ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Membuka Arah Belajar

17 Oktober 2018
Membuka Arah Belajar
Cover buku: BELAJAR ITU PROSES KREATIF: Pengalaman Bermakna Bersama Anak Sejak Prasekolah Hingga Perguruan Tinggi. (Istimewa)
SINOPSIS BUKU

Judul      : BELAJAR ITU PROSES KREATIF  
                               Pengalaman Bermakna Bersama  Anak Sejak Prasekolah
                               Hingga Perguruan Tinggi
Penulis         : Prudensius Maring
ISBN      : 978-602-97852-1-0
Ukuran               : 14 cm x 20,5 cm
Jumlah Hal.       : 215 halaman.
Jenis Buku     : Proses pembelajaran bersama orangtua dan anak-anak.
Pengantar     : Francisia S. S. Ery Seda, PhD
Editor     : Dr. Endang Moerdopo
Penerbit             : Institut Antropologi  Kekuasaan
                             (Institute for Anthropology of Power)   
Tahun Terbit  : Agustus 2018, Cetakan Pertama.
Harga Buku     : Rp. 80.000,- 
Kontak: 081383908183 (WA/SMS/Telp).

Membuka Arah Belajar

Mari kita buka dengan kata BELAJAR. Kata yang pu­nya banyak definisi tapi sama esensi maknanya. Belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; berlatih; berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Para ahli memak­nai belajar sebagai usaha seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru sebagai hasil interak­si dengan lingkungannya. Belajar dilihat sebagai sebuah aktivitas mental-psikis yang berlangsung dalam proses dan hasil yang berkelanjutan. Belajar itu penting karena ia menjadi pembuka jalan untuk memperkaya pengeta­huan, mengasah ketrampilan, dan menata perilaku. 

Kerap terdengar gencarnya retorika bahwa “pen­didikan berlangsung sepanjang hayat.” Jargon itu telah menjalankan tugasnya dengan menempatkan pendi­dikan menjadi hak dasar warga yang harus di penuhi. Itu kerap membuat kita fokus pada urusan formalitas pemenuhan hak-kewajiban dalam konteks relasi formal. Di balik itu kita butuhkan pula afirmasi konsep “bela­jar berlangsung sepanjang hayat”. Belajar perlu dilihat sebagai kata kerja yang terus bekerja dari dalam untuk mempengaruhi kita sepanjang hayat. Pendidikan tanpa digerakkan spirit belajar yang datang “dari-dalam” (diri kita, diri keluarga, diri komunitas, diri masyarakat) maka ia lebih mengarah pada penggenapan formalitas. 

Pendidikan mencakup keseluruhan prasyarat, mekanisme, dan infrastruktur fisik-sosial penyelengga­raan. Belajar itu sebuah proses mental-psikis yang proak­tif, bersifat kreatif, bersumber dari dalam diri insani, lalu bergerak keluar memperkaya pengetahuan, mengasah ketrampilan, dan menata sikap-perilaku kita. Terlihat di sini bahwa pendidikan dan pengajaran meniscayakan spirit belajar sebagai kekuatan yang bersumber dari da­lam. Dengan demikian, belajar sebagai sebuah konsep kata kerja harus terus digerakkan. Pendidikan dan pengajaran yang digerakkan spirit belajar yang datang dari dalam bisa mendorong pencapaian tujuan jamak untuk peningkatan pengetahuan, pengasahan ketrampilan, dan pematangan sikap-perilaku. 

Keberhasilan mewujudkan tujuan jamak itu dipengaruhi oleh bagaimana belajar itu dijalankan. Penting pula melihat proses awal yang menjadi dasar peletakan nilai dan makna belajar. Nilai dan makna selalu mendasari dan menyertai proses belajar yang kita jalani. Banyak pengalaman bermakna bisa diambil hikmah-nya untuk dijadikan kekuatan yang bisa menggerakkan proses be­lajar. Belajar sebagai proses kreatif adalah prakarsa be­lajar yang datang dari-dalam diri kita, yang dibimbing melalui pendasaran nilai dan makna, diperkuat melalui pendekatan inovatif, metode sederhana, kiat-kiat kreatif, diliputi sikap-perilaku yang optimis dan gembira.

Arah Buku Ini 
Karya ini adalah kajian kualitatif naratif dengan penekanan pada trajektoris atau lintasan bermakna dari sebuah kisah hidup. Narasi dibangun dari pengalaman satu keluarga kemudian ditarik garis untuk menghubung­kan dengan peristiwa atau kejadian yang melibatkan peran orang lain, termasuk melibatkan refleksi pengalaman pribadi di masa lalu dan terkini. Bahan sumber tulisan berasal dari pengalaman bersama anak sejak 22 tahun silam dan pengalaman pribadi lebih dari 50 tahun lalu. Narasi ini secara dinamis dihubungkan dengan pengeta­huan kontekstual untuk memberi penguatan substansi. Saya menyebut karya ini sebagai sebuah narasi bersifat semiotonom karena sumber/basis pengalaman empirik yang digunakan berasal dari pengalaman anak-anak, pengalaman sendiri, dan pengalaman orang lain atau pi­hak lain yang berkontribusi dalam sebuah proses pem­belajaran. 

Untuk menjawab gagasan dasar di atas maka buku ini dikemas dalam Prolog, Bagian Isi, dan Epilog. Pro­log sebagai pembuka arah untuk memahami posisi dan pendekatan penulisan buku ini. Epilog sebagai penutup membahas bagaimana menggerakkan belajar kreatif melalui sikap membuka diri dan mau belajar, merawat sikap kreatif, kreatif memaknai pengalaman, menerap­kan metode sederhana, menjaga ketuntasan belajar, dan menerima hasil jamak dalam belajar. Proses belajar dengan capaian seperti dikisahkan dalam buku ini hanya bisa terjadi karena simpul-simpul belajar kreatif itu diterapkan. Bagian Isi dikemas dalam tiga fase utama dengan 11 kisah dan 31 sub kisah yang menggambarkan pengalaman bermakna tentang belajar bersama anak-anak sejak masa prasekolah hingga perguruan tinggi. 

Fase Pertama: Pendasaran Nilai dan Makna Belajar. Ini adalah kisah pengalaman bermakna dari masa prase­kolah, sekolah dasar, hingga sekolah menengah pertama. Orangtua berjuang menemukan nilai-nilai yang menjadi landasan pendidikan agar mampu mendinamisasi arah dan proses pendidikan anak. Orangtua dan anak yang memahami arti dan tujuan belajar akan mengisinya dengan hal-hal kreatif, tidak sekadar beban rutinitas. Fase ini terdiri dari 3 kisah. 

Fase Kedua: Membekali Diri Menapak Pilihan Minat. Ini adalah kisah pengalaman bermakna jenjang pendi­dikan menengah atas. Anak-anak menentukan pilihan bidang ilmu yang diminati. Pendampingan orangtua dan guru penting pada tahap ini agar pilihan berbasis pada minat anak-anak. Fase ini terdiri dari 3 kisah. 

Fase Ketiga: Penguatan Kapasitas dan Kemandirian. Ini adalah kisah pengalaman bermakna jenjang perguru­an tinggi. Anak-anak tidak hanya berkutat dengan proses pembelajaran terstruktur. Secara dinamis anak-anak mengkreasi nilai tambah sebagai bekal kehidupan selan­jutnya. Fase ini terdiri dari 5 kisah. Semua kisah dalam buku ini mewakili tema tertentu yang dielaborasi dalam sub-sub kisah.

Setiap kisah di­upayakan mencapai ketuntasan alur pada tiap kisah bahkan pada sub kisah. Setiap kisah bersifat mandiri dan membentuk pesan dan alur yang tuntas. Artinya, buku ini sebaiknya dibaca secara keseluruhan, tetapi tidak harus ditempuh secara linier dari kisah pertama menuju kisah terakhir. Mulailah dari Prolog untuk menangkap posisi dan arah buku, lalu bisa masuk ke tema kisah yang dimi­nati. Akhiri dengan membaca Epilog berisi simpul-simpul untuk menggerakkan belajar kreatif. 

Semua kisah dalam buku ini bersumber dari pengalaman nyata. Banyak orang dan banyak pihak telah berkontribusi dalam proses belajar dan pendidikan anak. Karenanya titik mulai kisah ini berawal dari satu keluarga lalu bergerak meluas menjadi kisah kolaborasi banyak orang. Demi pemenuhan keluwesan berbagi pengalaman dan pengetahuan maka nama institusi tertentu dan nama tempat tertentu, nama orang atas permintaan tertentu, telah disamarkan. Semua sumber referensi il­miah dan nama institusi berstatus negeri/pemerintah tertulis sesuai namanya. 

Penulis mendapat kesempatan secara langsung, secara luas, dan secara mendalam un­tuk menyelami dan memahami kisah nyata ini seperti tertulis dalam buku ini. Seperti yang kupikir dan kulaku­kan, yang kudengar dan kulihat dari mereka, itulah yang kutulis di sini. 

Akhirnya saya ingin katakan bahwa penu­lisan buku ini digerakkan salah satu prinsip sederhana bahwa lebih baik saya menulis sedikit pengalaman ini untuk membuatnya lebih bermakna dari pada membiar­kannya berlalu begitu saja. Terkait hal itu saya akui bah­wa karya ini tentu tidak luput dari kekurangan yang ber­sumber dari diri saya. Untuk itu saya terbuka menerima kritik dan saran penyempurnaan. Selamat membaca! 


Editor: DR Prudensius Maring
KOMENTAR