ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Adri Lazuardi: Tantangan Jaman, BPK Penabur Harus Berikan Pembelajaran Kreatif

27 Oktober 2018
Adri Lazuardi: Tantangan Jaman, BPK Penabur Harus Berikan Pembelajaran Kreatif
Ketua Umum BPK Penabur, Adri Lazuardi membawakan sambutan sebagai Ketua Terpilih pada Kebaktian Pelantikan Yayasan BPK Penabur 2018-2022 yang berlangsung di Aula SMK 1 Penabur Jl. Tanjung Duren Raya No. 4 Jakarta Barat, Sabtu (27/10/2018). (Scholae/Rafael)
JAKARTA, SCHOLAE.CO - Ketua Umum Yayasan Badan Pendidikan Kristen (YBPK) Penabur, Adri Lazuardi,SH, menegaskan, bahwa lembaga yang kini dipimpinnya harus "Berani Berubah". Hal itu disampaikan usai acara pelantikan kepengurusan baru di Yayasan BPK Penabur, Jakarta, Sabtu (27/10/2018). 

Menurutnya, tantangan BPK Penabur sekarang adalah harus ''Berani Berubah". "Ya, kita melihat, kalau tantangan jaman itu, selalu. Jadi, mau gak mau kita harus memberikan pembelajaran yang lebih kreatif di sekolah-sekolah dibawah pengelolaan BPK Penabur, yang saat ini tersebar di 15 kota di wilayah Jawa Barat dan Bandar Lampung, Sumatera bagian Selatan," ungkap Adri.

Lanjut Adri,  BPK Penabur juga harus memanfaatkan teknologi di dalam metode pendidikan bagi para pengajarnya. Hal ini untuk bagaimana menjadi satu modal bagi para guru agar dapat dimanfaatkan. 

Misalnya, pelajaran sejarah, itu pelajaran yang kadanmg-kadang kurang menarik, tetapi, bagaimana teknologi tersebut bisa digunakan oleh para guru tersebut dalam membimbing peserta didiknya, bagaimana cara mereka melakukan kreativitas untuk bekal selanjutnya. Maka, dengan teknologi tersebut sehingga  sejarah tersebut bisa menjadi menarik bagi para siswa-siswinya.

"Jadi, BPK Penabur melihat bahwa perkembangan jaman ini harus segera kita sikapi. Salah satu yang akan dilakukan kedepannya, yakni akan memberikan suatu pelatihan kepada para guru untuk meningkatkan kemampuan mereka, karena kami tidak mengingkari bahwa masih ada kesenjangan antara para guru dengan para siswa yang masuk di BPK Penabur," urainya. 

Perkembangan kesenjangan tersebut menurut Adri harus disikapi dengan cara memberikan pelatihan pembelajaran yang lebih luas agar dapat meningkatkan kompetensi mereka. Sebab, dengan meningkatkan kompetensi itu kita berharap sekolah-sekolah penabur akan bisa mengahadapi tantangan itu. "

"Kami melihat bahwa ada suatu keberanian untuk melakukan 'perubahan' dalam rangka regenerasi atau kaderisasi. Baik di kalangan para guru maupun di kalangan sumber daya manusia khususnya di bagian operasional. Bagian-bagian dari kaderisasi ini juga adalah bagian-bagian dari suatu keberanian untuk bisa berubah. Keberanian bagaimana kita menempatkan kunci utama untuk melakukan perubahan," terangnya. 

Adri berharap program teknologi itu dapat dikembangkan di 15 kota. Karena bagaimana pun di 15 kota itu BPK Penabur melayani masyarakat melalului bidang pendidikan. "Itu merupakan suatu kewajiban bagaimana memelihara sumber daya itu ke depannya,"tandas Adri. 

Lebih lanjut Adri mengatakan jikalau diberi kesempatan, maka BPK Penabur bisa mengembangkan di kota-kota lain dengan model sekolah seperti Penabur. Karena, Adri melihat model tersebut sebagai sebuah kebutuhan yang dapat kita kembangkan di kemudian hari. 

Disinggung soal e-learning, Adri mengatakan, pihaknya telah mengembangkan e-learning dan sudah hampir 50 persen. Bahkan di beberapa sekolah sudah menggunakan Ipad. Hanya saja kata Adri harus harus diakui bahwa teknologi seperti itu mahal. 

"Ya, buat Penabur yang begitu besar, perubahan itu juga membutuhkan investasi yang besar juga. Tapi, mau tidak mau kami harus menyiapkan itu," ujar Adri. 

Menjawab pertanyaan scholae.co terkait sangat sedikit siswa BPK Penabur yang masuk kuliah di UKRIDA, Adri mengaku pihaknya saat ini sedang menjalin kerja sama yang lebih erat  antara BPK Penabur dan UKRIDA.

"Kami menyebutnya sebagai pola untuk naik kelas. Jadi, begitu dia lulus dari SMA/SMK Penabur, maka dia bisa pindah untuk kuliah di UKRIDA," kata Adri. 

Namun menurut Adri antara sekolah Penabur dengan UKRIDA Harus punya keberanian untuk berubah. "Kita tahu sekarang itu ilmu fakultas ekonomi di perguruan tinggi juga sudah banyak, maka mau tidak mau Universitas Ukrida harus mengikuti perkembangan teknologi tersebut agar dapat berubah, bahkan siswa-siswa dari BPK Penabur bisa pindah kuliah atau melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi di UKRIDA tersebut," pungkas Adri. (Laporan: Rafael)

Editor: Farida Denura
KOMENTAR