ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Pimpinan Kampus Himbau Milenial Pahami Nasionalisme Era Digital

07 Desember 2018
Pimpinan Kampus Himbau Milenial Pahami Nasionalisme Era Digital
Kuliah umum dan talkshow tentang nasionalisme di era digital (Net)

YOGYAKARTA, SCHOLAE.CO - Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Ir. Panut Mulyono mengatakan generasi muda yang saat ini populer disebut kaum milenial, harus bisa memahami dan mengerti tentang arti nasionalisme di era digital agar bisa membawa dampak bagi bangsa dan dirinya ke arah lebih baik. "Generasi muda sebagai pengguna serta pengembang teknologi informasi perlu mengerti bagaimana menerjemahkan kata nasionalisme diera digital," katanya dalam Kuliah Umum dan Talkshow bertajuk "Nasionalisme di Era Digital" di Grha Sabha Prama UGM Yogyakarta, kemarin.

Menurutnya nasionalisme tidak terbatas pada perilaku maupun tindakan yang bebas dari paham-paham yang bertentangan dengan nilai Pancasila dan UUD 1945. Akan tetapi, sebutnya lebih dari itu bagaimana mereka bisa memanfaatkan keberadaan teknologi digital untuk berinovasi dan berkarya menghasilkan produk-produk yang memberikan dampak besar bagi bangsa dan negara. "Nasionalisme itu bagaimana kalian bisa berinovasi, mampu memberikan dampak ekonomi yang besar, serta menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat," tambahnya.

Dia menjelaskan beberapa 'startup' karya anak muda Indonesia seperti Go-Jek, Bukalapak, Tokopedia dan yang menjadi wujud nyata peran serta generasi muda untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta mengangkat harkat dan martabat Indonesia di mata dunia.

"Kami berharap kalian yang hadir pada sore hari ini juga mampu berperan dan bergabung dengan anak muda lainnya untuk bergerak bersama melakukan kewirausahaan sosial dan membawa kita ke kondisi yang lebih maju, lebih baik, lebih sejahtera," jelasnya.

Di sisi lain, fakta yang dipaparkan Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika RI Gun Gun Siswandi, terungkap bahwa saat ini baru sekitar 143 juta orang atau sekitar 54 persen penduduk Indonesia sudah mengakses internet.

"Hampir semua pengguna internet tersebut menggunakan internet untuk mengakses media sosial," katanya. Menurutnya perkembangan internet, saat ini tidak hanya berbicara tentang aspek infrastruktur, akan tetapi juga aspek penggunanya, sehingga pengguna internet harus bisa mengendalikan agar tidak berdampak negatif bagi dirinya maupun orang lain.

Karena itu, kata dia, melalui berbagai program, Kementerian Kominfo berusaha mempersiapkan masyarakat untuk bisa memanfaatkan internet secara bijak untuk hal-hal yang bermanfaat.

"Masyarakat selain perlu melek digital, juga perlu dididik agar lebih cerdas menggunakan media sosial untuk menyebarkan hoaks dan hal negatif lainnya," katanya. "Kita juga harus bisa mengendalikan teknologi, bukan kita yang dikendalikan oleh teknologi," katanya.

Dia juga mengatakan, perkembangan industri kreatif sektor teknologi digital yang kini semakin digandrungi serta peranan teknologi digital dinilai mampu menjadi tameng nasionalisme dari serbuan budaya asing, radikalisme dan intoleransi.

"Kebutuhan manusia saat ini bukan hanya sandang, pangan dan papan, tetapi juga informasi. Memasuki era digital, pola pikir serta perilaku kita juga harus disesuaikan dengan perkembangan tersebut," katanya.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR