ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Kisah-kisah Lucu Pak Andi

20 Mei 2018
Kisah-kisah Lucu Pak Andi
Prof Asep Saefuddin, Rektor Universitas Al Azhar, Guru Besar Statistika FMIPA IPB. (Istimewa)
Oleh: Prof Asep Saefuddin

Kita, astagian, angkatan 13 masuk IPB tahun 1976 sudah pasti kenal Pak Andi. Pertama karena pada surat undangan masuk IPB saat itu ditandatangani oleh Pak Andi sebagai Ketua PPMB (Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru IPB).

Kedua, Pak Andi adalah penulis produktif tentang pendidikan yang namanya sering muncul di berbagai koran dan majalah nasional, termasuk majalah anak-anak Si Kuncung. Ketiga, Pak Andi adalah dosen matematika TPB IPB. Keempat, Pak Andi adalah penulis buku ajar Matematika Mutakhir sebagai buku teks mahasiswa TPB IPB.

Awalnya kita tentu melihat sosok Pak Andi sebagai dosen yang serius tanpa canda. Karena dari gaya bicara Beliau yang irit, sepotong-sepotong, baru bisa dimengerti bila sudah direnungkan cukup lama, termasuk bila sedang melucu.

Umumnya mahasiswa TPB (Tingkat Persiapan Bersama) baru bisa tertawa setelah satu jam cerita disampaikan. Biasanya kami bahas dulu apa maksudnya, lalu tertawa. Tetapi, lama-lama umumnya mahasiswa paham dan cepat mengerti.

Ini ada beberapa cerita lucu.

Karena nomor induk pendaftar awal yakni IP 13004, saya masuk kelompok I. Dosen matematika Kel I adalah Pak Andi sendiri. Hari pertama kami masuk, Pak Andi masuk ruang kuliah Kimia bersama asistennya, Kang Didi (kalau tidak salah angkatan 9).

Di depan kelas, Pak Andi bicara kepada Kang Didi, sesuatu hal yang saya sama sekali tidak terbayang bicara apa. Setelah Pak Andi bicara, Kang Didi langsung keluar dan beberapa menit kemudian Kang Didi membawa kapur dan penghapus papan tulis.

Karena saya penasaran, seusai kuliah, saya bertanya ke Kang Didi, apa yang diminta Pak Andi tadi di awal kuliah. Jawab Kang Didi “Di tolong ambilkan beberapa kapur dan penghapusnya yang ada di ruang saya di meja sebelah kiri”.

Saya sedikit tersenyum sambil mengingat-ngingat ‘omongan’ Pak Andi yang terdengar sama saya ada kata-kata ‘khruang, kapurkh, kikhri’.

Untungnya, bila Pak Andi menerangkan matematika selalu menuliskan kata-kata yang diucapkannya. Pola menerangkannya relatif runtun, sistematik, dan pelan-pelan. Sehingga saya dan teman-teman paham apa yang disampaikan.

Tahun 1997, saya ikut kelas Pak Andi tentang Pengantar ke Filsafat Sains. Sebelum kuliah dimulai, Beliau bercerita tentang pentingnya mempelajari ilmu pengetahuan. Kisahnya dalam bentuk cerita lucu yang perlu dipikirkan. Begini.

Di Rancamaya ada seorang haji yang punya pohon durian. Di pohon itu ada tiga durian yang akan matang pohon secara berturut-turut. Pak Haji sudah berangan-angan akan menikmati durian matang pohon selama tiga hari.

Di hari pertama Pak Haji akan memetik durian matang pohon yang pertama, ternyata sudah diambil orang. Pak Haji tentu kesel sama pencuri yang tidak tahu diri itu. Pikirnya mungkin pencuri tidak tahu bahwa mencuri itu adalah dosa.

Maka pada durian yang akan matang pohon di hari kedua, dia pasang karton Manila bertuliskan “Hai pencuri, tahukah kamu bahwa mencuri itu perbuatan dosa!!!!???. Dosa itu akan dibalas dengan neraka yang panas dan pedih!!!”. Pak Haji tentu yakin setelah membacanya, pencuri akan sadar dan tidak mungkin mencuri lagi. Karena mencuri adalah dosa dan neraka bagiannya. Akhirnya Pak Haji tenang dan bisa istirahat, sambil membayangkan besok hari akan menikmati durian matang pohon.

Esok harinya, Pak Haji ke kebun untuk memetik durian matang pohon tahap dua. Dilalahnya, durian inipun raib. Dicuri. Pak Haji merasa heran ada orang melakukan perbuatan dosa yang bakal mengantarkan masuk neraka. Tapi, Pak Haji berpikir mungkin si pencuri itu tidak tahu bahwa Tuhan Maha Tahu. Sehingga walaupun dosa, tapi kalau tidak ada yang tahu termasuk Tuhan, maka pencuri tetap berani memetik durian yang bukan haknya.

Untuk mengamankan durian ketiga, Pak Haji menambahkan tulisan lagi. ‘Hai pencuri, tahukah kamu bahwa Tuhan Maha Tahu,sekecil apapun perbuatan dosamu, Tuhan bakal tahu!!!. Pak Haji, merasa yakin bahwa tulisan itu mujarab, sehingga tidak mungkin pencuri berani mengambil durian matang pohon yang ketiga. Pak Haji tidur nyenyak dan siap-siap untuk menikmati durian matang pohon.

Esok harinya, Pak Haji ke kebun. Durian raib. Tinggal karton Manila yang di bawah tulisan Pak Haji itu oleh pencuri ditambahkan kata-kata “Pak Haji, saya tahu Tuhan memang Maha Tahu, tapi tidak pernah memberi tahu!!!”. Pak Haji terbongong…..hehe. 

Setelah Pak Andi menceritakan kisah Pak Haji Rancamaya dengan tiga durian matang pohon yang ditutup dengan statemen pencuri “Tuhan memang Maha Tahu, Tapi Tidak Pernah Memberi Tahu”, lalu Pak Andi menegaskan di sinilah pentingnya ilmu pengetahuan.

Filsafat Sains yang cukup berat itu beliau terangkan dalam bentuk kisah dan cerita yang cukup menarik, walaupun berat. Di dalamnya mengandung makna ayat-ayat kauliah-kauniah, deduktif-induktif, realism,idealism, empirisism, dan banyak lagi termasuk “Kuhnian paradigm on scientific revolution”. Tentu di sini tidak akan bercerita yang berat-berat, tetapi yang lucu-lucu. Walaupun sering yang lucu pun perlu perenungan untuk tertawa.

Kisah Kerajaan di Sebuah Desa
Ada sebuah kerajaan di sebuah desa entahdimana dengan Raja yang banyak selir. Memang Raja ini termasuk ganteng dengan kulit kuning dan hidung mancung. Banyak perempuan-perempuan yang juga bekerja di situ, sebagai juru masak, bersih-bersih, dan lain-lain. Tidak sedikit para pembantu kerajaan itu yang akhirnya jadi selir. Tentunya banyak keturunan raja baik dari permaisuri ataupun selir.

Suatu waktu Raja berkeliling Desa untuk lihat-lihat masyarakatnya. Di suatu kampung Raja bertemu dengan seorang anak berkulit kuning dan hidung mancung. Raja pikir ini mungkin ada keturunan Raja. Lalu Raja menyapa anak itu menanyakan ‘Nak, ibumu pernah kerja di Kerajaan?’. Anak itu menjawab “Tidak pernah, Tuan. Tapi bapak saya yang pernah kerja di Kerajaan”.

Silakan teman-teman pikirkan dari cerita itu. Hanya mereka yang pernah ambil pelajaran Genetika yang langsung bisa tertawa….

[Tulisan ini dibuat atas permintaan Panitia HBH Angkatan 13 Astaga IPB untuk dibukukan. Sementara saya tuangkan sambil ngabuburit].

Penulis adalah Mahasiswa IPB 1976-1980, A13004, sekarang, Rektor Universitas Al Azhar, Guru Besar Statistika FMIPA IPB.




Editor: Prof Asep Saefuddin
KOMENTAR