ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Lulusan ATMI Tidak Perlu Lulus, Ya?

02 Oktober 2018
Lulusan ATMI Tidak Perlu Lulus, Ya?
Konser musik Timur di Gedung De Tjolomadoe Solo dalam rangka pesta emas Politeknik ATMI Surakarta, Sabtu (29/9-2018). (Dok. Politeknik ATMI Surakarta)

WAJAH letih tak bersisa di raut pesinden Peni Candra Rini. Suaranya tetap merdu melantunkan dua belas lagu yang memenuhi Gedung De Tjolomadoe, Solo pada Sabtu malam (29/9-2018) lalu. Penampilan Peni dalam konser musik bertajuk ‘Timur’ menjadi pemuncak pesta emas Politeknik ATMI Surakarta.

Lagu ‘Timur’ adalah persembahan Peni terhadap Pastor Johann Balthasar Casutt SJ (Direktur ATMI 1971-2000) yang telah mengabdikan dirinya untuk pendidikan vokasi di Indonesia. Pastor kelahiran Swiss datang ke Indonesia (Timur) pada tahun 1957. Sejak itu karya Romo Casutt sepenuhnya untuk mendampingi kaum muda di Indonesia.

Bagi Peni, pengabdian Romo Casutt seperti cahaya di Timur. “Cahaya yang menerangi dan menginspirasi banyak orang lain untuk menjadi cahaya di lingkungan masing-masing. Bukan dalam makna kias, tetapi dalam kenyataannya, banyak lulusan ATMI yang bersinar, bercahaya, di tempat kerja masing-masing. Dari praktisi pemegang mesin, banyak di antara mereka yang melesat menduduki posisi puncak di perusahaan masing-masing,” ujar komposer lagu ini melanjutkan.

Lagu-lagu yang dibuat dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini diinspirasikan dari buku biografi berjudul ‘Romo Casutt: Dalam Senyap Membangun Pendidikan Vokasi Indonesia’. Semua dinyanyikan dengan prima, meski baru beberapa hari sebelumnya baru tiba di tanah air setelah melakukan tour ke Eropa. Menurut Peni, energi panggung dan Romo Casutt-lah yang membuat dia tampil dengan penuh semangat dihadapan 1.500 penonton.

Sebelum pementasan, Uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko mempersembahkan Misa syukur di Kampus ATMI Solo. Dalam perayaan ekaristi ini Mgr. Rubi didampingi oleh 26 imam. Sebagian besar adalah para pastor yang pernah berkarya atau pernah mengikuti pendidikan di ATMI. Selain itu ada Pastor Petrus Hardijanta (Provinsial SJ) dan Pastor Pastor Toni Kurmann SJ (rekan Romo Casutt yang datang dari Swiss).

Mgr. Rubi dalam kotbahnya mengatakan kalangan dunia industri banyak mencari lulusan ATMI untuk dijadikan karyawan. Bahkan, mahasiswa yang drop out sekalipun masih dicari oleh banyak perusahaan. “Jadi  lulusan ATMI nggak perlu lulus, ya?” tanya Mgr. Rubi yang langsung disambut tawa oleh umat yang hadir.

Praktik dan Teori

Menyambut pesta emas ini ATMI Solo, begitu nama yang melekat pada lembaga pendidikan vokasi ini, diadakan berbagai rangkaian acara. Salah satunya adalah penerbitan buku biografi Romo Casutt yang ditulis oleh A. Bobby Pr. Buku yang dikeluarkan oleh Penerbit Buku Kompas ini mengisahkan perjalanan Romo Casutt yang mengabdikan dirinya untuk pendidikan vokasi di Indonesia.

Sejak awal berdiri ATMI mengadopsi sistem pendidikan vokasi di Swiss. Namun karena tidak bisa sepenuhnya dapat diterapkan di Indonesia, Romo Casutt melakukan berbagai penyesuaian sehingga lulusan ATMI dapat memenuhi kebutuhan industri. Pola pendidikan yang diterapkan adalah 70 persen praktik dan 30 persen teori agar dapat memenuhi standar dunia industri.

Saat ATMI berdiri tahun 1968, bangsa Indonesia belum lama merdeka dan baru saja menghadapi gejolak politik. Pada saat itu juga mulai terjadi proses transisi dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri. Namun, kebutuhan perusahaan industri mengalami kesulitan untuk mendapatkan karyawan berkualitas. Lulusan ATMI dapat segera mengisi kekosongan itu.

Di sisi lain, Romo Casutt melihat banyak kaum muda dari keluarga sederhana yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan pendidikan bermutu. ATMI memberikan prioritas kepada mereka untuk memperoleh keterampilan yang nantinya dapat berguna dalam mencari pekerjaan.

Dalam mengembangkan ATMI, Romo Casutt tidak hanya memberikan keterampilan teknik semata kepada anak didiknya. Selama proses pendidikan tiga tahun, pastor yang menjadi WNI pada tahun 1962 ini menanamkan nilai-nilai keutamaan kepada para mahasiswa. Sehingga lulusan ATMI dikenal memiliki karakter disiplin, kerja keras, tanggung jawab, inovatif, dan kejujuran. Nilai-nilai inilah yang membuat lulusan ATMI tak menjadi pengangguran.

Selain mendirikan ATMI Cikarang, Romo Casutt juga memberikan perhatian kepada berbagai lembaga pendidikan vokasi di Indonesia. Pastor yang meninggal 24 Agustus 2012 ini membantu peningkatan mutu SMK dan pendirian beberapa politeknik.

Direktur Politeknik ATMI Surakarta Pastor Tibortius Agus Sriyono SJ mengungkapkan penulisn biografi Romo Casutt bukan bermaksud untuk pengkutusan. Tetapi merawat semangat Romo Casutt yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan kaum muda. “Kepedulian Romo Casutt ini kita terjemahkan dalam tema pesta emas ini dengan tema ‘Kobarkan Api Vokasi’. Lewat peningkatan pendidikan vokasi, masalah pengangguran yang menjadi persoalan bangsa kita dapat diatasi,” kata Romo Agus.

Editor: Maria L. Martens

Tags :

KOMENTAR