ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Pustakawan Sekolah Penggerak Minat Baca

04 Desember 2018
Pustakawan Sekolah Penggerak Minat Baca
(ki-ka) Srianni Ritonga, Kepala SD RGM Bloksongo, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara; Kartika Isnaini, Pustakawati SDN 173 Tanjung Benanak, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi; Margaretha Ari Widowati, Deputi Direktur Program PINTAR Tanoto Foundation; dan Susanti Sufyadi, Kasie

JAKARTA.SCHOLAE.CO - Mengutip data Kemdibud tahun 2018, sebanyak 36,22 persen sekolah dasar di Indonesia masih belum memiliki perpustakaan. Ketiadaan perpustakaan sekolah itu, juga pernah terjadi selama 14 tahun di SDN 173/V Tanjung Benanak yang berada di perkampungan transmigrasi SP3 Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Sejak berdiri tahun 1996 sampai 2011, sekolah ini tidak memiliki perpustakaan sekolah.

“Keterbatasan ruang kelas dan tidak adanya buku bacaan membuat kami belum memikirkan perlu adanya perpustakaan sekolah,” kata Kartika Isnaini, Pustakawati SDN 173/V Tanjung Benanak saat memaparkan pengalamannya meningkatkan kualitas perpustakaan sekolah pada acara Festival Perpustakaan Kemdikbud 2018, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Inspirasi untuk membuat perpustakaan muncul pada akhir tahun 2011 setelah sekolahnya mendapat bantuan buku bacaan dan pelatihan mengembangkan budaya baca dari Tanoto Foundation. “Kami memanfaatkan toilet rusak berukuran 2 x 3 meter direnovasi menjadi perpustakaan sekolah. Ukurannya kecil tetapi kami menggerakkan budaya baca melalui perpustakaan ini. Buku-buku bacaan mulai kami sebarkan ke pojok-pojok baca di semua kelas. Saya pustakawati yang mengatur sirkulasi pembaruan bukunya,” tukasnya.

Kartika menyadari kunci keberhasilan meningkatkan budaya baca adalah penyediaan buku-buku bacaan baru yang berkelanjutan. Untuk itu dia bersama kepala sekolah dan para guru memikirkan cara untuk memperbarui buku disaat sekolah memiliki keterbatasan anggaran. Mereka mendapatkan empat gagasan yang langsung ditindaklanjuti.

Pertama, mendatangi kepala desa setempat untuk mendapatkan pinjaman buku perpustakaan desa. Hasilnya, sekolah mendapatkan pinjaman 200 buku bacaan persemester. Kedua melibatkan alumni untuk menyumbang satu buku bacaan sebelum mereka lulus. Ketiga, menganggarkan dana bos sekitar empat persen untuk membeli buku bacaan. Keempat, orang tua siswa dilibatkan untuk membelikan buku-buku kesukaan siswa. Buku itu setelah dibaca anaknya, mereka dapat saling bertukar buku dengan temannya.  “Dari upaya ini, setiap semester kami mendapat sekitar 400an buku bacaan baru,” katanya lagi.

Upaya kreatif tersebut membuat para siswa memiliki banyak pilihan buku untuk dibaca. Buku-buku tersebut disebar ke setiap kelas agar siswa lebih mudah membacanya. Sekolah juga membuat program kampanye membaca setiap hari. Program ini sudah dilakukan sejak tahun 2014 sebelum kebijakan membaca 15 menit dijalankan Kemdikbud.

Inisiatif baik ini, membuat sekolah mendapat penghargaan dari Tanoto Foundation. Sekolah mendapat bantuan pembangunan perpustakaan baru berukuran 36 meter persegi yang dilengkapi lemari, mebeleir, dan buku-buku bacaan. Bantuan ini semakin membuat program budaya baca sekolah berkembang. Sekolah membuat jadwal rutin, setiap kelas wajib mengunjungi perpustakaan seminggu dua kali. Baik untuk kegiatan pembelajaran atau membaca rutin.

Setelah siswa senang dan terbiasa membaca, sekolah memiliki program untuk mendorong siswa lebih memahami isi buku yang dibaca. “Bentuknya dengan melatih siswa menulis, menceritakan kembali isi buku, menggambar tokoh buku dalam poster, atau membuat kegiatan bedah buku,” kata Kartika.

Di sekolah ini, sejak kelas tiga para siswa juga sudah dibiasakan membuat buku cerita sendiri. Ide, gambar, dan isi ceritanya semua dari siswa. Guru membimbing mereka dalam proses pembuatannya. Setelah selesai dibuat, buku tersebut dijilid sendiri. Bukunya disimpan di pojok baca kelas dan juga di perpustakaan sekolah. “Ternyata buku buatan siswa juga menarik minat siswa lain untuk membacanya,” kata Kartika menunjukkan buku-buku hasil tulisan siswa.

Perjuangan Kartika bersama warga sekolah, berhasil menghadirkan fungsi dan peran perpustakaan untuk meningkatkan kemampuan literasi anak. Dari jurnal membaca yang ditulis oleh siswa, tampak dalam seminggu siswa membaca setidaknya 2-3 buku bacaan. Hal ini menunjukkan minat membaca siswa sudah berkembang dengan baik.

Bahkan kegiatan literasi ini juga dikembangkan dalam pembelajaran. Misalnya, dalam membuat laporan percobaan IPA, siswa menulis laporannya dalam bentuk buku tutorial. Buku tersebut berisi tulisan siswa menceritakan alat dan bahan, cara kerja, sampai kesimpulannya setelah melakukan percobaan.

Kini telah banyak buku tutorial yang dibuat siswa. Seperti buku tutorial tentang kincir angin, praktik membuat rangkaian listrik lampu lalu lintas, cara kerja parasut, simetri lipat, dan masih banyak lagi,” kata Kartika sambil menunjukkan buku-buku yang dibuat para siswanya. Dia juga menyebut keteladanan menjadi faktor penting keberhasilan dalam menumbuhkan minat membaca. “Saat meminta anak membaca, maka guru, kepala sekolah, dan orang tua juga harus membaca,” katanya lagi.


Perpustakaan Kecil Terbaik

Pengalaman mengembangkan perpustakaan sekolah, juga diuraikan Srianni Ritonga, Kepala SDS RGM Bloksongo. Sekolahnya memiliki ruang perpustakaan sekolah yang juga tidak terlalu luas, sekitar 23 meter persegi. Dengan beragam program untuk meningkatkan kemudahan membaca buku, perpustakaan sekolah ini diganjar menjadi juara 1 perpustakaan SD terbaik sekabupaten, dan tahun 2018 ini meraih juara 2 perpustakaan SD terbaik seprovinsi Sumatera Utara.

Sebelumnya perpustakaan sekolah menyatu dengan ruangan guru. Pintu masukpun berhadapan dengan toilet sehingga membuat ruangan perpustakaan menjadi tempat yang tidak nyaman. Koleksi buku bacaan juga hanya sekitar 30 buku saja padahal jumlah siswanya lebih dari 200.

"Kami mengawali perbaikannya dengan menata perpustakaan menjadi tempat membaca yang nyaman untuk membaca dan belajar. Perpustakaan yang dulunya pengap, direnovasi dan diberi karpet agar siswa bisa lesehan membaca. Buku-buku bacaan diperbarui dengan menggandeng Tanoto Foundation, perpustakaan daerah, orang tua, dan mengalokasikan dari dana BOS,” kata Srianni.

Ruangan perpustakaan yang tidak besar, membuat sekolah menyediakan alternatif tempat untuk membaca. Misalnya, membuat pondok baca berukuran 2 x 8 meter, memanfaatkan teras kelas menjadi teras membaca, dan membuat sudut baca di semua kelas. Buku-bukunya disuplai dari perpustakaan sekolah. Seminggu sekali pustakawan sekolah mengganti buku-buku bacaan di tempat-tempat membaca tersebut. “Upaya ini yang membuat kami mendapat penghargaan sebagai perpustakaan SD terbaik,” kata Srianni lagi.

SDN 173 Tanjung Benanak dan SD RGM Bloksongo adalah dua sekolah mitra Tanoto Foundation. Sejak tahun 2010-2017, Tanoto Foundation membantu meningkatkan kualitas pembelajaran, budaya baca, dan lingkungan sekolah di lebih dari 500 sekolah dasar di Provinsi Sumatera Utara, Jambi, dan Riau. Mulai tahun 2018, menurut Stuart Weston, Direktur Program PINTAR Tanoto Foundation, dukungan program peningkatan kualitas pendidikan dasar ini diperluas di Provinsi Jawa Tengah dan Kalimantan Timur.    “Perluasan program juga mencakup di SD, MI, SMP, dan MTs. Targetnya dalam lima tahun ke depan ada lebih dari 12.000 sekolah dan madrasah yang mendapat manfaat program peningkatan kualitas pendidikan dasar Tanoto Foundation,” kata Stuart.


Perlu Disebarluaskan

Praktik baik di dua sekolah tersebut, menurut Susanti Sufyadi dari Direktorat Pembinaan SD Kemdikbud, perlu disebarluaskan. Walaupun berada di pedalaman, mereka bisa menghadirkan kelas yang kaya yang literasi. Perpustakaan sekolah bisa mendukung program literasi sekolah. Semua kelas disediakan buku-buku bacaan yang diperbarui rutin sehingga anak terstimulus untuk membaca.

“Di dalam pembelajaran siswa juga lebih banyak berpraktik dan menganalisa berbagai informasi. Bahkan mereka sampai membuat laporan dalam bentuk buku tutorial yang ditulis dengan kata-kata siswa sendiri. Kegiatan ini mengembangkan dimensi berpikir level tinggi, inilah bentuk pembelajaran HOTS,” kata Susanti. Praktik baik dua sekolah tersebut juga dinilai telah sesuai dengan panduan yang dikeluarkan Kemdikbud. Pembelajarannya juga tidak harus canggih, sederhana,  humanis, dan bisa mengakomodir kebutuhan anak. “Inilah bukti bahwa pembelajaran HOTS bisa dilaksanakan semua sekolah,” katanya lagi.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR