ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Penggunaan Gawai di Sekolah Perlu Dibatasi

14 September 2018
Penggunaan Gawai di Sekolah Perlu Dibatasi
Penggunaan gawai di sekolah perlu dibatasi. (Net)
JAKARTA, SCHOLAE.CO - Penggunaan gawai di lingkungan pelajar, saat ini cukup memprihatinkan. Tidak cuma dalam lingkungan pribadi, penggunaan gawai yang sudah dalam tahap adiktif, bebas digunakan di lingkungan sekolah. Mirisnya, efek negatif lebih mewarnai kehidupan para pelajar, ketimbang manfaat yang dipetik. 

Menaggapi kondisi ini, Pemerintah melalui empat kementerian mengeluarkan pernyataan bersama tentang pembatasan penggunaan gawai di satuan pendidikan. Ini dilakukan untuk melindungi anak-anak dari adiksi atau kecanduan gawai.

Keempat kementerian itu adalah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), serta Kementerian Agama.

Masyarakat, khususnya orang tua, dan anak serta semua satuan pendidikan, termasuk pendidikan keagamaan, diimbau membatasi penggunaan gawai dengan cara tidak mengizinkan anak membawa gawai ke sekolah atau hanya menggunakan gawai untuk mengunduh pelajaran tertentu.

Menteri PPPA, Yohana Susana Yembise mengatakan bahwa komitmen bersama tentang pembatasan penggunaan gawai ini adalah untuk mencegah anak-anak mendapatkan informasi yang tidak layak, seperti pornografi, radikalisme, kekerasan, berita bohong, atau terkait suku, agama, ras, dan antargolongan. Selain itu, agar anak-anak terhindar dari kecanduan gawai berikut efek negatif yang menyertainya.  Pernyataan ini, menurut Yohana, bakal ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Bersama dari empat menteri terkait.

Sementara itu, Mendikbud meminta satuan pendidikan bersama orangtua dan komite sekolah menyusun peraturan sekolah yang membatasi penggunaan gawai pada siswa. Pihak-pihak tersebut juga diminta menentukan kebijakan penggunaan gawai yang tepat bagi siswa sebagai media pembelajaran di sekolah-sekolah dengan pertimbangan utama memberikan kesempatan belajar dan keamanan.

Rudiantara selaku Menteri Kominfo menegaskan, Kominfo meminta orangtua an guru atau pendidik untuk proaktif memantau dan tetap memegang kendali atas penggunaan gawai pada anak dan peserta didik, dengan cara membatasi waktu dan materi yang diakses. Sejak 10 Agustus 2018, Kominfo meminta 25 penyedia layanan internet memblokir konten pornografi yang terdapat di mesin pencarian Google. Caranya, dengan mengaktifkan pengaturan safe search di mesin pencari Google. (Maria L. Martens)



Tags :

KOMENTAR