ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Pentingnya Pengetahuan Tradisional dan Kurikulum Mitigasi Bencana Alam

26 Desember 2018
Pentingnya Pengetahuan Tradisional dan Kurikulum Mitigasi Bencana Alam
Sekolah siaga bencana (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Pemahaman modernitas yang keliru mengakibatkan masyarakat Indonesia melupakan berbagai pengetahuan tradisional yang diwarisi secara turun-temurun dengan alasan ketinggalan zaman. Padahal, pengetahuan tersebut mengandung berbagai informasi yang kontekstual dengan permasalahan sehari-hari masyarakat Nusantara, termasuk dalam menghadapi bencana alam.

Misalnya dengan mengajarkan dan melestarikan kearifan lokal. Kearifan lokal merupakan produk budaya pada masa lalu  yang dapat secara terus-menerus dijadikan sebagai pegangan  hidup serta memiliki sifat bijaksana bernilai baik yang tertanam dalam suatu budaya dan diterapkan oleh seluruh masyarakat setempat. Ini berarti bahwa kearifan lokal merupakan bagian dari budaya yang terdapat pada suatu daerah.

Kearifan lokal yang diwujudkan dalam bentuk perilaku adaptif terhadap lingkungan mempunyai peranan penting dalam pengurangan resiko bencana. Kearifan lokal yang berlaku di suatu masyarakat memberikan dampak positif bagi masyarakat dalam menghadapi dan mensikapi bencana yang datang. Kearifan lokal merupakan ekstraksi dari berbagai pengalaman yang bersifat turun temurun dari nenek moyang atau orang-orang terdahulu yang telah mengalami kejadian bencana.

Menurut Antropolog Pande Made Kutanegara dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, masyarakat setiap daerah, memiliki pengetahuan yang mereka warisi dari nenek moyang tentang bencana alam. Akan tetapi, sikap yang mudah melupakan masa lalu dan tidak menganggap sejarah sebagai aspek penting kehidupan mengakibatkan pengetahuan tersebut tidak pernah dibahas.

Di Palu, Sulawesi Tengah, ada istilah nolodo (ambles diisap lumpur) yang menunjukan fenomena likuefaksi  yang terjadi pascagempa berkekuatan M 7,4 pernah terjadi di masa lalu. Ada juga istilah bombatalu (gelombang memukul tiga kali) yang juga menunjukkan tsunami pernah terjadi di masa lalu. Di Aceh, cerita turun-temurun tentang smong menyelamatkan masyarakat Simeulue dari tsunami 2004.

Contoh lain bentuk kearifan lokal dalam mitigasi bencana, terdapat di pemukiman di kaki Gunung Merapi yang setiap saat dapat terancam bencana letusan. Dan pemukim di pantai yang juga setiap saat dapat terancam bencana gempa dan tsunami. Kedua wilayah ini, dahulu memakai kentongan dalam 'berkomunikasi' apabila bencana datang. Kentongan menjadi sangat penting untuk menyampaikan informasi akan datangnya bencana secara cepat dan luas. Sistem ini juga telah teruji, kentongan telah mampu menyampaikan pesan secara sambung-menyambung.


Bentuk lain dari kearifan lokal masyarakat jawa adalah,  keengganan orang Jawa untuk menebang pohon besar lebih karena pohon itu ada yang menungggu. Bila ada yang berani menebangnya akan kesambet atau kesurupan. Sikap dan perilaku yang didasari oleh kepercayaan tersebut, bila dikaji secara ilmiah sebetulnya memiliki nilai tinggi dari sudut pandang ekologis. Soalnya keberadaan pohon besar yang tua  dan rindang tersebut tidak hanya member keteduhan, menyegarkan (mengubah CO2 menjadi O2) mengurangi panas atau temperature udara, dan menahan longsor, tetapi berperan dalam menjaga dan menyerap air.

Saat ini, di negara-negara Barat berkembang ilmu membaca alam yang berbasis pengetahuan  masyarakat lokal. Pengetahuan ini kemudian diujicobakan secara ilmiah agar bisa ditemukan rumusan bakunya sehingga bisa menciptakan kebijakan.

Mereka juga memiliki gerakan kembali ke gaya hidup yang ramah lingkungan. Padahal, pengetahuan itu sudah berkembang di dunia Timur, termasuk Indonesia, selama berabad-abad. Ilmu-ilmu tradisional tersebut jika digali lebih lanjut bisa memberi pengayaan pada ilmu modern sehingga bisa dimanfaatkan sebagai landasan mitigasi bencana. Menurut Pande, peran lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, adalah membahas kembali ilmu-ilmu nenek moyang dari konteks masa kini.


Materi kebencanaan

Mitigasi bencana merupakan bentuk dalam bersikap menghadapi bencana, baik pada saat pencegahan bencana, saat terjadi bencana, dan setelah terjadi bencana. Tantangannya adalah bagaimana program pendidikan bencana dapat mendorong masyarakat untuk memperbarui informasi, meningkatkan tingkat persepsi risiko, menjaga kesadaran, serta melakukan dan memperbarui persiapan yang tepat terhadap bencana di masa mendatang.

Pendidikan menjadi salah satu sarana yang efektif untuk mengurangi risiko bencana dengan memasukkan materi pelajaran tentang bencana alam sebagai pelajaran wajib bagi  setiap siswa di semua tingkatan, terutama di sekolah-sekolah yang berada di wilayah risiko bencana. Kurikulum yang berbasis kearifan lokal, diharapkan dapat diterima dan dapat dengan mudah di pahami oleh siswa.

Peran guru pada tahap ini adalah mengitegrasikan kearifan lokal dalam mitigasi bencana dalam bentuk bahan ajar atau sumber belajar. Mengintegraisikannya kedalam rencana pelaksanaan pembelajaran yang diawali dengan pemetaan kompetensi inti dan kompetansi dasar yang terdapat pada masing-masing tema. Guru tidak lagi berpatokan pada buku ajar tetapi menggunakan sumber belajar lain yaitu kearifan lokal. Dengan kearifan lokal banyak nilai-nilai yang dapat diajarkan kepada siswa. Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Awaludin Tjalla mengatakan, kurikulum nasional sudah membahas berbagai jenis bencana dan cara mitigasinya, terutama pada matapelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan.

Selain itu, ada buku panduan khusus bencana yang berjumlah 16 jilid. Satu jilid merupakan panduan bencana secara umum bagi guru. Adapun 15 jilid sisanya merupakan pembahasan mengenai lima jenis bencana. Buku itu untuk tingkat SD hingga SMA sederajat. "Konteks penyampaian informasi tergantung cara guru membahasnya di kelas," kata Awaludin.

Guru dan siswa memiliki peran penting dalam  kesiapsiagaan menghadapi bencana, memberikan pengetahuan yang benar tentang bencana kepada masyarakat. Sejak usia dini diajarkan tentang pentingnya mitigasi bencana akan membentuk manusia Indonesia yang  tangguh dalam menghadapi bencana alam.

 


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR