ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Sekolah Ibu di Bogor Akan Wisuda 2.040 Lulusan

01 Oktober 2018
Sekolah Ibu di Bogor Akan Wisuda  2.040 Lulusan
Program Sekolah Ibu yang baru saja dijalankan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan mewisuda 2.040 ibu rumah tangga Kota Bogor, Jawa Barat. (Bogor Update)
BOGOR, SCHOLAE.CO - Sebanyak 2.040 ibu rumah tangga Kota Bogor, Jawa Barat akan diwisuda setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Ibu. "Sudah ada 2.040 ibu yang lulus dari Sekolah Ibu dan akan diwisuda tanggal 6 Oktober nanti," kata Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bogor, Yane Ardian Bima Arya, di Bogor, Senin (1/10/2018)

Rencananya wisuda angkatan pertama Sekolah Ibu dihadiri Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Menurut Yane, animo para ibu untuk masuk Sekolah Ibu cukup tinggi. Saat ini, sudah ada beberapa ibu masuk daftar tunggu untuk bisa mengikuti pendidikan pada gelombang kedua.

"Kami memang membatasi satu kelas diisi 30 orang agar pengajaran yang diberikan diserap maksimal, jadi banyak juga ibu-ibu yang masuk daftar tunggu," katanya.

Sekolah Ibu diresmikan Juli 2018. Sekolah itu ada di setiap kelurahan dengan totalnya 68 Sekolah Ibu. Setiap sekolah memiliki dua pengajar atau mentor.

Sekolah berlangsung dua kali dalam seminggu, yakni Senin dan Kamis dari pukul 13.00 sampai 15.00 WIB. Ada 20 modul pendidikan yang diajarkan.

"Pemilihan waktu siang hari karena pada jam tersebut ibu tidak direpotkan, karena pagi hari 'reweuh' (repot) anak-anak sekolah, sorenya 'reweuh' dengan bapaknya," katanya. 

Menurut Yane, pada awal sekolah dimulai, masih ada kegalauan dari para ibu, masih malu-malu dan belum berani untuk aktif di sekolah. Akan tetapi, menjelang berakhir sekolah, para ibu antusias dan mulai berani mengeluarkan unek-uneknya. 

Para ibu yang masuk sekolah itu, kata dia, mempunyai kriteria, seorang ibu yang sudah menikah, pernah menikah, dan memiliki anak dengan usia yang tidak terbatas, sedangkan para pengajar seharusnya seorang ibu yang sudah menikah minimal lima tahun lamanya dan tidak boleh bertitel pernah menikah.

"Karena pengajar itu memberikan teladan, contoh, jadi diupayakan mereka yang berhasil membangun rumah tangganya, keluarganya," kata Yane.

Beberapa cerita menarik setelah para ibu mengikuti Sekolah Ibu, kata Yane, salah satunya kejadian di Kelurahan Pasirjaya, di mana seorang ibu datang berlari menemui Wali Kota
Bima Arya Sugiarto dan berkata dirinya tidak jadi cerai.

"Pak wali sempat kebingungan maksudnya apa, ternyata ibu ini cerita tidak jadi bercerai setelah masuk sekolah ibu," katanya.

Yane menjelaskan pendirian Sekolah Ibu berangkat dari fenomena sosial yang terjadi di masyarakat saat ini, di mana angka perceraian tinggi, kenakalan remaja, narkoba, dan pergaulan bebas. 

Kondisi itu, lanjutnya, tidak hanya terjadi di Bogor, tetapi sudah menjadi masalah sosial yang terjadi secara nasional. Hal itu yang mendorong PKK Kota Bogor bergerak membantu pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

"PKK turun ke masyarakat menemukan banyak permasalahan, kami simpulkan perlu peningkatan peran kualitas ibu dalam menghadapi permasalah sosial tadi," kata Yane. 

Editor: Patricia Aurelia
KOMENTAR