ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Rencana Kemenristekdikti Bangun Institut Siber Indonesia

24 Desember 2018
Rencana Kemenristekdikti Bangun Institut Siber Indonesia
Kemenristekdikti akan mendirikan Institut Siber Indonesia (Net)
JAKARTA, SCHOLAE.CO - Kemenristekdikti  (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi ) berencana akan membuat Insitut Siber Indonesia di mana para dosen bisa memberikan materi perkuliahan secara online atau dikenal dengan open learning. Institut Siber Indonesia disebutnya masih dalam tahap pembahasan dengan para rektor perguruan tinggi.

"Kita dorong semakin banyak kampus yang menggunakan itu (digitalisasi) dan berkontribusi pada open learning di Indonesia. Karena satu, untuk membantu mahasiswa yang sedang di kampus sendiri. Dua, juga membantu orang atau usia mahasiswa yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Jadi membuat kampus juga berkontribusi untuk mencerdaskan orang-orang yang memang seperti itu," kata Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Ismunandar.

Pembelajaran dengan sistem online akan mengurangi angka tatap muka pembelajaran langsung antara dosen dan mahasiswa. "Jadi nanti akan dengan sistem seperti itu kan yang berkuliah, kuliah dalam arti tidak harus datang ke kampus ya, tapi mengakses pendidikan online akan semakin besar," lanjutnya. Meskipun demikian, Ismunandar menegaskan kompetensi mahasiswa tidak akan mengalami penurunan.

Beberapa universitas sudah melakukan itu, jadi sekian persen dari tatap muka digantikan online. Tapi jaminan mutunya selalu kita minta, bahwa itu tidak mengubah kompetensi yang dihasilkan. Jadi apapun cara melakukan perkuliahan, tidak boleh mengubah kompetensi mahasiswa," tegasnya.

Ismunandar mengatakan pihaknya akan mendorong perguruan tinggi untuk terus memberikan motivasi kepada dosen dalam bentuk insentif dan penghargaan. Menurutnya, dosen juga menghabiskan banyak waktu untuk mengembangkan pembelajaran secara online.

"Intinya kita dorong perguruan tinggi, kampus-kampus untuk melakukan motivasi dan memberikan motivasi kepada dosen. Tentu juga melalui insentif, melalui penghargaan kepada para dosen itu. Dalam arti kalau mengembangkan, menggunakan. Karena itu kadang-kadang lebih besar ya waktu yang digunakan untuk menyiapkan, terus kalau misalnya dia menyediakan diskusi online, kan waktu yang digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu semakin besar," tuturnya.

Ketua DPP ADI Bidang Inovasi dan Pembelajaran Djoko Wintoro juga mendukung digitalisasi pembelajaran ini. Menurutnya, dosen juga harus mengikuti perubahan karena mahasiswa saat ini dinilai sudah lebih mengenal dunia digital.

Disebutkan Djoko, ADI juga memiliki program pelatihan untuk para dosen sampai ke tingkat daerah. Dia meminta pemerintah memberikan dukungan, bukan malah memberikan tugas yang lebih berat kepada para dosen.

"Justru itu kita buat, kalau di Jakarta kan gampang. Sekarang kalau dosen-dosen di daerah, siapa yang ngurusin dia? Ya asosiasi dosen ini lah. Kita sebarkan ke darerah-daerah, kita kan punya wilayah-wilayah. Kita panggil di sini, kita adakan training, seperti itu. Jadi pendidikan kita jadi multilevel sampai ke bawah-bawah," ujar Djoko.

Pola Pikir

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara sempat menuturkan, evolusi teknologi yang kini merayapi dunia pendidikan, dimulai dengan didasari gaya hidup dan kebutuhan masyarakat modern. Kini pemanfaatannya untuk membangun keilmuan. Saat ini setidaknya 185 juta penduduk memiliki gawai elektronik dan terhubung dengan internet. Angka itu, menurut Rudiantara, hendaknya dimanfaatkan untuk memastikan pemerataan akses informasi, ekonomi, pemberdayaan, dan pengetahuan.

Pada sektor pendidikan, pemerataan akses tersebut mendorong pada pembelajaran daring jarak jauh. "Standar dan aturan bisa dibantu oleh pemerintah dengan memastikan penerapannya sesuai dengan ketentuan," katanya.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR