ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Irwandi Jaswir, Profesor 'Halal' Peraih Raja Faisal Prize yang Harumkan Indonesia

30 Mei 2018
Irwandi Jaswir, Profesor 'Halal' Peraih Raja Faisal Prize yang Harumkan Indonesia
Profesor Irwandi Jaswir, pakar bioteknologi yang berkarir di Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM), Kuala Lumpur berhasil memenangkan Raja Faisal International Prize 2018 di Saudi Arabia dalam kategori pelayanan Islam. (Antaranews)
INDONESIA patut berbangga memiliki seorang Profesor Irwandi Jaswir, pakar bioteknologi yang berkarir di Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM), Kuala Lumpur.

Berpuluh-puluh tahun bekerja di negara jiran, Malaysia, tak pernah sekalipun ia melupakan Tanah Airnya. Bahkan ia mengharumkan nama Indonesia dengan penghargaan King Faisal International Prize 2018 untuk kategori Pelayanan Kepada Islam atau "service to Islam" pada awal 2018. Sebuah penghargaan bergengsi dunia yang disebut setingkat Nobel.

Namanya bersanding dengan ilmuwan ternama dunia. Terdapat lima kategori dalam penghargaan itu. Pada tahun ini, untuk kategori Kajian Islam diraih Profesor Bashar Awad dari Yordania, kategori Bahasa Arab dan Kesusasteraan diraih Profesor Chokri Mabkhout dari Tunisia, kategori Pengobatan diraih Profesor James P Allison dari Amerika Serikat, dan kategori Matematika diraih Profesor Sir John M Ball dari Inggris.

Irwandi juga merupakan orang Indonesia kedua yang menerima penghargaan tersebut, setelah mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir.

Setelah menamatkan sarjana di bidang Teknologi Pangan dan Nutrisi dari Institut Pertanian Bogor pada 1993, ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister dan Doktoral pada bidang Ilmu Pangan dan Bioteknologi di Universitas Putra Malaysia.

Meski sudah menetap di Malaysia sejak 1994, Irwandi mengaku masih memegang paspor Indonesia. Bahkan dengan bangga, ia mengatakan pada saat menerima penghargaan yang datang adalah Dubes Indonesia untuk Arab Saudi.

"Untungnya penghargaan ini tidak melihat institusi peraih penghargaan tetapi negaranya," kata lelaki kelahiran Medan, 20 Desember 1970 tersebut.

Prestasi profesor "halal" tersebut juga tak diragukan. Sejumlah prestasi telah ditorehkan Irwandi. Tercatat, dia telah memenangkan lebih dari 20 penghargaan internasional. Mulai dari peneliti terbaik IIUM pada 2004. Medali Perak pada "16th International Invention Innovation Industrial Design & Technology Exhibition" (ITEX) di Kuala Lumpur pada 2005.

Medali Perak pada Anugerah Saintis Muda Asia Pasifik 2009 di Bangkok, Thailand. Dosen Terbaik di International Islamic University Malaysia (IIUM) pada 2010.Irwandi juga mendapat penghargaan Habibie Award XV pada 2013, dan masih banyak lagi.

Ia juga telah mempublikasikan risetnya ke dalam 120 jurnal internasional, 250 karya ilmiah pada presentasi internasional, 30 buku, dan lebih dari 30 proyek penelitian. Total sitasi atau kutipannya pada Scopus mencapai 711 dengan indeks H nya ( indeks yang mengukur produktivitas maupun dampak dari karya yang diterbitkan-red) yakni 16.

Irwandi juga membuat lima hak cipta yang dipatenkan. Tiga dari jumlah tersebut sudah dikomersilkan seperti E-Nose, alat pendeteksi kehalalan yang bisa dibawa kemanapun pergi. Bentuknya seperti pulpen. Alat tersebut dapat mendeteksi kandungan etanol dengan mencelupkannya pada minuman.

Temuan lainnya yakni antikanker dari rumput laut serta saat ini sedang mengembangkan gelatin halal dari sisik ikan, setelah sebelumnya sukses mengembangkan gelatin dari tulang unta.

"Kami juga mengembangkan alat pendeteksi lemak babi," kata dia.

Dilirik Negara Nonmuslim


Dalam satu dekade terakhir, industri halal dunia terus berkembang pesat dan diperkirakan nilainya mencapai tiga triliun dolar Amerika Serikat per tahun.

"Sayangnya justru yang melirik potensi ini, justru negara-negara nonmuslim. Pendapatan paling tinggi yang diraih dari industri halal ini justru dipegang oleh Thailand," ujar Irwandi Jaswir,dalam seminar mengenai sains halal yang diselenggarakan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) dalam rangkaian Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Bandung, Jawa Barat, 3 Mei hingga 6 Mei.

Penghasil produk halal dunia juga dipegang oleh Australia dan Selandia Baru. Bahkan produsen ayam halal diraih oleh Brazil. Sedangkan Indonesia dengan jumlah Muslim terbesar di dunia menempati peringkat 11 dunia.

Koordinator Riset di Pusat Halal Industri Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM), Kuala Lumpur , itu menambahkan halal atau haram bukan hanya soal makanan dan minuman saja tapi juga wisata, rumah sakit halal hingga pelabuhan halal. Penyumbang terbesar dalam industri halal ada pada kosmetik dan obat-obatan.

"Korea Selatan melalui budaya KPop berhasil mempengaruhi dunia. Saat ini ada sekitar 2.000 perusahaan kosmetik di dunia dan Korsel berhasil meraih pasar 23 persen dunia. Sekarang mereka berlomba-lomba mengejar sertifikasi halal dan itu didukung Pemerintah Korea Selatan. Jadi kalau ke Seoul, banyak toko kosmetik halal," papar dia sebagaimana dilaporkan Antara.

Jepang dalam menyambut Olimpiade 2020, juga melirik industri halal. Bahkan jika kita ke Jepang, di Bandara Narita sudah ada surau atau mushala. Jepang, kata Irwandi, beralasan sepertiga dari tamunya pada saat Olimpiade 2020 nanti adalah Muslim. Oleh karena itu, Jepang mempersiapkan diri.

"Industri halal ini bukan milik umat Islam saja. Saking semangatnya, Korea dengan industri halal, terkadang justru tidak logis. Ada delegasi Korea datang ke kami, membawa kotak. Biasanya kotak itu hadiah berisi ginseng. Tapi ini bukan, isinya ternyata tanah. Jadi ada dua provinsi di Korea itu yang ingin fokus pada pertanian halal, jadi mereka membawa sampel tanah untuk diuji kehalalannya," cerita Irwandi sembari tersenyum.

Dua provinsi di Korea Selatan itu memastikan bagaimana menjadikan tanah itu halal, karena tidak ada babi yang melintas dan sebagainya. Irwandi menjawab bahwa tanah pada dasarnya halal, jadi tidak perlu ada sertifikasi halal.

Irwandi menyebut ada beberapa alasan mengapa industri halal berkembang pesat yakni jumlah Muslim yang mencapai dua miliar jiwa di dunia, kemampuan ekonomi umat Islam yang meningkat, dan adanya negara-negara nonmuslim namun memiliki jumlah umat Muslim yang banyak seperti India dan Tiongkok.

"Indonesia bisa menjadi pusat halal dunia, karena potensinya yang luar biasa. Namun hal itu ditentukan oleh kebijakan pemerintah ke depan, saran saya jangan hanya fokus pada sertifikasi tetapi pada industri halalnya itu sendiri," saran Irwandi.

Raih Raja Faisal Prize
Irwandi berhasil memenangkan Raja Faisal International Prize 2018 di Saudi Arabia dalam kategori pelayanan Islam.

”Saya tidak menyangka mendapatkan hadiah ini," ujar Wakil Direktur The International Institute for Halal Risearch and Training IIUM. 

Sekretariat Jenderal Raja Faisal International Prize mengumumkan pemenang dalam sebuah upacara yang diadakan dihadapan Ketua Yayasan Raja Faishal, Pangeran Khalid Al-Faisal, emir Makkah, penasihat Kustodian Dua Masjid Suci dan pejabat lainnya di Aula Sultan Prince of Al-Faisaliah Centre di Riyadh.

Irwandi menerima pengumuman melalui e-mail yang ditandatangani Ketua Dewan King Faisal International Prize, Khalid Al-Faisal dan diberitahu oleh mitra riset-nya di Saudi Arabia yang sempat menyaksikan pengumuman tersebut melalui televisi.

"Alhamdulillah karena kontribusi saya yang sangat kecil dianggap berarti oleh pihak luar. Semoga tetap bermanfaat untuk umat manusia secara keseluruhan," ujar alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut.

Dia mengatakan semua dekan dan Komite Manajemen Universitas (KUM) IIUM terdiri Rektor dan Wakil Rektor telah mengucapkan selamat atas prestasi yang diraih dirinya melalui grup whatsapp.

"Kami masuk nominasi pada 2017. Wakil Rektor IIUM Bidang Riset dan Inovasi telah mengirimkan formulir dan paper yang dilengkapi dengan bukti-buktinya ke Panitia King Faisal International Prize. Semua ada lima kategori saya kategori `service of Islam`," katanya.

Irwandi mengatakan dirinya merupakan orang kedua Indonesia yang memenangkan penghargaan tersebut setelah sekitar 1980-an Perdana Menteri, Muhammad Natsir, memenangkan penghargaan serupa untuk kategori yang sama.Menurut Irwandi dirinya dan keluarganya bakal diundang ke Saudi Arabia untuk menerima hadiah tersebut dua bulan mendatang.

Sementara itu berdasarkan laporan Saudi Gazette yang menerima hadiah serupa selain Irwandi adalah Prof. Bashar Awad dari Yordania terpilih sebagai pemenang untuk studi Islam, Prof. Chokri Mabkhout dari Tunisia mengantongi hadiah dalam bahasa Arab dan sastra.

Anggota panitia seleksi, ilmuwan terkemuka, tokoh budaya dan media juga hadir dalam acara tersebut. Hadiah terdiri dari sertifikat kaligrafi tulisan tangan yang meringkas karya pemenang, sebuah peringatan 24 karat, medali emas 200 gram dan uang hadiah sebesar 200.000 dollar Amerika Serikat.

Prof Irwandi Jaswir, seorang ilmuwan terkenal dalam ilmu halal, telah dipilih untuk mendapatkan hadiah yang didambakan ini sebagai pengakuan atas layanan dan kontribusinya yang luar biasa kepada Islam dan Muslim dalam ilmu halal.

Komite Hadiah menyoroti kontribusinya dalam pembentukan dan pengembangan "Ilmu Halal" melalui berbagai publikasi dan studi penelitian.

Panitia juga mempertimbangkan karyanya dalam mengembangkan metode baru untuk menganalisis zat yang digunakan dalam pembuatan "alternatif makanan halal", serta prosedur praktis untuk memproduksi gelatin halal dari berbagai sumber halal (non-babi), seperti unta dan ikan.

"Komite tersebut juga mencatat bahwa kolaborasi Prof. Jaswir dengan ilmuwan lain mengembangkan metode baru untuk deteksi cepat zat non-halal dalam makanan, kosmetik dan barang konsumsi lainnya yang digunakan oleh umat Islam. Contoh dari metode tersebut adalah `portable electronic nose` yang mendeteksi dalam beberapa detik adanya alkohol dan lemak babi (lemak yang berasal dari babi) pada makanan dan minuman," katanya.

Irfandi lahir pada 20 Desember 1970 di Medan, Sumatera Utara. Dia memperoleh gelar sarjana di bidang Teknologi Pangan dan Gizi Manusia pada tahun 1993 dari Universitas Pertanian Bogor (IPB) di Indonesia, Master of Science dalam Ilmu Pangan dan Bioteknologi pada tahun 1996, serta PhD di bidang Kimia Pangan dan Biokimia pada tahun 2000 dari Universiti Putra di Malaysia seperti dilansir dari laman antaranews.


Tags :

KOMENTAR