ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Politisi Serukan Revolusi Pendidikan untuk Hadapi Revolusi Industri

07 Desember 2018
Politisi Serukan Revolusi Pendidikan untuk Hadapi Revolusi Industri
Revolusi pendidikan hadapi revolusi industri (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Anggota DPR RI Budiman Sudjatmiko mengatakan dalam menghadapi revolusi industri 4.0, pemerintah harus berinvestasi besar dalam sektor digital dan riset teknologi.

"Kita perlu membangun institusi dan kelembagaan serta menyiapkan infrastruktur informasi untuk masyarakat digital yang akan segera lahir," katanya dalam pidato kebudayaan berjudul "Indonesia 4.0: Berguru pada Alam yang Terkembang" sebagai bagian dari rangkaian acara Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Kamis, (6/12).

Politisi PDIP itu menuturkan gelombang revolusi 4.0 yang tak terhindarkan akan mengantar lahirnya anak-anak era digital. "Namun apakah para 'digital native' mampu lahir sebagai bayi yang sehat dan tumbuh menjadi generasi digital yang cerdas dan produktif akan sangat bergantung kepada kesiapan infrastruktur informasi dan institusi," ujarnya.

Berlomba dengan waktu yang semakin dekat, maka kesiapan negara untuk menghadapi era digital harus optimal agar bisa menjadi pemain dan tidak tertinggal di tengah perkembangan zaman yang pesat. Setelah infrastruktur informasi, Budiman mengatakan perlu juga disiapkan sumber daya yang kompetitif dengan memanfaatkan segala peluang yang terbuka di era digital. "Akses terhadap teknologi merupakan prasyarat utama mobilitas sosial di era digital.

Namun polanya masih tetap sama bahwa hal tersebut saat ini masih dipengaruhi oleh level pendidikan, pendapatan, dan pertemanan seseorang. Oleh karena itu, pemerataan akses harus disertai peningkatan literasi atas teknologi," jelasnya.

Lebih lanjut, dia menuturkan revolusi teknologi juga mengharuskan sesegera mungkin melakukan revolusi pendidikan. "Pendidikan di era digital harus memberikan penekanan pada penguasaan cara belajar daripada sekadar banyak tahu karena banyak tahu bukan lagi keistimewaan saat ini," tambahnya.

Dunia sekarang ini, sebutnya hanya butuh beberapa gelintir manusia imajinatif yang mampu secara matematis dan komputasional, berpikir kreatif di luar yang biasanya dan mengubah cara hidup bermiliar-miliar dalam hitungan tahun saja. "Hanya dengan penguasaan cara belajarlah, dalam rupa kemampuan berpikir kritis dan merumuskan pertanyaan dengan tepat yang akan membuat manusia Indonesia mampu adaptif dan tidak gagap terhadap perubahan cepat masa depan," ujar Budiman.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR