ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Soft Skill Kunci Sukses Dunia Kerja

17 Desember 2018
Soft Skill Kunci Sukses Dunia Kerja
Metode seminar salah satu sarana mengembangkan soft skill generasi milenial (Net)

LEMBAGA-LEMBAGA yang paling intelek dan bergengsi di Indonesia sampai saat ini masih mengandalkan IQ sebagai tolok ukur utama. Padahal, soft skills-lah yang mendasari terciptanya kolaborasi, pengambilan keputusan, dan eksekusi yang efektif untuk mendongkrak performa organisasi. Akibatnya, banyak pimpinan yang mengeluhkan kesenjangan bertingkah laku para rekrutan barunya. Masalahnya, bukan terletak pada kecerdasan. Dengan stimulus kognitif yang lebih variatif semenjak usia dini, para milenial ini  jadi malah memeliki kecerdasan yang jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Namun, kesiapan mereka memasuki dunia kerja inilah yang benar-benar perlu kita perhatikan.

Soft skills adalah istilah sosiologis yang berkaitan dengan kecerdasan emosional, sifat kepribadian, ketrampilan sosial, komunikasi, berbahasa, kebiasaan pribadi, keramahan, dan optimisme yang mencirikan kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain. Soft skills merupakan kecerdasan emosional dan sosial (Emotional Inteligence Quotient) yang sangat penting untuk melengkapi hard skills atau kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient). Soft skill menyangkut karakter pribadi seseorang yang dapat meningkatkan interaksi individu, kinerja pekerjaan dan prospek karir. Tidak seperti hard skill  yang berkenaan dengan kemampuan menyerap ilmu atau keahlian dan kemampuan untuk melakukan jenis tugas atau kegiatan tertentu, soft skill berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk berinteraksi secara efektif dengan sesamanya  baik di dalam dan di luar tempat kerja.

Soft skills adalah bentuk kompetensi perilaku sehingga dikenal pula sebagai keterampilan interpersonal atau people skills, yang mencakup keterampilan komunikasi, resolusi konflik dan negosiasi, efektivitas pribadi, pemecahan masalah secara kreatif, pemikiran strategis, membangun tim, keterampilan mempengaruhi dan keterampilan menjual (gagasan atau ide).

Kesiapan  mental dan sikap kerja inidividu

Berdasarkan beberapa studi, Experd membuat sebuah pengukuran untuk meihat kesiapan seorang individu mengikuti irama kerja di organisasi yang pastinya berbeda dengan dunia dibangku kuliahnya. Studi-studi terbaru tersebut  menunjukkan bahwa kompetensi paling utama yang harus dimiliki oleh pencari kerja ini adalah kemampuan untuk berubah dan belajar, ditamba dengan kemampuan evaluasi diri dan berefleksi. Bila semua hal diatas sudah dimiliki si melenial, biasanya ia lebih mudah beradaptasi dengan dunia kerja manapun.

Melalui seleksi yang baik, setiap employer mengharapkan agar karyawan baru langsung bisa berkontribusi di tempat kerja tanpa perlu terlalu banyak diasah lagi. Kesiapan diri yang dikenal dengan work readiness ini adalah sejauh mana kesiapan  mental dan sikap kerja inidividu untuk dapat sukses di lingkungan pekerjaannya. Sebuah studi kualitatif dari AC Nielsen menjabarkan beragam atribut personal, seperti antusiasme, motivasi, dan ambisi yang diharapkan oleh para employer dari karyawannya, yang hari ini tidak berhubungan langsung dengan performa akademik mereka.

Ada tiga sasaran dari work readiness individu, yaitu sebagai berikut:

Pertama,  mampu untuk sef sufficient dalam mengelola kehidupan kariernya, termasuk sasaran karier, peningkatan keterampilan untuk mendapat pekerjaan yang lebih diminati, dan bisa mengelola diri untuk persiapan pekerjaan masa depan.

Kedua, mengembangkan soft skill-soft utama tanpa kesulitan, antara lain penilaian diri, perkiraan mengenai mutu keluaran, dukungan sosial, perbaikan sistem berdasarkan common sense-nya.

Ketiga, mampu mengelola stres, baik personal, lingkungan maupun sistemiknya.

Hal-hal inilah yang harus dimiliki para milenial untuk dapat sukses di dunia kerja. Selamat berjuang!


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR