ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Pendidikan Agama Dalam Bingkai Nilai-nilai Pancasila

07 November 2018
Pendidikan Agama Dalam Bingkai  Nilai-nilai  Pancasila
Dr. Salman Habeahan, Pengawas Pendidikan Agama, Dosen Pendidikan Pada Pascasarjana Universitas Budi Luhur Jakarta. (Foto: Istimewa)
Oleh: Dr. Salman Habeahan

RADIKALISME atas nama agama melawan ideologi bangsa  akhir-akhir ini semakin keras disuarakan sekelompok kecil yang mengaku anak bangsa Indonesia. Infiltrasi ideology, yang ingin menggantikan Pancasila dengan dasar Agama, akan memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peran strategis pendidikan agama yang berorientasi pada paham nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa serta nilai dasar Pancasila menjadi penting untuk dikembangkan dalam pendidikan Agama. 

Perjumpaan Pancasila dan Agama-agama di Indonesia merupakan tema yang menarik untuk didalami khususnya dalam mengembangkan pendidikan agama yang berwawasan religius-kebangsaan. Mengamalkan Pancasila ternyata bukan hanya sekedar ideologi bangsa, sebagai kohesi sosial bagi masyarakat/bangsa Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika, tetapi nilai-nilai Pancasila merupakan roh yang sangat aktual, relevan dihayati dalam perjumpaan roh kebangsaan dan keagamaan. 

Pendidikan (agama) sudah seharusnya seiring dengan pengembangan nasionalisme kebangsaan agar sejalan dengan Nawacita Presiden Joko Widodo untuk memperkuat karakter bangsa yang berkepribadian Pancasila. Presiden Joko Widodo menegaskan pentingnya penguatan pendidikan character Pancasila dalam pendidikan. Maka Kementerian Pendidikan & Kebudayaan, Kemenristek Dikti dan Kementerian Agama seharusnya merevitalisasi nilai-nilai Pancasila dengan penguatan pendidikan karakter Pancasila menjadi salah satu aspek penting yang harus diwujudkan dalam seluruh mata pelajaran di sekolah termasuk dalam pendidikan agama dan budi pekerti, pendidikan agama yang berjiwa Pancasila. 

Paham Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila 
Paham Ketuhanan Yang Maha Esa mau mengatakan bahwa semua agama substansinya sama dimana Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung makna multi agama, bukan satu agama tetapi nilai-nilai universal dari semua agama dikemas dalam Pancasila. Konsep dalam Ketuhanan Yang Maha Esa mempersatukan multi agama, dimana nilai-nilai  universal semua agama dikemas dalam Pancasila, dimana Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi payungnya (Komaruddin Hidayat, 2018). Ketuhanan Yang Maha Esa tidak boleh dipandang sekunder, tetapi semua agama dijamin, dilindungi oleh Negara. Konsepsi keindonesiaan itu ditampakkan oleh alam symbol-simbol agama yang bukan merupakan fundasi dari syariah/ajaran susbtansi sebuah agama.

Dalam fenomenologi agama, predikat-predikat yang terkandung dalam nama atau kata TUHAN  lebih esensial dari pada istilah Tuhan itu sendiri. Keesaan Tuhan menyatakan bahwa dalam setiap suku dan bangsa yang beragama (apapun agamanya) selalu terdapat pengalaman-pengalaman, ajaran-ajaran, keyakinan-keyakinan akan hal tertinggi yang diluar manusia, diluar alam ciptaan Tuhan. 

Kemahaesaan Tuhan seperti terkandung di dalam Pancasila adalah ungkapan yang padat dan jitu dari keabsolutan kebenaran tersebut. Kemahaesaan Tuhan merupakan konsekuensi logis dari hakekat manusia sebagai mahluk beragama. Jadi, kenyataan pluralisme agama tidak bertentangan dengan kemahaesaan Tuhan. Dan sebaliknya ,justru dalam pluralisme agama terletak arti dan makna yang sejati, perwujudan dan penjabaran yang benar dari kemahaesaan Tuhan. 

Rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa” merupakan rumusan yang sangat cerdas para Founding Fathers and Mothers kita untuk menggantikan rumusan “Piagam Jakarta” dalam Pancasila yang merupakan tanda bahwa para pendiri bangsa ini terutama para pemimpin kita yang Muslim ketika itu sangat arif menjaga persatuan bangsa Indonesia sejak sebelum kemerdekaan. Mereka sadar bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki religiositas yang mendalam yang tidak bisa didasarkan pada agama tertentu saja. Perumusan itu dilakukan untuk merangkul semua agama yang ada di Indonesia.Perumusan itu merupakan pengakuan akan realitas  bangsa Indonesia yang sangat plural, dan perlu diisi dengan kearifan local, dan religiositas setiap agama yang ada di bumi Indonesia.

Meskipun secara eksoterik, agama itu bersifat plural, namun secara esoterik semuanya akan bermuara kepada Satu Tuhan atau Tuhan Yang Maha Esa. Sebab semua agama monoteistis, baik Yahudi – Kristen – Islam, yang bersumber pada Abrahamic religious, pada hakekatnya didasarkan pada basic ideas tentang Keesaan Allah. Dalam istilah Filsafat Perenial (the perennial philosophy) kesamaan itu diistilahkan dengan transenden unity of religions (kesatuan transenden agama-agama). Sebab, kebenaran ajaran Tuhan itu ibarat cahaya. Ia akan dijumpai di berbagai kelompok agama dan masyarakat yang senantiasa mendengarkan suara hati nuraninya yang suci dan mau menggunakan akalnya secara sehat dapat merupakan diskurus pendidikan agama yang mencerdaskan.

Kekayaan religiositas  yang ada pada agama-agama besar, dan ada juga pada agama-agama asli yang ada di Indonesia akan mengisi religiositas pada sila I Pancasila. Dan perjumpaan paham Allah yang merupakan bukti akan adanya pluralisme agama pada gilirannya akan menolong kita untuk saling mengerti, menghargai dan memperkaya pemahaman kita akan Allah dalam konsep monoteisme dalam Pancasila. Paham dan nilai spiritual yang terkandung dalam Sila Pertama Pancasila dapat menjadi landasan ontologis dalam memahami dan merevitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan Agama.

Pendidikan Agama Berbudi Pekerti Pancasila
Pendidikan agama yang diubah menjadi “pendidikan agama dan budi pekerti”, bukan hendak mempertentangkan bahwa budi pekerti masing-masing agama berbeda, melainkan agar pendidikan agama berbasis pada nilai-nilai moral Pancasila, menuntun peserta didik menjadi manusia yang berahlak mulia dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan konteks keindonesiaan. Dengan demikian pendidikan agama  lebih inklusif dimana pengajaran agama di sekolah tidak hanya berhenti pada paham dan doktrin keagamaan masing-masing agama, tetapi dihayati dalam konteks kebangsaan sesuai dengan nilai-nilai moral Pancasila sebagai Dasar Negara, jalan hidup bersama (modus Vivendi); membangun sikap dan karakter peserta didik berbudi pekerti luhur, toleran, bersikap adil, dan menghargai kebhinekaan.  

Pancasila dalam perjumpaan dengan Agama-agama di Indonesia, dalam konsep Ketuhanan Yang Maha Esa mengakomodasi kebutuhan pemahaman dari semua iman dan kepercayaan keagamaan yang ada di Indonesia, dengan memberikan ruang tafsir yang khas bagi semua agama dan kepercayaan. Maka Pendidikan Agama yang Pancasilais dapat berkembang dengan menggali dari Roh  Pancasila,  nilai-nilai dalam setiap Sila Pancasila.

Pertama, bangsa Inonesia adalah bangsa Pancasila yang dalam karakter religiusnya yang modern sebagaimana formulasi Ketuhanan Yang Maha Esa (sila pertama) sebagai dasar metafisis untuk keempat sila lainnya (Nurcholis Madjid, Indonesia Kita, 109). Semua komunitas agama, budaya dan kepercayaan diundang agar berpartisipasi aktif dan kreatif dalam pendidikan agama; menggali, merevitalisasi dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Sebagai bangsa yang religius tentu sangat diharapkan dalam hidup berbangsa dan bernegara dapat menjadikan agama sebagai inspirasi yang mengilhami pergulatan kebangsaan kita. Begitu juga sebaliknya nilai-nilai Pancasila dapat menjadi roh ‘penanda’ apakah keberagamaan kita sudah benar-benar sesuai dengan konteks keindonesiaan kita; menghargai kebhinekaan, bersikap toleran, hidup rukun sebagai warga Negara yang beraneka ragam agama, suku, budaya dan agama. 

Dan dalam sila pertama Pancasila, kemahaesaan Tuhan merupakan konsekuensi logis dari hakekat manusia sebagai mahluk beragama. Konteks pluralitas agama tidak bertentangan dengan kemahaesaan Tuhan. Dan sebaliknya, justru dalam pluralitas agama terletak arti dan makna sejati kebesaran dan kemahaesaan Tuhan  hendaknya dihayati sehingga roh Pancasila sebagai roh kebangsaan benar-benar menjadi keutamaan sosial  yang inklusif, menginspirasi, menyatukan semua golongan sosial, etnis, agama, bahasa dan aspirasi hidup (W. Chang, 2009).

Kedua, nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab sila kedua Pancasila dapat menjadi inspirasi dalam mengembangkan diskursus pendidikan agama di sekolah, kampus, yang lebih humanis, moderat dan inklusif,  berkeadilan, semakin beradab dalam  kebersamaan sebagai anak bangsa. Sebab tujuan hidup beragama (menciptakan kemaslahatan manusia di muka bumi) justru dihayati oleh setiap umat beragama dalam kehidupan berbangsa yang bhineka. 

Pendidikan Agama hendaknya juga mengajak peserta didik  sebagai warga bangsa yang berke-Tuhanan untuk menggali dan menghayati nilai terdasar yang tercantum dalam Pancasila mengenai keluhuran martabat manusia, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Adil dan beradab dua sikap yang saling melengkapi. Adil dalam kehidupan bermasyarakat berarti setiap warga masyarakat mendapatkan haknya dan menjalankan kewajibannya sebagai warga bangsa. Dan beradab artinya, manusia mampu hidup dengan mengikuti norma, aturan, hukum (agama dan Negara) yang dijunjung tinggi; dimana martabat setiap orang dihargai, perbedaan dihormati, yang lemah dilindungi. Orang yang bersikap adil dan mewujudkan keadaban merupakan penanda bahwa orang tersebut memiliki nilai-nilai spiritual yang dalam, orang beragama yang baik. 

Ketiga, Pancasila sebagai ideology Bangsa, yang mengatur tata hubungan antara manusia yang bhineka dalam segala bentuknya sebagaimana diatur dalam sila ke 2 sampai ke 5 Pancasila, tidak hanya dilihat dari segi kemanusiaan belaka, tetapi dalam kaitannya dengan “Tuhan”.  Manusia dilihat secara sakral religius-teologis, sebagai citra Allah sehingga kehidupan spiritual umat beragama dapat terinspirasi menghayati nilai-nilai agamanya dalam bingkai roh Pancasila, roh kebangsaan dalam semangat Bhineka Tunggal Ika. Maka pendidikan Agama dan Budi Pekerti tidak boleh terisolasi dari realitas kemajemukan Indonesia dan diikat oleh semangat persatuan (diversity) : satu bangsa, bahasa dan satu tanah air Indonesia (Sumpah Pemuda).

Keempat, dalam prinsip kelima (prinsip ketuhanan) menegaskan agar setiap orang dapat menyembuh Tuhan dengan cara leluasa. Segenap rakyat Indonesia hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada egoisme agama. Dan setiap warga bangsa diharapkan mengamalkan ajaran agamanya dengan cara berkeadaban; hormat menghormati, toleran satu sama lain. Penghayatan keagamaan dalam prinsip ketuhanan dapat menginspirasi dalam pendidikan agama di Indonesia yang dialogis, mengamalkan Pancasila dan hidup secara berkeadaban. Perjuangan untuk menjadi makin beradab wujudnya adalah menciptakan kondisi yang memungkinkan untuk hidup bersama dalam keperbedaan, dalam semangat persatuan dalam prinsip bhinkea tungga ika.

Kuatnya tekanan ideology religio-politik, yang menekankan penerapan syariah secara kafah dan khilafah bertentangang dengan idelogi Pancasila (Ulil Absor, 2014). Mengamalkan Pancasila, dapat dikatakan sebagai ideology komprehenship tentang inklusi sosial yang dapat menyertakan keberagaman agama dan kepercayaan, asal-usul manusia, ragam etnis dan adat istiadat, serta aliran politik dan kelas social dalam kehidupan publik setiap anak bangsa. 

Kelima, nilai keadilan sosial, membela kebenaran, kejujuran dan mewujudkan keadilan merupakan panggilan profetis semua agama yang sangat kaya untuk direnungkan dalam pendidikan agama di sekolah. Semua aktivitas bernegara terkait dengan demokrasi social dan demokrasi ekonomi (keadilan social) dilakukan dengan sikap bertanggungjawab di hadapan Tuhan. Nilai kerakyatan yang adil dan beradab mengajarkan agar anak-anak bangsa ini belajar untuk hidup berdemokrasi. 

Pendidikan agama diharapkan melahirkan kewibawaan religius yang cerdas, mengenai argumen ilmu-ilmu manusiawi rasional dan bertaqwa serta mampu mengintegrasikan ketaqwaan itu dalam bingkai nilai-nilai Pancasila, keindonesiaan  sehingga Pancasila sebagai system nilai, etika, moral social dihayati dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama tanpa bermaksud men-Pancasilakan Agama dan meng-agamakan Pancasila. 
Kelima sila dalam Pancasila merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai universal semua Agama. Persoalan utama sesungguhnya bangsa ini bukan terletak pada substansi dan  nilai-nilai utama yang terkandung baik dalam Pancasila maupun agama. Agama dan Pancasila memainkan peranan penting dalam proses transformasi kultural, politik, ekonomi dan pendidikan sehingga  Pancasila semakin dihayati dalam semangat monoteisme agama sebagai bangsa yang religius. Peran strategis guru agama yang memiliki nasionalisme kebangsaan, menghayati nilai-nilai luhur Pancasila dapat menjadi role-model dalam pendidikan agama; bukan sebaliknya menjadi guru agama yang intoleran depisit nilai nasionalisme religius.
  
Dr. Salman Habeahan, Pengawas Pendidikan Agama, Dosen Pendidikan Pada Pascasarjana Universitas Budi Luhur Jakarta.


Editor: Dr Salman Habeahan
KOMENTAR