ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Guru PAUD di Zaman Kini: Tantangan dan Panggilan

22 Oktober 2018
Guru PAUD di Zaman Kini: Tantangan dan Panggilan
Founder & CEO Personal Growth Counseling and People Development,Ratih Ibrahim saat menjadi pembicara (Dok. DBK)
Oleh: Ratih Ibrahim
SEIRING dengan perkembangan zaman, Indonesia pun bergerak dalam dinamika sosial, politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya. Sebagian bagian masyarakat dunia yang dalam kehidupan modern berubah sangat dan dan kompetitif, 'speed' Indonesia pun harus menyesuaikan dengan  perkembangan arus global.

Dunia memasang indeks kompetisinya dengan standar tinggi. Menyesuaikan standar tersebut, Indonesia pun menetapkan panduan pembangunan yang termuat dalam Kumpulan faktor, kebijakan, dan regulasi.  Sama dengan takaran global, hal-hal ini pun menjadi perhatian pemerintah. Yaitu, intitusi, infrastruktur, ekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar, tenaga kerja, keuangan, tehnologi, ukuran pasar, kecanggihan bisnis, dan inovasi.

Bila melihat posisi Indonesia melalui kacamata pendidikan, pada arena global di sepanjang  enam tahun berjalan, Indonesia berada di sekitar tinggakatan 34 - 36 rangking dunia. Sedangkan pada lingkup Asia Tenggara, di tahun 2018 ini Indonesia berada di level ke-empat dari lima negara terbaik.

Membangun Bangsa yang Unggul

Upaya membangun karakter bangsa yang unggul menurut saya meliputi 3 aspek, yaitu; aspek pendidikan atau pembelajaran, aspek internalisasi, dan.aspek perubahan.

Aspek pendidikan/pembelajaran yang  mencakup adat istiadat, nilai-nilai, potensi, kemampuan, bakat dan pikiran bangsa Indonesia. Untuk membangun karakter bangsa, haruslah diawali dari lingkup yang terkecil. Khususnya di sekolah,ada baiknya kita menganalogikan proses pembelajaran di sekolah dengan proses kehidupan bangsa. Upaya mewujudkan nilai-nilai tersebut di atas dapat dilaksanakan melalui pembelajaran.Tentu saja pembelajaran yang dapat mengadopsi semua nilai-nilai karakter bangsa yang akandibangun.

Aspek berikutnya adalah internalisasi, maksudnya proses pembelajaran/pendidikan tidak akan berguna bila tidak dilakukan internalisasi. Istilahnya, sebuah pembelajaran akan semakin mudah untuk dipahami tatkala diterapkan dalam kehidupan. Dari pendidikan telah dijalani, telah didapatkan bahan yang akan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Aspek ketiga adalah perubahan. Masalah yang timbul padamasyarakat Indonesia adalah sulitnya beranjak untuk melakukan perubahan. Dengan melakukan proses perubahan, akan muncul jiwa kompetisi satu sama lain sehingga kreativitas pun akansemakin terasah. Lebih jauh lagi, bila muncul ide-ide kretif dari anak bangsa dapat meningkatkanharga diri bangsa di mata dunia karena Negara kita tidak hanya bisa ikut-ikutan dan meniru danmenjiplak karya-karya Negara lain. Dan dengan proses pembelajaran, internalisasi yang sesuaidengan kepribadian bangsa, karya-karya yang diciptakan oleh bangsa kita adalah sesuatu yang unik dan sesuai dengan sifat bangsa Indonesia.Dari uraian di atas, kunci utama mewujudkan kepribadian bangsa yang unggul adalah memperbaikisumber Daya Manusianya terlebih dahulu

Poin berikutnya adalah pendidikan yang diterapkan sekarang, adalah untuk memeprsiapkan generasi berikutnya memenangkan persaingan global, gimana arena kompetitifnya semakin kuat.

Sumber Daya Manusia yang Unggul

Menciptakan sumber daya manusia unggulan, tidak bisa secara instan.     Di era globalisasi sekarang ini, tidak ada wilayah, apalagi negara, yang maju tanpa sumber daya manusia yang unggul. Tanpa manusia unggul tidak lahir inovasi. Tanpa inovasi tidak akan ada kemajuan. Dan kemajuan harus dirintis saat ini, demi menciptakan generasi  gemilang masa depan.

Anak-anak adalah wajah pemimpin bangsa di masa depan. Situasi sekarang, tidak bisa dijadikan gambaran jaman mendatang. Karena nanti memiiki dinamika dan kebutuhan yang berbeda. Maka para guru perlu memiliki 'resourceful' kaya ide, gagasan, dan inovasi sehingga pendidikan yang ditanamkan, dapat dicerna dengan baik oleh para peserta didik. nuru adalah TELADAN bagi ANAK DIDIKNYA.

Adapun ciri Sumber Daya Manusia yang unggul adalah kompeten, kompetitif,  bisa diandalkan, etos kerja baik,  cinta Indonesia, dan cinta bangsa. Ciri ini juga menjadi panduan kita, sebagai pendidik, untuk mempersiapkan Generasi Emas pada tahun 2045. Menurut perhitungan, bonus demografi Indonesia berlangsung direntang tahun 2020 – 2045. Dimana  70 persen penduduk dalam usia produktif yakni 15-64 tahun. Dan 30 persen penduduk usia tidak produktif dengan usia lebih besar 14 tahun dan lebih kurang dari 65 tahun.

Disinilah, peran seorang guru makin diperlukan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, guru adalah orang yang pekerjaaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Sedangkan guru agama adalah adalah orang yang meletakkan dasar-dasar pendidikan, nilai hidup, spiritual yang termanifestasi ke kehidupan nyata.
Lantas, apa yang harus dimiliki sebagai seorang  guru yang resourceful?

Knowledge. Untuk meningkatkan kompetensinya, seorang  guru memerlukan pengetahuan dasar tentang siapa yang diajar, perkembangannya seperti apa, metode pengajaran seperti apa.

Skill. Keahlian dan kemampuan guru yang menandakan kesanggupannya terhadap tugasnya dan menguasai terhadap bidang pendidikan yang terkait dengan tugas guru dalam mengajar, mendidik dan membimbing.

Panggilan. Sesuatu yang berasal dari dalam diri untuk tujuan tertentu, dan tujuannya apa.

Jaman 'now' memimiliki tuntutannya sendiri.  Tantangan yang dihadapi guru  dalam mendidik anak adalah bagaimana memahami karakter  anak didik, memahami kebutuhan  anak didik, serta menyesuaikan metode belajar terhadap karakter dan kebutuhan anak. Maka yang harus dilakukan adalah kenali anak didik Anda! Bagaimana Caranya? Misalnya, dengan membangun  komunikasi efektif, menumbuhkan empati kepada siswa,  serta membangun hubungan  yang baik dengan para peserta didik.

Tips : Menjadi Guru yang Resourceful

1. Kasih; Kasih adalah modal utama yang sangat penting dan mendasar. Dengan kasih yang tulus maka terbangun sikap solid dan sehat, relasi yang baik, Susasana aman dan menyenangkan. Cara membangun situasi adalah lewat tutur kata, senyuman, dukungan yang ramah dan tulus, dan menyediakan waktu dengan ikhlas.

2. Konsekuensi; Komitmen pada kesepakatan bersama. Untuk membangun kkomitmen sebagai guru yang profesional, guru dituntut berapa hal, antara lain; mampu mengembangkan ilmunya mengikuti proses perkembangan jaman, agar anak didiknya dapat menerima apa yang disampaikan oleh guru. Disiplin dan tertib dalam menjalankan tugasnya. Bagaimanapun konsepnya kalau tidak disiplin maka ilmu itu tidak akan sampai kepada siswa.

3. Konsisten; Sangat penting bagi anak ketika belajar perilaku/konsep tertentu. Karena usia PAUD dalam tahap belajar melaui proses pengulangan, maka yang harus diperhatikan adalah bagaimana seorang pengajar PAUD konsisten dalam mendidik, membimbing, dan mengembangkan ajarannya. Harus diingat, Konsistensi terus dijaga sampai perilaku terbentuk  menjadi kebiasaan. Karena Guru adalah Role Model bagi anak.

4. Kompak; Mendidik anak memang bukan hanya porsinya ibu atau ayah saja, melainkan kolaborasi antara ayah, ibu bahkan guru di sekolahnya. Bagaimana cara membagi ‘tugas’ untuk hal yang satu ini? Seperti juga dalam menjalankan tugas-tugas lainnya, mendidik anak merupakan sebuah kolaborasi antara berbagai pihak. Orangtua, sebagai elemen inti dalam hidup anak, tentunya memiliki peran yang luar biasa penting. Semua yang terlibat dalam pembentukan perilaku harus kompak

5. Kompromi; Pemahaman akan hal ini adalah, mampu bersikap fleksibel dan melakukan penyesuaian dalam situasi-situasi tertentu. Misalnya, penerapan disiplin, pembentukan perilaku, dan pengasuhan.

***materi ini dibawakan pada Pertemuan Pembinaan Kompetensi Guru Taman Seminari , tanggal 17 Oktober 2018 di Bogor - Jawa Barat
(Tentang Ratih Ibrahim : Founder & CEO Personal Growth Counseling and People Development. Beliau adalah seorang psikolog klinis yang telah berpengalaman selama 25 tahun. Selain menjalankan profesi keilmuannya, Ratih juga dikenal sebagai pembicara dan trainer untuk kegiatan-kegiatan seminar, training, dan aktif di media nasional)


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR