ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Tiga Siswa Dikeluarkan dan Ortu Dipenjarakan, Tomas Minta Kepala SMAN Io Kufeu Dipindahkan

10 Juni 2018
Tiga Siswa Dikeluarkan dan Ortu Dipenjarakan, Tomas Minta Kepala SMAN Io Kufeu Dipindahkan
Blasius Kiik (baca koran) dan Wendelina Un (duduk berbaju hijau muda), dua orangtua siswa SMAN Io Kufeu yang dikeluarkan Kepsek, saat ini sedang menjalani hukuman penjara di PN Atambua. (Arahkita/Cyriakus Kiik)
BETUN,  SCHOLAE.CO - Kepala SMA Negeri Io Kufeu Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengeluarkan tiga siswanya. Ke-3 siswa itu adalah Gregorius Fios (Kelas II),  Jon Robintus Bouk (Kelas III) dan Juventus Molo (Kelas I).  

Sebagai aksi protes terhadap tindakan kepala sekolah, orangtua (ortu) mendatangi pihak sekolah secara beramai-ramai. Dalam aksi itu, ortu para siswa yang dikeluarkan itu diduga keras melakukan penghinaan dengan cara memaki kepala sekolah dan melakukan pengancaman menggunakan parang untuk membunuhnya.

“Anak-anak itu saya keluarkan dan tidak proses hukum. Yang saya proses hukum adalah orangtua mereka. Sudah ada putusan pengadilan untuk mereka yang berkekuatan hukum tetap. Tetapi, masih ada lagi. Saya belum diam karena ada orang di belakang orangtua dan warga yang melakukan demo di sekolah ini. Saya sudah tahu orangnya karena ada buktinya berupa foto saat sekolah disegel”, begitu Kepala SMAN Io Kufeu Marinus Bouk dalam Rapat Klarifikasi di aula sekolah tersebut, Kamis (07/6/2018).

Rapat Klarifikasi ini dimediasi Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (PKPO) Kabupaten Malaka Petrus Bria Seran. Hadir pada kesempatan itu Kepala Seksi (Kasie) SMK/PKDL UPT Pendidikan Wilayah II Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi NTT Ronny Thaal, para tokoh masyarakat (tomas) dan para kepala SMP, SDK/SDI se-Kecamatan Io Kufeu.

Hadir pula Camat Io Kufeu Laurensius Seran, Kepala Desa (Kades) Tunabesi Mikhael Bouk dan Kades Fatoin Nursisius Un Naifio.

Rapat klarifikasi ini didahului dengan laporan Kepala SMAN Io Kufeu tentang persoalan yang terjadi di sekolahnya.

Menurut Kepala Sekolah (Kepsek) Marinus, anak-anak itu dikeluarkan pada Agustus 2017. Sebab, mereka terlibat perkelahian dan pengeroyokan  terhadap Rico Nahak. Perbuatan mereka dinilainya melanggar aturan sekolah dan termasuk pelanggaran berat. 

Karena pelanggaran berat, kata Marinus, anak-anak itu dikeluarkannya, yakni Jon Robintus Bouk, Gregorius Fios dan Juventus Molo.  Tetapi, Marinus bilang dia tidak melaporkan mereka ke polisi untuk diproses hukum.

Sebaliknya, yang diproses hukum adalah ortu ketiga anak itu. Dari lima ortu yang diproses hukum, tiga di antaranya saat ini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) polisi. Sedangkan ortu yang perkaranya sudah mendapat kekuatan hukum tetap di Pengadilan Negeri Atambua adalah Blasius Kiik, ayah dari Jon Robintus Bouk. Ortu lainnya adalah Wendelina Un, ibu dari Juventus Molo.

Menurut Kepsek Marinus, ternyata masih ada kejadian-kejadian susulan. “Sekolah dilempar beberapa kali hingga akhir 2017. Bahkan, hingga pertengahan Mei 2018, masih ada kejadian yang sama. Sekolah dilempar dan kaca-kaca ruang guru bagian belakang dipukul sampai pecah”, katanya.

Dia menyatakan, seusai rapat klarifikasi itu, pihaknya akan membuat laporan polisi baru. Sebab, kejadian-kejadian susulan beberapa kali sejak akhir 2017 hingga pertengahan Mei 2018 sudah diketahui dalangnya.

“Kita sudah tahu dalangnya. Ada fotonya saat sekolah disegel”, tandas Marinus.

Tokoh mayarakat Desa Tunabesi-Malaka Marselius Kabosu (berdiri). (Arahkita/Cyriakus Kiik)

Berbagai alasan disampaikan Kepsek Marinus. Mendengar alasan-alasan itu, salah satu tokoh masyarakat (tomas) Desa Tunabesi Marselinus Kabosu mengaku sangat kesal. Dia sangat-sangat tidak menerima tindakan Kepsek Marinus mengeluarkan tiga anak warga kampung di sekeliling sekolah tersebut. Dia bahkan mengaku sangat sakit hati karena setelah anak-anak itu dikeluarkan, ortu mereka juga dipenjarakan.

Bagi Marselinus, masalah sekecil apa pun selalu dilaporkan ke polisi menunjukkan Kepsek Marinus tidak mampu memimpin sekolah tersebut.

“Sedikit-sedikit lapor polisi. Kalau seperti ini, ya, kepsek pindah saja. Dia tidak bisa jadi kepala sekolah di sini. Mungkin di tempat lain baru bisa”, tandas Marselinus.   

Marsel, begitu akrabnya, tindakan-tindakan kepsek seperti itu jelas membuat ortu dan warga sekitar marah. Bisa saja mereka melakukan aksi protes. "Tidak mungkin orangtua protes tanpa alasan”, kesal Marsel.

Terkait dikeluarkannya tiga anak dari sekolah itu, Marsel menilai Kepsek Marinus tidak bijak, merugikan banyak pihak. Antara lain anak itu sendiri, ortu, masyarakat Kecamatan Io Kufeu, pemerintah desa dan kecamatan setempat.

Tindakan Kepsek Marinus juga dinilai merusak citra sekolah. Karena itulah  Marsel meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi NTT berdasarkan kewenangannya dapat memindahkan Kepsek Marinus ke tempat lain.

Pius Dini, tokoh masyarakat Desa Tunabesi lainnya mengaku, pada awal mencuatnya kasus itu sudah ada usaha untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan melalui adat. Bahkan sempat mengadu ke DPRD untuk melihat kembali aturan keputusan dikeluarkannya tiga siswa itu. Tapi, tidak ada titik temu. Pihak Dewan beralasan Dinas PKPO Malaka  mendukung Kepsek Marinus mengeluarkan tiga siswanya.

"Tanah sekolah ini pemiliknya adalah anak-anak yang sekarang jadi korban.  Mau klarifikasi apa, anak sudah dikeluarkan dan orangtua sudah dipenjara. Klarifikasi ini terlambat," keluhnya.

Hal serupa disampaikan Petrus Olin, tokoh masyarakat Desa Tunmat. Dia mengatakan, selama ini ada gejolak di sekolah tidak disampaikan Kepsek Marinus kepada Kepala Desa dan Camat. Sebab, Kepsek mengaku tidak butuh kepala Kades dan Camat. “Kalau kepala desa dan camat tidak dibutuhkan, apalagi orangtua siswa, tokoh adat dan tokoh masyarakat yang ada. Padahal, sekolah ini kan didirikan orang-orang yang kurang berpendidikan”, kesalnya.

Baginya, sangat keliru keputusan kepala sekolah mengeluarkan tiga siswa tersebut. Kalau pun dikeluarkan harus sesuai dengan aturan sekolah yang berlaku yang mengacu pada aturan yang lebih tinggi dan tidak merugikan pihak mana pun terutama pihak siswa.

Kepala SMAN Io Kufeu Marinus Bouk mengaku terpaksa mengeluarkan tiga siswanya karena terlibat aksi penganiayaan dan pengeroyokan terhadap Rico Nahak, salah satu siswa di sekolah itu. Tiga siswa itu bahkan mengakui perbuatan mereka saat dipanggil untuk dimintai keterangan di kantor sekolah.,

Menurut Marinus, ada oknum provokator yang menghasut warga untuk melakukan aksi segel sekolah.

“Saat itu massa yang berjumlah sekira 20 orang melakukan aksi anarkis,  mengeluarkan kata-kata makian dan ancaman sehingga terpaksa saya menempuh jalur hukum.  Setelah demo mestinya diselesaikan secara adat tetapi usulan damai sudah terlambat”, tandas kepsek jebolan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang itu. 

Usai klarifikasi,  Camat Io Kuafeu Laurensius Seran  mengajak semua pihak untuk bekerjasama duduk berembuk mmenyelesaikan semua masalah yang terjadi di sekolah itu.

“Semua kita harus duduk bersama baik pihak sekolah, aparatur desa maupun tokoh masyarakat dan warga setempat untuk menyelesaikan masalah yang terjadi”, katanya.

Dirinya mengaku kesal lantaran persoalan yang menimpa sekolah membuat citra sekolah rusak dan meresahkan warga. Sudah begitu, semua pihak tidak duduk bersama untuk menyelesaikannya.


Kompleks SMA Negeri Io Kufeu. (Arahkita/Cyriakus Kiik)

Hal serupa disampaikan Kapolsek Sasitamean  Ipda Agustino de Araujo. Dia mengharapkan semua komponen di wilayah itu bekerjasama dan saling mendukung untuk memajukan sekolah tersebut. Sehingga, proses kegiatan belajar mengajar bisa berjalan lancar dan aman.

“Saya harap tidak boleh saling tuduh karena harus ada bukti. Kalau ada pengrusakan silahkan lapor polisi,“ pintanya.

Kadis PKPO Malaka  Petrus Bria Seran mengatakan, sebagai pemimpin tentunya ada tantangan tetapi harus ada upaya untuk menyelesaikannya. Sehingga, klarifikasi belum terlambat karena ada permasalahan baru. 

“Saya bangga hari ini kita semua ada untuk selesaikan masalah sekolah ini. Tidak ada masalah yang tidak tidak bisa diselesaikan. Kita semua refleksi dan saling memaafkan”, harapnya. 

Petrus meminta pihak pemerintah desa dan kecamatan untuk mendukung kemajuan sekolah itu.  Sehingga, semua Kepala SMP di wilayah itu diminta untuk mengarahkan siswa kelas III yang tamat untuk melanjutkan pendidikannya di SMAN Io Kufeu. 

Usai mendengar peneguhan Kadis Petrus,  kepala sekolah,  guru,  aparatur desa dan tokoh masyarakat dan warga sepakat berdamai dan saling memaafkan. Suasana terharu saat saling berjabat tangan dan saling merangkul.

Semuanya sepakat berdamai untuk memajukan sekolah itu. Saat itu Kadis Petrua meminta Romo Emanuel Nautu, pastor yang bertugas di Paroki Kotafoun memberikan berkat doa perdamaian bagi semua yang hadir mengikuti Rapat Klarifikasi tersebut. (Laporan: Cyriakus Kiik)


Editor: Cyriakus Kiik
KOMENTAR