ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Gagasan untuk Menyemai Kemampuan Siswa dalam Pemecahan Masalah dan Keterampilan Berkolaborasi

24 Mei 2018
Gagasan untuk Menyemai Kemampuan Siswa dalam Pemecahan Masalah dan Keterampilan Berkolaborasi
Pembelajaran yang melatihkan keterampilan pemecahan masalah dan kolaboratif dapat secara efektif membangun karakter siswa. (Istimewa)
Oleh: Anwar Holil
SITUASI dan kondisi yang terjadi pada saat ini, baik yang positif maupun negatif seperti prestasi dan korupsi tidak lepas dari adanya peran kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran memiliki peran penting dalam pembentukan karakter bangsa saat ini dan masa depan. Hanya saja kegiatan pembelajaran yang terjadi di sekolah dan perguruan tinggi dalam membantuk karakter masih belum dilakukan dengan optimal. Buktinya adalah masih banyak masalah karakter yang dihadapi bangsa ini dan banyaknya pengangguran usia produktif walaupun lowongan pekerjaan selalu terbuka. 

Gasperz seperti dikutip Mustaji (2013) mencatat bahwa lulusan perguruan tinggi kurang memiliki keterampilan pemecahan masalah. Para lulusan lebih banyak memahami teori daripada memiliki kemampuan memecahkan masalah berdasarkan konsep ilmiah. Banyak juga yang motivasi belajarnya hanya untuk lulus ujian dibanding mempelajari cara belajar yang efektif untuk memecahkan masalah yang kompleks. Lalu bagaimana untuk memperbaikinya?

Merancang Pembelajaran Memecahkan Masalah dan Kolaboratif
Pada paparannya pengukuhan guru besarnya, Mustaji mendorong perlunya merancang kegiatan yang diarahkan kepada proses berpikir siswa agar mampu memperbaiki ”karakter” masyarakat bangsa ini menjadi lebih “berkarakter”. 

Caranya yaitu dengan menyemai kemampuan pemecahan masalah dan keterampilan berkolaborasi yang dilatihkan dalam pembelajaran. Kegiatan pembelajaran perlu didesain agar siswa secara optimal mampu memecahkan masalah kehidupan dan bekerja secara kolaboratif di tengah-tengah masyarakat.

Aku menang-kamu menang adalah inti dari kolaborasi. Kolaborasi dapat mengembangkan kemampuan menghadapi tantangan, kepemimpinan, dan merespons situas secara adaptif yang diperlukan dalam kehidupan di masyarakat maupun di dunia kerja. 

Keampuhan kerja kolaboratif sudah dibuktikan Federal Express dan perusahaan Boeing ketika melakukan restrukturisasi perusahaannya (Alexander dan Stone dalam Mustaji, 2013). Setelah menerapkan kerja kolaboratif Federal Express dapat meningkatkan 40% produktivitas perusahaannya, dan bahkan Boeing mendongkrak proses produksinya mencapai 50% dari sebelumnya.

Untuk itu model desain pembelajaran yang lebih menekankan kemampuan memecahkan masalah dan proses-proses kerja yang mendorong kegiatan kolaboratif amatlah penting. Model pembelajaran yang diusulkan adalah model pembelajaran berbasis konstruktivistik. Dalam kancah teori pembelajaran dikenal berbagai paradigma pembelajaran, mulai dari behavioristik, kognivsitik, dan konstruktivistik. 

Pandangan behavioristik menempatkan transfer dan penguasaan isi atau materi pembelajaran sebagai fokus utamanya. Sedangkan kognivistik berfokus pada penataan isi atau materi pembelajaran untuk mendorong pemahaman yang bermakna. Sementara konstruktivistik menempatkan siswa sebagai pusat dan subyek belajar.

Mengajak Siswa Menentukan Pola Kerja Kolaboratif
Banyak pola yang bisa dilakukan dalam proses pembelajaran kolaboratif. Siswa juga bisa diajak untuk menentukan pola kerja kolaboratif yang akan mereka lakukan. Umumnya polanya dibagi tiga jenis. Pertama, urutan pembahasan masalah dan pencarian informasi dengan urutan bolak-balik atau bisa sekali tuntas. Kedua penugasan siswa dalam tim dapat dilakukan berdasar minat, rotasi atau spesialisasi. Ketiga, jumlah anggota yang terlibat dalam pencarian informasi dibuat perindividu, berpasangan, atau lebih dari dua orang. 

Pembentukan tim juga perlu mempertimbangkan tingkat pengetahuan, latar belakang, dan pengalaman yang berbeda. Perbedaan tersebut akan membawa dampak positif dalam proses kerja kolaboratif siswa, misalnya (1) setiap individu akan membawa kekuatan bagi timnya, (2) setiap anggota tim bertanggungjawab ada kekuatan mereka, (3) anggota tim yang tidak nyaman dengan mayoritas harus didukung untuk memberi masukan, (4) anggota berkomitmen untuk mencapai tujuan bersama.

Langkah-Langkah Umum untuk Menyemai Kemampuan Pemecahan Masalah
Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru secara umum untuk menyemai kemampuan siswa dalam melakukan pengenalan dan pemecahan masalah yaitu:
(1)   Pendefinisian masalah. Guru memberikan permasalahan dalam tim belajar yang memungkinkan mereka melakukan berbagai aktivitas belajar.
(2)   Pengajuan masalah ke tim. Beberapa masalah ditampilkan dengan harapan siswa mampu memilih masalah yang akan dipecahkan
(3)   Pengkajian istilah dan konsep yang asing. Tim belajar memulai belajar dengan mengidentifikasi istilah dan konsep yang tidak bisa dibagi beberapa atau semua anggota.
(4)   Pengembangan hipotesis berdasar pengetahuan awal atas masalah yang dipilih secara kolaboratif. Siswa bekerja sama untuk mengembangkan sejumlah hipotesis yang menjelaskan situasi masalah.
(5)   Pemilihan/penentuan sumber informasi dan data masalah untuk mengecek hipotesisnya. Siswa memperoleh informasi dengan berbagai cara, misalnya wawancara, mengkaji data yang tersedia di perpustakaan, melakukan eksprimen, dan sebagainya.
(6)   Pengumpulan dan investigasi data/informasi. Kegiatan ini bisa dilakukan setiap minggu atau dalam waktu yang “tidak terjadwal” antar pertemuan untuk mengumpulkan informasi dan melakukan studi independen.
(7)   Pembahasan dan analisis hasil investigasi. Setelah anggota tim menyelesaikan riset atau investigasi, pengetahuan yang diperoleh didiskusikan dan diperdebatkan.
(8)   Penyajian hasil karya. Berdasar semua kegiatan yang telah dilakukan, siswa dapat menyusun hasil karyanya dalam berbagai bentuk, seperti laporan tertulis, video, model dalam wujud fisik, atau sajian multi media.
(9)   Refleksi, konstruksi, dan integrasi pengetahuan ke dalam struktur kognitif  baru. Ini adalah langkah terakhir yaitu berupa merefleksikan materi dan proses pembelajaran yang telah berlangsung sehingga dapat diintegrasikan ke dalam beberapa pengetahuan dan keterampilan siswa.

Langkah-langkah kegiatan pembelajaran tersebut, dapat menjadi panduan bila guru ingin menyemai kemampuan siswa mengenali masalah lalu memecahkan masalah dengan memanfaatkan kerja kolaboratif dengan potensi-potensi yang dimiliki individu siswa dalam tim. Kegiatan pembelajaran pada hakekatnya adalah memecahkan masalah dan memberi perubahan positif, bukan menjadi sumber masalah dan beban bangsa ini. 

[Catatan dari Pengukuhan Guru Besar Ilmu Desain Pembelajaran Prof. Dr. Mustaji]`

Penulis adalah Dosen PGSD Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA)  sedang Menempuh Studi S3 Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

Tags :

KOMENTAR