ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Hadapi Era Industri 4.0, Pemerintah Akan Revitalisasi SMK

14 Desember 2018
Hadapi Era Industri 4.0, Pemerintah Akan Revitalisasi SMK
Revitalisasi SMK hadapi Era Industri 4.0 (Net)

MALANG, SCHOLAE.CO - Pemerintah menyatakan bahwa memasuki era industri 4.0 perlu adanya revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ada di Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil pada bidang teknologi digital seiring dengan pertumbuhan ekonomi digital dan sektor e-commerce.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa pemerintah melakukan kerja sama revitalisasi SMK agar para lulusan yang dihasilkan mampu mengisi kebutuhan dunia industri.

Untuk Provinsi Jawa Timur, SMKN 4 dan SMKN 11 Kota Malang dipilih untuk menjadi `pilot project pertama dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) bidang ekonomi digital di Indonesia.

"Seminggu yang lalu, saya mengundang Gubernur Jawa Timur bersama tujuh Gubernur lainnya dan Bupati Lampung Barat. Di situ kita bahas komitmen pusat dan daerah dalam revitalisasi SMK", kata Darmin, dalam kunjungan kerjanya ke SMKN 4 Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (13/12) dikutip Antara.

Darmin menjelaskan, setidaknya ada dua alasan penting yang mendasari kerja sama tersebut, yakni kewenangan SMK ada pada Pemerintah Provinsi sehingga revitalisasi akan berjalan dengan baik bila melibatkan pihak yang terkait. Kemudian, daerah tentu lebih memahami kebutuhan dan potensi daerahnya masing-masing.

"Kebutuhan jurusan SMK pada setiap provinsi pun dapat berbeda karena potensi dan sektor unggulan setiap daerah juga berbeda,"  ujar Darmin.

SMKN 4 dan SMKN 11 Kota Malang memiliki jurusan yang sejalan dengan perkembangan tren global, seperti jurusan animasi, rekayasa perangkat lunak, teknik komputer serta jaringan dan mekatronik. Lulusan SMK-SMK tersebut nantinya akan bisa menghasilkan tanaga ahli desainer tiga dimensi, dan lain-lain.

Era industri 4.0 dan ekonomi digital saat ini juga akan mengubah kebutuhan SDM ke depan. Pada era tersebut akan ada pekerjaan yang terdampak otomasi industri, sehingga membutuhkan peningkatan dan pemantapan skill tenaga kerja.

Selain itu, juga akan melahirkan pekerjaan baru dengan kualifkasi skill tinggi di bidang teknologi digital.

Sejalan dengan hal tersebut, Kemenko Perekonomian bersama kementerian atau lembaga terkait dengan dibantu World Bank Group telah menginisiasi dan menjalankan program sistem monitoring skill untuk mendapatkan kebutuhan skill tersebut.

Menghadapi perkembangan itu pula, revitalisasi SMK harus dilakukan secara menyeluruh, dimulai dari perbaikan kurikulum SMK yang sesuai dengan tren ke depan.

Selanjutnya akreditasi dan sertifikasi juga perlu ditingkatkan. Sertifikasi harus mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia yang direkognisi oleh industri, termasuk mengadopsi standar sertifikasi yang sudah ada.

Perubahan kurikulum pun perlu didukung ketersediaan guru produktif. Untuk itu, perlu dilakukan training of trainer (ToT) bagi guru adaptif dan normatif menjadi guru produktif. Guru produktif juga dapat berasal dari industri dengan terus dilakukan kebijakan penyetaraan.

Kemudian untuk meningkatkan kemampuan skill, siswa juga perlu dimagangkan di industri agar dapat mempelajari etos kerja dan dunia kerja secara langsung. Selain itu, SMK juga perlu membuka jurusan yang sesuai tren perkembangan zaman agar lebih menarik minat untuk masuk ke SMK, seperti jurusan kopi, musik, animasi, dan jurusan ekonomi digital lainnya.

"Keterlibatan industri juga diperlukan untuk merevitalisasi SMK," kata Darmin.

Pemerintah sedang menyiapkan insentif bagi industri yaitu insentif pajak super deduction sebesar 200 persen. Insentif tersebut penting mengingat struktur industri Indonesia 99 persen adalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Pemerintah juga sedang menyiapkan alternatif sumber pembiayaan bagi vokasi melalui skema Skill Development Fund dan Unemployment Benefit. Hal ini untuk menyiapkan pembiayaan dan pelatihan pengembangan skill bagi tenaga kerja antara lain tenaga kerja terdampak otomatisasi, pengaruh krisis ekonomi, dan berhenti kerja sementara.

Darmin mengharapkan komitmen dan peran aktif dari Gubernur Jawa Timur, Walikota Malang dan Dinas terkait dalam kerjasama ini. 2 (dua) SMK dalam pilot project ini diharapkan menjadi acuan bagi SMK lainnya di Indonesia yang juga akan mengembangkan jurusan di bidang ekonomi digital.

"Jadi infrastruktur fisik kita bangun, SDM kita siapkan, dengan begitu kita harapkan bisa menjadi bangsa yang besar," tutup Darmin.




Editor: Maria L Martens
KOMENTAR