UI) pada 2007 melalui sejumlah program beasiswa. 

Sebagai generasi pertama, Arip masih ingat betul proses seleksi LPDP empat tahun silam. Pengumpulan aplikasi pendaftaran dan dokumen administrasi secara online di lakukan pada akhir Maret 2013. Sebulan berselang, Arip dipanggil untuk mengikuti wawancara. 

“Saya datang ke gedung LPDP di kawasan Lapangan Banteng. Di sana saya melihat beberapa interview dilaksanakan lewat Skype karena peserta seleksi masih tinggal di luar negeri. Sekarang, proses wawancara sudah tidak bisa melalui aplikasi itu,” ujar Runner Up Mahasiswa Berprestasi UI 2007 itu. Setelah dinyatakan lulus seleksi,

Arip diwajibkan mengikuti Persiapan Keberangkatan (PK). Angkatan pertama PK berjumlah 60 orang untuk tujuan studi di dalam dan luar negeri. Saat itu, tiket peserta untuk mengikuti PK masih dibiayai LPDP dengan skema reimburse, termasuk peserta yang tinggal di luar negeri.

Studi Komparasi
Disertasi yang diusung Arip meneliti perbedaan distribusi kesejahteraan (welfare distribution) di antara tiga negara Asia, yaitu China, India, dan Indonesia. Faktor penyebab perbedaan dilihat dari struktur demografi, pasar tenaga kerja, penghasilan, tingkat pengeluaran rumah tangga, serta kekayaan yang diukur dari jumlah aset. 

“Saya mengambil dua obyek utama, yaitu inequality dan polarization,” ujar Arip. 

Khusus untuk polarization, faktor ini menjadi hal baru karena penelitian tidak hanya melihat dari sisi income atau expenditure polarization, tetapi juga socio-economic polarization. Dengan memasukkan faktor socio-economic polarization, interaksi antara variable ethnicity dan income atau expenditure juga dipertimbangkan. 

Arip tertarik mengambil topik disertasi tersebut sejak akhir tahun pertama menempuh program doktoral. “Bagi saya, topik ini menarik karena membandingkan kesejahteraan di tiga negara besar Asia yang masih dalam level negara berkembang dengan total populasi sekitar 40 persen dunia,” ujar Arip. 

Menurutnya, ada banyak isu menarik yang bisa diteliti. Misalnya ketika berbicara tentang global inequality and poverty di dunia, strategi utamanya dapat berfokus pada Tiongkok, India, dan Indonesia.

“Kalau problem di tiga negara tersebut bisa lebih cepat diselesaikan, akan berpengaruh signifikan pada upaya penyelesaian masalah terkait secara global,” kata Ari.

Tantangan
Selama menjalani studi di Belanda, tantangan terbesar secara akademis menurut Arip adalah academic writing

“Saya melihat pendidikan bachelor di Indonesia tidak semuanya mengajarkan gaya menulis akademis yang benar,” ujarnya. 

Saat menulis skripsi, Arip mencontohkan, masih ditemukan skripsi dengan halaman terlalu banyak, penggunaan gaya bahasa basa-basi, dan pengaturan struktur yang terlalu kaku. 

“Di sini, jumlah halaman bukan yang utama. Yang penting adalah bagaimana content dan concise yang bisa laku untuk publikasi,” kata Coordinator Awardee LPDP Belanda itu lagi. 

Tantangan lain dari studi di luar negeri adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan ritme dan gaya kerja masyarakat setempat.

“Orang Belanda cenderung efisien dan tidak mau lembur. Gaya kerja seperti ini sih enak ya,” ujar Arip seraya tergelak. 

Yang juga menjadi tantangan hidup di luar negeri adalah soal makanan. Arip harus selalu mengecek kandungan bahan makanan sebelum membeli apapun. Di samping itu, kemudahan memperoleh makanan di Indonesia, misalnya dengan ojek atau mengandalkan penjual makanan keliling, tak bisa didapatkan di Belanda. 

“Masak sendiri jadi jalan keluarnya,” ujar Arip.

Harapan
Belajar bersama sejumlah mahasiswa dari beragam negara, Arip mengaku kualitas mahasiswa Indonesia cukup bersaing. “Secara kemampuan berbahasa, kita tidak kalah. Yang harus dilatih adalah kemampuan adu argumentasi dan lebih berani di dalam kelas,” kata Arip. 

Lebih jauh, pendidikan di Indonesia masih cenderung mengajarkan siswa kurang aktif di kelas. Arip berharap mental ini dapat diubah. 

Inferiority complex adalah penyakit warisan yang harus dibuang jauh-jauh,” ujarnya menambahkan. 

Selain berkuliah, Arip sempat aktif dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda. Meskipun memiliki grup komunikasi awardee LPDP sendiri, Arip mengatakan bahwa para awardee tidak bersikap eksklusif. Mereka tetap membaur dengan komunitas masyarakat Indonesia yang ada di sana. Arip juga aktif dalam kegiatan pengajian. 

Sang istri bahkan ikut mengajar mengaji untuk anak-anak Indonesia. Arip berharap studinya dapat selesai tepat waktu. Saat kembali ke Indonesia, dia ingin memberi sumbangsih kepada masyarakat. 

“Sumbangsih utama adalah pengalaman dari Belanda yang dapat dibawa ke Indonesia. Misalnya, pembelajaran tentang sistem kesehatan dan tax-subsidy yang dijalankan di Belanda,” kata dia. 

Secara keilmuan, Arip ingin berkontribusi pada pengembangan bidang ekonomi. Terutama melalui monitoring serta evaluasi proyek-proyek pembangunan di Indonesia yang terkait dengan pengurangan kemiskinan dan pembangunan infrastruktur.

Sumber: Media Keuangan Kemenkeu

Tags :

KOMENTAR