ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Siswa SMP di Bandung Ciptakan Alat Penjernih Air

17 Desember 2018
Siswa SMP di Bandung Ciptakan Alat Penjernih Air
Pembelajaran STEM untuk memecahkan masalah (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Lantaran prihatin terhadap krisis air bersih di sekolahnya, siswa SMP Negeri 23 Bandung bereksperimen membuat alat penjernih air sederhana. Lewat kegiatan Lokakarya Science, Technology, Engineering, Math (STEM) dan Revolusi Industri 4.0 di Kompleks Kemendikbud pekan lalu, para siswa belia ini memaparkan temuannya.

Seperti yang diwartakan melalui laman kemdikbud.go.id Senin (17/12), pembelajaran STEM pada siswa-siswi SMPN 23 Bandung ini  bertujuan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan krisis air bersih yang terdapat di sekolah. Sekolah mereka terletak di kawasan padat penduduk, tepat berada di area pasar, terminal, serta tempat pembuangan sampah, akibatnya, tanah tercemar.

Kondisi air di sekolah yang bersumber dari air sumur resapan warnanya kuning dan keruh, serta berbau besi, tentu saja tidak dapat dipergunakan untuk aktivitas sehari-hari, seperti wudhu dan buang air. Sang guru pembimbing, Amalia Sholihah, menangkap keprihatinan para siswa didiknya kemudian mengajak mereka untuk mencari solusi dengan melakukan riset mandiri.

"Ketika membuat ini anak-anak sempat stres, karena tidak terbiasa. Biasanya kan berupa resep, kalau ini harus menggali, mencari tahu sendiri, tapi begitu lihat hasilnya dia sangat berbahagia," tutur Amalia yang juga seorang guru IPA.

Dari hasil penelitian, siswa menemukan bahan-bahan yang secara efektif dapat menjernihkan air, yaitu ziolit yang berbentuk seperti kerikil dengan ukuran kecil dan sedang, pasir aktif, arang aktif, dan filter akuarium. Bahan-bahan ini kemudian ditakar dan disusun pada wadah yang sudah tidak terpakai, seperti botol air mineral bekas atau pipa.

Dari percobaan yang dilakukan, susunan paling efektif untuk menjernihkan air adalah ziolit dengan ukuran kecil pada posisi paling bawah, dilanjutkan arang aktif, pasir aktif, lalu diisi kembali dengan ziolit berukuran sedang. Terakhir, posisi teratas dipasang filter akuarium. Hasilnya, ketika air tercemar dituang, air yang semula kuning, keruh, dan berbau, menjadi bening dan tidak berbau sama sekali. Air juga dapat mengalir dengan lancar, tidak mengalami penyumbatan.

Bukan sekadar efektif, namun bahan-bahan tersebut harganya pun terjangkau, sehingga terbeli oleh siswa. Masing-masing bahan tersebut harganya berkisar antara tiga ribu hingga dua belas ribu rupiah. "Kalau kita lihat di internet harga filter itu dua juta, tidak mungkin terbeli oleh anak-anak saya yang keuarganya menengah ke bawah," ungkap Amalia.

Selain dapat dirasakan langsung manfaatnya, hasil pembelajaran STEM para siswa SMP Negeri 23 Bandung ini juga seringkali diikutkan pada ekspos karya pelajar, baik di tingkat kota, provinsi, maupun nasional. Tidak puas hanya sampai di sini, Amalia ingin agar para siswa dapat mengemas penjernih air dalam wadah yang menarik, sehingga memiliki nilai ekonomis. "Lumayan untuk pemasukan, membantu ekonomi keluarga mereka," harap Amalia.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR