ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Simposium Nasional Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan Nasional

01 November 2018
Simposium Nasional Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan Nasional
Menteri Agama Membuka Simposium Nasional (Net)

BANDUNG, SCHOLAE.CO - Lima pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan Katolik ikut hadir secara aktif dalam Simposium Nasional Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan Nasional yang diselenggarakan oleh Puslitbang Balitbang Diklat Agama dan Keagamaan Kementerian Agama RI pada tanggal 21-23 Oktober 2018 di Grand Bidakara Savoy Homann Bandung, Jawa Barat. Simposium diikuti oleh 120 peserta dari lembaga-lembaga Pendidikan Keagamaan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu.

Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan Katolik yang ikut hadir dalam simposium tersebut adalah Suster Kepala Sekolah Menengah Agama Katolik Bhakti Luhur, Malang, Jawa Timur, Romo Kepala Sekolah Menengah Agama Katolik Seminari Mario John Boen, Pangkalpinang, Bangka Belitung, Romo Rektor Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo, Garum, Blitar, Jawa Timur, Bapak Ketua Sekolah Tinggi Pastoral Institute Pastoral Indonesia, Malang, Jawa Timur, dan Suster Kepala Sekolah Tinggi Pastoral Santo Fransiskus Assisi, Semarang, Jawa Tengah.

Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, dalam sesi Orientasi Kegiatan Simposium Nasional, menyampaikan bahwa tujuan dari simposium adalah pertama, untuk menampilkan pengalaman-pengalaman terbaik dalam penyelenggaraan pendidikan keagamaan baik dari segi pengelolaan, kepemimpinan, maupun manajemen;  kedua, membandingkan pengelolaan yang berhasil dan belum berhasil; ketiga, merekomendasi kepada pemerintah dalam mengelola lembaga pendidikan keagamaan untuk menuju Indonesia Emas, tahun 2045.

Sejalan dengan tujuan simposium, sharing best practice di dalam mengelola lembaga pendidikan keagamaan disampaikan oleh pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sekolah Menengah Teologi Kristen Intheos, Surakarta, Jawa Tengah, Damasekha Punnakarya Budha, Tangerang, Banten, Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo, Garum, Blitar, Jawa Timur, Pasraman Gurukula, Bangli, Bali, dan Sekolah Minggu Majelis Agama Konghucu Indonesia, Cibinong, Jawa Barat.

Rektor Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo, RD. Prima Novianto, dalam sharing tersebut menyampaikan bahwa sebagai lembaga yang mendidik para calon imam Gereja Katolik, Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo memiliki visi “Seminari sebagai sekolah calon imam-kader Gereja yang berkesadaran global dan peka tanggap terhadap situasi lokal” dan misi ‘mewujudkan Seminari sebagai komunitas pembelajar dan pembinaan yang membentuk karakter dan kompetensi siswa, yang unggul dalam mutu pendidikan nilai, berbasis 26 nilai kunci”. Ke-26 nilai kunci tersebut diringkas dalam 4 kelompok, yakni Sanctitas, Sanitas, Scientia dan Sosialitas. Sanctitas meliputi imitatio Christi, hidup doa, kerendahan hati, berbelarasa, dan spritualitas Vincentius a Paulo. Sanitas meliputi karakter, ugahari, aksi nyata, bersahabat  membangun relasi kerja tim, solidaritas dan pelayanan. Scientia meliputi kritis (kemampuan intelektual – asah otak), keberanian ilmiah, eksploratif, dan kontekstua. Sosialitas meliputi visi hidup, integritas, komitmen, discernment, keheningan, kesetiaan, daya tahan, disiplin hidup teratur, cekatan, kepekaan masalah masyarakat sosial, keteladanan.

Di hari kedua, pada acara pembukaan resmi kegiatan, Menteri Agama menyampaikan betapa perlu dan pentingnya para pimpinan lembaga pendidikan keagamaan membangun dan mendorong para peserta didik untuk tidak terjatuh pada ritualisme keagamaan semata, melainkan mampu bersikap terbuka (inklusif) atas kemajemukan di negeri ini, mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan agar kedamaian tercipta di negeri yang secara eksistensial plural adanya.

TB Gandhi Hartono, SJ., Sekretaris Eksekutif Komisi  Pendidikan, Konferensi Waligereja Indonesia, dalam paparannya, Spiritualitas Pendidikan Sekolah Katolik Dalam Tegangan Spritualitas Jaman, menyampaikan bahwa identitas pendidikan Agama Katolik berdasar pada empat fokus yaitu pribadi Yesus Kristus, Pembawa damai, cinta dan sukacita bersama, pribadi anak didik, agar mampu beriman, utuh dan berkualitas, pewartaan Gereja, yakni mewartakan kabar gembira, dan masyarakat sosial, yakni persekutuan komunitas umat beriman. Empat fokus tersebut berguna untuk menghadapi tantangan di jaman ini, yaitu budaya instan, budaya online, budaya korupsi dan budaya intoleran.

Romo TB Gandhi menekankan bahwa panggilan dan spiritualitas pendidikan agama Katolik tertuang dalam dokumen Konsili Vatikan II bahwa Ciri khas sekolah pendidikan iman Katolik ialah menciptakan lingkungan hidup bersama, yang dijiwai oleh semangat Injil, cinta kasih, dan mengembangkan kepribadian orang muda”. Pendidikan agama Katolik, harus membuka diri bagi kemajuan dunia modern, mendidik para siswanya dengan tepat-guna serta menyiapkan mereka untuk pengabdian demi mewujudkan damai dan keselamatan dunia (Gravisisimum Educationis 8).

Hadir pada simposium tersebut para narasumber yang memberikan paparan Dirjen Bimas Hindu, Dirjen Bimas Kristen, Dirjen Pendidikan Islam, Direktur Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Profesor Azyumardi Azra.

Pada hari akhir simposium tersebut, para peserta simposium mendeklarasikan 5 hal penting  yang dibacakan bersama oleh enam wakil pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan.

Pertama, Mengarusutamakan pendidikan keagamaan sebagai rumah pendidikan karakter yang terintegrasi dengan pendidikan keluarga, tempat ibadah, sekolah, dan masyarakat, dengan mengembangkan potensi peserta didik secara optimal.

Kedua, Berkomitmen bersama untuk membentengi peserta didik dari perilaku menyimpang yang diakibatkan oleh ekses negatif perkembangan teknologi informasi (media sosial)

Ketiga, Meminta pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama RI bersinergi dengan para penyelenggara lembaga pendidikan keagamaan untuk meguatkan model lembaga pendidikan keagamaan.

Keempat, Menganjurkan kepada pimpinan lembaga pendidikan keagamaan untuk saling mengunjungi, bertukar pikiran, dan berbagi pengalaman dengan melibatkan peran guru dan peserta didik.

Kelima, Mengajak pimpinan lembaga pendidikan keagamaan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR