ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Pembelajaran untuk Mewujudkan Janji Pendidikan

16 Mei 2018
Pembelajaran untuk Mewujudkan Janji Pendidikan
Anwar Holil, pegiat pendidikan sedang menempuh program S3 Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya. (Istimewa)
Oleh: Anwar Holil 

PENDIDIKAN merupakan faktor penting untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Pendidikan adalah hak asasi manusia yang berhak dimiliki setiap anak. Banyak negara telah membuat kemajuan besar dalam upaya mereka membawa anak-anak ke sekolah. 

Memberikan pendidikan yang berkualitas untuk  setiap anak, keluarga dan komunitas, membuat mereka memiliki kesempatan untuk masa depan yang lebih baik. Saat ini dunia juga telah membuat kemajuan dibandingkan beberapa tahun yang lalu, sekarang lebih banyak anak-anak dan anak muda bersekolah. 

Namun, publikasi buku World Development Report (WDR) 2018: Learning to Realize Education’s Promise, menemukan bahwa tanpa pembelajaran, pendidikan akan gagal memenuhi janjinya untuk menghapus kemiskinan dan menciptakan kesempatan dan kesejahteraan bersama bagi semua.
Buku laporan setebal 216 halaman ini ditulis oleh para peneliti dan staf Bank Dunia yang melakukan kegiatannya di berbagai negara dengan dukungan dari banyak lembaga donor. Buku ini menunjukkan bahwa sekolah tidak sama dengan belajar. 

Sekolah tanpa belajar bukan hanya kegiatan yang sia-sia, tetapi juga merupakan ketidakadilan yang besar. Seperti yang ditunjukkan dalam buku laporan tersebut, enam dari sepuluh anak-anak dan remaja di seluruh dunia tidak mempelajari keterampilan dasar literasi dan numerasi, meskipun mereka benar-benar pergi ke sekolah.

Pada bagian pertama buku laporan ini memaparkan tentang Sekolah, Pembelajaran, dan Janji  Pendidikan. Sebagaimana diketahui bahwa pendidikan merupakan pusat untuk
membuka kemampuan manusia. Pendidikan meningkatkan sumber daya manusia, produktivitas, pendapatan, kelayakan kerja, dan pertumbuhan ekonomi. 

Pendidikan juga membuat orang lebih sehat dan memberi mereka kendali lebih besar atas hidup mereka. Dan itu menghasilkan kepercayaan, meningkatkan modal sosial, dan menciptakan lembaga-lembaga yang mempromosikan inklusi dan kemakmuran bersama (halaman 38).

Hanya saja sekolah tidak sama dengan belajar. Sekolah adalah waktu yang dihabiskan siswa di ruang kelas, sedangkan belajar adalah hasilnya atau manfaat yang siswa ambil dari sekolah. 

Perbedaan ini sangat penting: di seluruh dunia, banyak siswa hanya belajar sedikit. Seperti yang ditunjukkan dari hasil studi tentang kemampuan literasi yang dilakukan Kaffenberger dan Pritchett (2017), mereka menemukan 6 dari 10 negara berkembang yang dinilai, termasuk Indonesia, hanya separuh atau kurang yang tamat SD dapat membaca (halaman 45).

Penelitian tentang manfaat pendidikan telah mulai mencerminkan perbedaan antara sekolah dan pembelajaran. Di masa lalu, sebagian besar penelitian empiris menyamakan pendidikan dengan sekolah. Tetapi karena fokus pada pembelajaran telah berkembang, beberapa penelitian telah mengeksplorasi efek dari keterampilan yang diperoleh siswa dari bersekolah.

Literatur tentang manfaat pembelajaran juga masih terus berkembang. Literatur penelitian yang muncul menjelaskan bahwa jika para peneliti peduli tentang manfaat pendidikan, mereka harus fokus pada apakah siswa belajar, bukan hanya pada seberapa baik sekolah dilengkapi atau bahkan berapa lama siswa berada di sekolah. Bagian kedua buku laporan
ini mengulas tentang krisis pembelajaran. 

Ada tiga dimensi dari terjadinya krisis pembelajaran. Dimensi pertama adalah hasil belajar yang buruk itu sendiri. Pembelajaran yang tidak terjadi membuat siswa tidak belajar di sekolah sehingga membuat hasil belajar menjadi buruk. 

Dimensi kedua adalah penyebab langsungnya, seperti anak-anak tidak siap untuk belajar, guru sering kekurangan keterampilan atau motivasi untuk mengajar secara efektif, input-input pendidikan sering gagal menjangkau ruang kelas atau memengaruhi pembelajaran, serta manajemen dan tata kelola yang buruk sering merusak kualitas sekolah. 

Dimensi ketiga dari krisis adalah penyebab sistemik yang lebih dalam, misalnya ancaman pemberontakan, jumlah siswa yang terlalu banyak di kelas, atau guru sering kekurangan keterampilan yang dibutuhkan dan rendahnya motivasi mengajar.

Selama 50 tahun terakhir, pertumbuhan sekolah telah berkembang secara dramatis di sebagian besar negara berpenghasilan rendah dan menengah. Sebagian besar anak-anak telah memiliki akses ke pendidikan dasar. Pada tahun 1970, angka partisipasi kasar SD adalah 68 persen di Afrika Sub-Sahara dan 47 persen di Asia Selatan. 

Pada tahun 2010, di kedua wilayah itu meningkat di atas 100 persen. Angka-angka ini mencerminkan kemajuan yang dibuat di hampir semua negara (halaman 58). Hanya saja, walaupun bersekolah banyak dari mereka hanya sedikit belajar. 

Di Afrika Selatan, 27 persen anak usia 12 tahun terdaftar di kelas 6 SD tetapi buta huruf secara fungsional (Hungi dkk, 2010). Data lainnya menunjukkan sebagian besar siswa kelas 6 di Afrika Barat dan Tengah tidak cukup kompeten dalam membaca atau matematika (WDR, 2018:72).

Di bagian ketiga, buku ini mengulas tentang Inovasi dan Bukti untuk Pembelajaran. Mengidentifikasi kesenjangan antara bukti dan praktik pembelajaran dapat membantu dalam menetapkan prioritas untuk tindakan perbaikan (halaman 108). 

Ada empat hal yang diulas pada bagian ini, yaitu:
(1)   Tidak ada pembelajaran tanpa pembelajar yang siap dan termotivasi. Belajar tergantung pada siswa yang siap, hadir, dan termotivasi.
(2)   Keterampilan dan motivasi guru sama-sama penting. Agar siswa belajar, guru harus mengajar secara efektif, tetapi banyak sistem pendidikan tidak terlalu memperhatikan apa yang diketahui guru atau apa yang mereka lakukan di kelas. Berfokus pada keterampilan dan motivasi guru dapat membuahkan hasil
(3)   Perkuat interaksi guru-siswa. Investasi dalam meningkatkan input sekolah, manajemen, dan tata kelola sering tidak dipandu oleh seberapa baik mereka meningkatkan hubungan guru-siswa. Siswa dan guru memiliki hubungan pembelajaran yang lebih produktif ketika didukung oleh bahan pembelajaran dan input lainnya.
(4)   Bangun pondasi pembelajaran dengan mengaitkan pelatihan keterampilan dengan pekerjaan.  Setelah meninggalkan sekolah - entah sebagai putus sekolah atau sebagai lulusan - banyak anak muda yang mendapatkan pekerjaan dengan prospek terbatas.

Tetapi pelatihan menawarkan jalan keluar. Untuk itu program pelatihan ketrampilan kerja yang sukses dapat direplikasi di sekolah. Misalnya dengan menggabungkan ruang kelas dengan pembelajaran di tempat kerja.

Pada bagian ini juga diulas bahwa teknologi telah mengubah dunia kerja: Apa artinya itu untuk pembelajaran? Kemampuan untuk menggunakan teknologi adalah salah satu cara bagi siswa untuk memanfaatkan kemajuan teknologi. 

Namun, siswa yang memasuki dunia kerja membutuhkan pemikiran kritis dan keterampilan sosioemosional yang lebih baik.  Sistem pendidikan mulai belajar cara menumbuhkan keterampilan sosioemosional pada siswa. 

Upaya terbaru di Peru dan Turki telah menghasilkan tidak hanya dalam kemampuan sosioemosional yang lebih baik tetapi juga dalam kinerja akademik yang lebih baik. Tidak cukup untuk melatih siswa untuk menggunakan komputer. 

Untuk menghadapi dunia yang berubah dengan cepat, mereka harus berinteraksi secara efektif dengan orang lain, berpikir kreatif, dan memecahkan masalah (halaman 165).

Di bagian keempat, ulasan terahir dari buku ini, mengupas bagaimana membuat sistem bekerja untuk pembelajaran dalam skala besar. Untuk memenuhi janjinya, pendidikan memerlukan kebijakan dan proses fasilitasi yang lebih baik, baik di dalam maupun di luar sistem pendidikan. 

Sistem adalah entitas yang kompleks, dengan banyak komponen, dan mencapai perubahan tingkat sistem memerlukan berbagai komponen ini agar saling koheren satu sama lain dan selaras dengan pembelajaran siswa. 

Misalnya, jika kurikulum baru menekankan keterampilan berpikir tingkat tinggi tetapi pelatihan guru dan penilaian siswa tidak menyesuaikan juga, siswa tidak akan memperoleh keterampilan itu; atau jika tingkat dan struktur pembiayaan tidak terkait dengan peran, tanggung jawab, dan akuntabilitas untuk pembelajaran, maka pembelajaran juga tidak akan membaik.

Buku ini juga memberikan gambaran langkah-langkah konkret dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran bagi sistem yang tertinggal. Caranya dimulai dengan membuat keselarasan antar berbagai institusi yang membuat tujuan dan tanggung jawab dalam seluruh sistem pendidikan konsisten satu sama lain. 



Misalnya dengan fokus pada empat bidang utama, yaitu (1) belanja publik yang efektif dan berwawasan keadilan; (2) persiapan siswa untuk pembelajaran; (3) seleksi dan dukungan bagi guru; serta (4) pemanfaatan asesmen secara sistematis untuk sebagai masukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Laporan Bank Dunia ini memberikan banyak perspektif baru untuk mewujudkan janji pendidikan. Misalnya, penilaian terbaru dari pembelajaran siswa di sekolah telah menyoroti bahwa banyak anak dan remaja meninggalkan sekolah yang tidak dilengkapi dengan keterampilan yang mereka butuhkan untuk hidup dan bekerja, dan sering bahkan tanpa keaksaraan paling mendasar dan keterampilan berhitung. 

Defisit dalam pembelajaran dan keterampilan sangat besar di antara kelompok-kelompok termiskin dan kelompok yang memiliki keterbatasan lainnya, dengan hasil bahwa sekolah memperburuk ketidakadilan sosial. 

World Development Report (WDR) menyajikan bukti ini, bersama dengan bukti tentang penyebab langsung krisis pembelajaran - seperti kesiapan yang buruk untuk belajar, kekurangan dalam persiapan guru, masukan yang tidak pernah mencapai kelas, dan sistem pendidikan dan pelatihan yang tidak terhubung dengan baik ke masyarakat.

Ada tiga rekomendasi tindakan kebijakan untuk menangani krisis pendidikan. Pertama, mengases pembelajaran secara terukur dan serius.  Gunakan hasilnya untuk memandu tindakan. Prioritas harus diberikan untuk mendorong penilaian kelas. Begitu bagian itu ada, negara dapat mengembangkan penilaian nasional berbasis sampel dan berbiaya rendah. 
Tidak setiap siswa perlu diuji dalam penilaian nasional. Penilaian berbasis sampel dapat secara akurat mengukur kinerja sistem. Sistem penilaian harus menguji siswa ketika tindakan perbaikan yang efektif tetap dimungkinkan.

Kedua, Bertindak berdasarkan pada bukti untuk membuat sekolah bekerja untuk siswa, tidak lagi hanya mengenai hal-hal administratif. Sekolah-sekolah hebat membangun hubungan guru-siswa yang kuat di ruang kelas. Ketika perkembangan ilmu telah maju dan para guru telah berinovasi, pengetahuan tentang bagaimana siswa belajar paling efektif telah sangat berkembang.

Ketiga, menyelaraskan para aktor sekolah untuk membuat sistem bekerja untuk belajar. Inovasi dalam ruang kelas tidak akan banyak berpengaruh jika hambatan teknis dan politik di tingkat sistem sekolah mencegah fokus pada pembelajaran.

Yang terakhir, dari buku ini kita bisa belajar bahwa guru yang terlatih dan termotivasi profesional sangat penting untuk memastikan pembelajaran yang efektif. Guru dan siswa harus memiliki akses ke pengetahuan. 

Perpustakaan perlu tersedia bagi siswa dan guru di seluruh dunia. Inovasi adalah kunci untuk meningkatkan kondisi pembelajaran. Pendidikan bukan hanya kunci untuk pembangunan berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang. Pendidikan memberi semua anak kesempatan untuk membentuk masa depan mereka sendiri.

*) Penulis adalah pegiat pendidikan sedang menempuh program S3 Teknologi Pendidikan  di Universitas Negeri Surabaya.

[Resensi atas judul buku: World Development Report 2018 - Learning to Realize Education’s Promise - Penulis: Peneliti dan Staff The World Bank yang Dipimpin oleh Deon Filmer dan Halsey Rogers. Penerbit: The World Bank. Jumlah halaman: 216]






Tags :

KOMENTAR