ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Mendongkrak Kualitas Kepribadian Guru

11 Agustus 2018
Mendongkrak Kualitas Kepribadian Guru
Ilustrasi: Seorang guru sedang mengajar murid. (Net)
Oleh: M Sunyoto
MUNGKINGKAH kepribadian atau personalitas seseorang yang sudah dewasa, yang menjadi bagian dari jati dirinya, bisa diubah untuk diperbaiki agar sesuai dengan watak yang diidealkan? Pertanyaan itu bisa diajukan ketika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan belum lama ini menyelenggarakan sejenis pelatihan psikologis untuk meningkatkan kompetensi kepribadian bagi kalangan pendidik.

Tentu jawabannya bisa variatif. Jawaban yang optimistis akan diikuti oleh sejumlah prasyarat bahwa kepribadian seseorang bisa diubah sejauh hanya menyangkut kompetensi kepribadian dalam lingkup profesinya.

Artinya, ada batasan kompetensi kepribadian apa yang akan diperbaiki, direkayasa untuk kepentingan mendidik. Sebetulnya, ketika seseorang mengambil jurusan kependidikan di perguruan tinggi, dia mendapat mata kuliah psikologi anak, pedagogi, dan sejenisnya untuk membekalinya mengenali kepribadian siswa ketika kelak terjun ke dunia kerja sebagai pendidik.

Namun, sebagai upaya mengingatkan kembali tentang kompetensi kepribagian seorang guru, pelatihan yang diselenggarakan kementerian yang bertanggung jawab mengurusi bidang pendidikan itu tetaplah perlu.

Guru memang layak diingatkan untuk selalu memperhatikan perilaku personalnya. Apalagi untuk mereka yang berinteraksi secara profesional dan sosial dengan siswa terutama di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Anak-anak secara terus-menerus harus diberi teladan yang mulia dan bijaksana sepanjang jam-jam belajar di sekolah.

Apa yang dilihat oleh anak adalah bagian dari proses menghayati kehidupan, yang akan disimpan dalam memorinya sepanjang hidup.

Dalam kenyataan keseharian di sekolah, bisa dipastikan ada guru yang masih suka berbuat kurang pantas. Guru ini tidak bisa menjadi contoh buat anak didiknya. Ujaran-ujaran yang kasar tak mencerminkan kepribadian seorang pendidik bisa ditemui, entah karena lupa bahwa guru itu sedang berada di lingkungan kelas atau karena punya kecenderungan untuk berbicara kurang etiketis itu.

Penyelenggara program pelatihan yang juga praktisi pendidikan mengakui bahwa pelatihan tentang peningkatan kompetensi kepribadian itu selama ini diabaikan. Yang banyak dilakukan adalah pelatihan untuk meningkatkan kompetensi pedagogi (kemampuan mendidik) dan kompetensi profesional (kemampuan menguasai substansi ajar).

Dalam dunia yang mengalami perkembangan pesat di bidang teknologi dan nilai-nilai sosial kemanusiaan seperti sekarang ini, pelatihan kompetensi kepribadian perlu memasukkan materi-materi krusial seperti ihwal pandangan feminisme alias kesetaraan gender, demokrasi yang menuntut kesanggupan berkompetisi secara elegan dan sejenisnya.

Dengan memasukkan materi-materi krusial semacam ini, horison pengetahuan dan visi kepribadian guru juga akan meluas. Kompetensi guru tentu tak hanya menyangkut aspek kesabaran dalam menghadapi siswa yang punya kepribadian sulit.

Mengacu pada pengalaman para pendidik di lingkungan Taman Siswa ketika pendidik legendaris Mohammad Said berkiprah, keniscayaan guru yang ideal yang juga memerankan diri sebagai orang tua siswa tampaknya perlu dijadikan kompas bagi penyelenggara program pelatihan kompetensi kepribadian ini.

Menurut pendidik yang masyhur itu, proses belajar terbaik di sekolah yang ideal adalah menghilangkan sekat-sekat yang mengakibatkan hubungan siswa dan guru menjadi sekadar hubungan transaksional. Semestinya, guru juga menjadi tempat menyelesaikan persoalan personal siswa.

Pada titik inilah pelatihan peningkatan kompetensi kepribadian guru memperoleh dasar pijakannya. Guru yang simpatik di mata anak didik akan dengan mudah melakukan persuasi edukatif, baik di saat jam belajar maupun di luar jam belajar.

Siswa yang terkesan tentang kebaikan seorang guru akan merasa segan untuk menentang petuah alias wejangan yang diberikan. Di sinilah guru-guru yang hanya berinteraksi dengan siswa sebatas pada jam mengajar di kelas jadi problem tersendiri.

Jika semua guru untuk berbagai mata pelajaran dapat memainkan peran sebagai orang tua bagi siswa, suasana belajar yang menyenangkan pun terbangun dengan sendirinya. Kasus-kasus perisakan, pelecehan seksual, konflik antarsiswa bisa diminimalisasi.

Tampaknya, pertanyaan yang mengawali tulisan ini mendapat jawaban positif untuk konteks peningkatan kemampuan guru mengaktualisasikan sifat-sifat positifnya sebagai pendidik di hadapan anak didik, yang sedang berada dalam tahap kusial dalam pembentukan watak.

Tantangan terberat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menyelenggarakan pelatihan ini antara lain berupa banyaknya guru-guru yang harus diberi pelatihan ini. Tak kurang dari tiga juta guru yang perlu dilatih kompetensi kepribadian mereka.

Pilihan yang selalu dilematis adalah menentukan guru-guru yang manakah yang harus diprioritaskan, diberi pelatihan terlebih dulu. Apakah guru-guru yang mengajar di lingkungan yang terbelakang atau di sekolah-sekolah yang belum memiliki kualifikasi standar? Ataukah guru-guru di kota-kota besar yang mengajar di sekolah yang sudah cukup berkualitas yang perlu diberi pelatihan? Secara teoretis, jika sasaran pendidikan adalah membuat kualitas pendidikan merata di seluruh wilayah di Nusantara, guru-guru yang berada di lingkungan jauh dari pusat kekuasaan lah yang perlu diprioritaskan untuk memperoleh pelatihan kompetensi kepribadian itu.

Nyatanya, sebagaimana yang selama ini kerap terjadi, justru pelatihan peningkatan kompetensi guru selalu dimulai di wilayah Jakarta, yang kualitas pendidikannya tentu jauh lebih maju dibandingkan dengan kondisi yang berada di kawasan pinggiran yang jauh dari pusat kekuasaan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tampaknya perlu mengubah tradisi pengutamaan sekolah yang sudah maju ini, dengan memberi prioritas pada sekolah-sekolah yang mutunya masih di bawah standar rata-rata nasional.

Tags :

KOMENTAR