ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Kembangkan Bidang Animasi, SMK Ini Undang Khusus Pengajar dari Jepang

09 Oktober 2018
Kembangkan Bidang Animasi, SMK Ini Undang Khusus Pengajar dari Jepang
SMK Raden Umar Said Kudus, Jawa Tengah, sekolah animasi berstandar internasional

KUDUS,SCHOLAE.COM - Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Raden Umar Said di Kudus, Jawa Tengah, fokus mengembangkan bidang animasi hingga berhasil menyelesaikan sejumlah karya. "Proyek terbesar para siswa yakni film pendek "Marrionate", "game virtual reality", dan proyek komersial dari Toyota," ujar Direktur Seni sekaligus pengajar di SMK Raden Umar Said Kudus, Elmira D. Khanna.

Elmira mengatakan fasilitas untuk menunjang pendidikan animasi di sekolah itu dirasa cukup. "Kalau mau 'explore' lebih, kami butuh fasilitas game. Sekarang untuk dasar sudah cukup," tambah Elmira.

SMK yang semula adalah sekolah percetakan itu sekarang mempunyai studio animasi yang canggih yang tidak kalah oleh studio animasi besar sekelas Pixar. "Sekolah animasi ini didirikan pada Juli 2015. Siswa yang diterima 26 orang dari26 yang mendaftar," ujar Direktur Program Djarum Foundation Primadi H Serad di Kudus. Primadi mengatakan sekolah tersebut adalah salah satu dari SMK binaan program Djarum Bakti Pendidikan yang sejak 2012 membuat program pengembangan sekolah vokasi (kejuruan).

SMK Raden Umar Said Kudus memiliki tiga tingkatan kelas dengan fokus belajar berbeda, yakni kelas 10 belajar dasar animasi dan perkenalan perangkat lunak modeling animasi, kelas 11 magang di spesialisasi sesuai ketertarikan siswa, dan kelas 12 proyek kelompok.

Elmira mengatakan, penyelesaian proyek animasi bisa memakan waktu 3-6 bulan. Pengajar animasi untuk saat ini didatangkan dari pengajar Indonesia yang menempuh studi di Singapura dan Inggris.

Mendatangkan guru tamu dari Jepang

SMK yang dipenuhi fasilitas menyenangkan bagi siswa-siswi jurusan animasi itu membuat mereka lebih betah disana daripada di rumah. Selain komputer yang memadai, suasana dan desain ruangan menjadi hal yang membuat para murid tertarik menghabiskan waktu di sekolah. Bahkan, di beberapa ruangan terdapat perosotan dan kursi menyerupai ayunan untuk belajar maupun ujian.

Elmira mengaku dengan fasilitas memadai kinerja dan produktivitas anak bertambah. "Ada beberapa anak yang merasa tidak cocok dengan bidang animasi. Namun ketika mulai mempelajarinya, mereka bisa menikmatinya karena suasana dibuat menyenangkan sehingga mendukung kinerja mereka," ujar Elmira. (Editor: Maria L. Martens)


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR