ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Geliat Pendidikan Vokasi di Singapura

08 September 2018
Geliat Pendidikan Vokasi di Singapura
Ilustrasi: Kegiatan belajar mengajar di Singapura. (Net)
Singapura dapat menjadi contoh bagaimana pendidikan vokasi menjadi salah satu solusi untuk menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas dan mampu mengatasi masalah pengangguran.

PENDIDIKAN vokasi di Singapura dimulai dari perjalanan panjang negara yang juga salah satu tetangga terdekat Indonesia itu. Kesuksesan yang terbangun bukan terbentuk dalam waktu singkat.

Wakil Direktur Utama Institute of Technical Education (ITE) Sabrina Loi mengatakan semuanya berawal pada 1930, yang mana setelah 111 tahun memerintah, Inggris kemudian membangun sekolah perdagangan pertamanya.

Sekolah menyediakan pelatihan sebelum magang bagi lulusan sekolah dasar. Pada 1950-an, untuk pertama kalinya dibuka sekolah menengah di Tanjong Katong dan Queenstown.

Makin banyaknya peminat yang ingin masuk sekolah kejuruan tersebut, membuat pemerintah Singapura pada 1960-an menambah jumlah sekolah kejuruan.

Pada era 1970-an, terdapat 10 kampus pendidikan kejuruan atau Industrial Training Board (ITB). Jumlah lulusan meningkat dari sebelumnya pada 1968 hanya 324 menjadi 4.000 lulusan. Untuk pertama kalinya diterapkan sertifikat nasional yang bertujuan mempertemukan antara kebutuhan industri dan lulusan.

Pada 1979 dibentuk Vocational and Industrial Training Board (VITB) atau lembaga pendidikan vokasi dan pelatihan industri yang merupakan peleburan dari ITB dan lembaga pendidikan kejuruan bagi orang dewasa (AEB).

Titik balik pendidikan vokasi di negara itu dimulai pada 1992, saat pemerintah Singapura melakukan restrukturisasi VITB menjadi institusi selepas sekolah menengah. Institusi itu kemudian dinamakan Institute of Technical Education (ITE) atau Institut Pendidikan Keteknikan.

Sejak 1992, ITE telah memberikan pelatihan kepada 1,5 juta lulusan maupun masyarakat di sejumlah bidang. Hasilnya, Singapura meraih ranking satu dalam bidang keahlian teknik.

"Kami juga memiliki tingkat pengangguran generasi muda (15 tahun hingga 29 tahun) terendah di dunia, yakni tujuh persen," jelas Sabrina.

Hal itu, lebih rendah jika dibandingkan dengan Islandia, Hongkong, Luxemburg, Belanda, Denmark, Swedia, Swiss, Jerman, dan Jepang.

Begitu lulus, siswa ITE banyak yang langsung bekerja di dunia kerja dan mendapatkan rata-rata gaji 1.996 dolar Singapura atau sekitar Rp21 juta.

"Mereka (lulusan ITE, red.) harus melamar sendiri ke perusahaan. Kami tidak mencarikan mereka pekerjaan begitu lulus sekolah," cetus dia.

Penelitian menyebutkan sebanyak 95 persen dunia industri mengaku puas dengan lulusan ITE.

Sabrina juga mengatakan sebanyak 50 persen lulusan ITE melanjutkan pendidikan ke universitas setelah lima tahun bekerja di dunia industri.

Untuk menghubungkan dengan dunia industri, ITE memiliki tujuh penasihat yang terdiri atas para ahli di bidangnya. Para penasihat itu yang kemudian memberikan masukan, pelajaran apa saja yang relevan dengan dunia industri. Selain itu, ada kerja sama dengan pihak industri dan dukungan dari pihak industri.

Setingkat SMK Jika di Indonesia, sekolah ini setingkat dengan Sekolah Menengah Atas (SMA). ITE sama halnya dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Tanah Air. Lama belajar di ITE dua hingga empat tahun.

Jumlah keahlian yang dimiliki pada 2000 sebanyak delapan bidang dan 29 keahlian. Saat ini berkembang pesat menjadi 12 sektor dan 97 keahlian.

Bidang keahlian tersebut di antaranya teknik (26 persen), bisnis (15 persen), teknologi informasi (12), elektronika (9), media kreatif (7), transportasi dan logistik (7), keuangan (6), hotel dan restoran (4), pariwisata (3), ritel (2), kimia dan biomedika (4), dan kesehatan (5).

Sabrina mengatakan pihaknya menerapkan pembelajaran secara holistik, tidak hanya siswa diajarkan memiliki keahlian, namun juga melakukan aktivitas yang mengandalkan otak dan juga hati.

"Hasilnya adalah siswa yang memiliki pengetahuan yang baik dan juga lulusan yang siap terjun ke dunia kerja, kehidupan dan juga dunia global," kata dia sembari tersenyum.

Begitu lulus, lulusan ITE mendapatkan sertifikat kompetensi.

Meski demikian, dia mengatakan tak ada jaminan siswa yang lulus dari ITE tersebut langsung mendapatkan kerja. Para siswa tersebut harus melamar pekerjaan sendiri.

Namun, sekitar 70 persen lulusan ITE langsung mendapatkan pekerjaan begitu lulus. Jika dibandingkan di Tanah Air, lulusan SMK justru menyumbang angka pengangguran sebanyak 11,41 persen pada 2017.

"Kunci utamanya adalah bagaimana mencetak lulusan yang sesuai dengan kebutuhan industri," tambah dia.

Untuk metode pembelajaran, sebanyak 60 persen adalah praktik dan hanya 40 persen teori. Siswa juga diwajibkan mengikuti magang selama enam bulan di dunia industri.

"Jika sebelumnya ITE ada hampir di setiap wilayah di Singapura, kini hanya ada tiga dan terintegrasi dalam satu bangunan," papar dia.

Terdapat tiga ITE di Singapua. Masing-masing ITE memiliki bidang yang berbeda-beda. ITE College West didirikan pada 2010 dan saat ini memiliki murid sebanyak 8.400. Bidang keunggulannya adalah sekolah perhotelan, sekolah bisnis dan layanan, sekolah elektronika dan teknologi informasi, dan sekolah teknik.

ITE College East yang didirikan pada 2005. ITE yang terletak di Simei Ave 10 ini memiliki keunggulan sekolah bisnis dan layanan, sekolah elektronika dan teknologi informasi, sekolah teknik, dan sekolah ilmu kesehatan dan terapan. Jumlah muridnya saat ini mencapai 8.400 siswa.

ITE Pusat yang didirikan pada 2013 dengan jumlah siswa sebanyak 11.700. Sekolah ini memiliki keunggulan yakni sekolah desain dan media, sekolah bisnis dan layanan, sekolah elektronika dan teknologi informasi, dan sekolah teknik.

"Setiap tahun, pemerintah menganggarkan dana sekitar 4 juta dolar Singapura, yang digunakan untuk biaya operasional," katanya.

Maka tak heran, jika di ITE dilengkapi sejumlah fasilitas yang mumpuni dan terbarukan.

Seorang lulusan ITE, Fabian, mengaku tak perlu menunggu waktu lama untuk mendapatkan pekerjaan begitu lulus.

"Lulusan ITE banyak yang dicari perusahaan-perusahaan di sini," kata dia.

Fabian mengaku memilih masuk ITE karena orang tuanya tak memiliki cukup dana untuk menyekolahkannya hingga perguruan tinggi.

Begitu lulus sekolah menengah (setingkat SMP), Fabian memilih ITE.

Namun ia mengaku banyak lulusan ITE ketika sudah bekerja melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

"Mereka melanjutkan pendidikan tinggi, untuk meningkatkan gaji yang didapatkannya," terang Fabian.

Pemerintah Indonesia saat ini sedang melakukan revitalisasi pendidikan vokasi.

Pada Agustus lalu, Presiden Joko Widodo dalam pembahasan terakhir Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019 menyatakan penganggaran pemerintah akan fokus pada pengembangan sumber daya manusia (SDM), salah satunya pendidikan vokasional atau kejuruan.

Bahkan, pada 2016, Presiden juga mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK untuk peningkatan kualitas dan daya saing SDM di Tanah Air. |Pumpunan, Antara|


Tags :

KOMENTAR