ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Keterampilan Kerja yang Dibutuhkan Kaum Milenial Menurut UNICEF

09 Januari 2019
Keterampilan Kerja yang Dibutuhkan Kaum Milenial Menurut UNICEF
Mempersiapkan kaum milenial di dunia kerja (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Laporan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, menyatakan bahwa Pemerintah telah berhasil menciptakan dua juta lapangan kerja baru setiap tahun. "Tren ini sudah baik dan akan dilanjutkan," kata Hanif saat  membuka Rapat Koordinasi Nasional Ketenagakerjaan 2019 di Hotel Bidakara, Jakarta, kemarin.

Selama rentang 2015-2018 pemerintah telah membuka 10,34 juta lapangan kerja baru. Apabila dirata-rata, setiap tahun tercipta 2,58 juta lapangan kerja baru di Indonesia. Angka itu melampaui target, yakni memberikan kesempatan kerja kepada 2 juta penduduk setiap tahun.

Hanif melanjutkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Agustus 2018 jumlah penduduk yang bekerja mencapai 124,01 juta atau bertambah 2,99 juta orang jika dibandingkan dengan di Agustus 2017. Di sisi lain, dalam setahun terakhir, angka pengangguran berkurang 40 ribu seiring dengan menurunnya tingkat pengangguran terbuka menjadi 5,34% di Agustus 2018.

Pada 2019, penciptaan lapangan kerja baru digenjot dengan program penempatan tenaga kerja dan perluasan kesempatan kerja. Dengan demikian, total penciptaan lapangan kerja sejak 2015 diharapkan bisa mencapai 12 juta pada tahun depan. "Komitmen Presiden dalam membangun SDM dinyatakan konkret dalam keberpihakan anggaran. Anggaran Kemenaker meningkat dari Rp3,991 triliun pada 2018 menjadi Rp5,785 tri-liun pada 2019. Sebagian besar digunakan untuk pembangunan SDM," ujar Hanif.

Dalam meningkatkan kompetensi dan produktivitas tenaga kerja, lanjut Hanif, pihaknya menargetkan program masifikasi pelatihan kerja 277.424 orang, termasuk melatih 10.000 calon pekerja migran Indonesia (CPMI) dan 32.000 orang di 1.000 lebih balai latihan kerja (BLK) komunitas.

Keterampilan menjadi prioritas yang diupayakan negara dalam mengurangi jumlah pengangguran. Senada dengan kondisi perekonomian dunia, Indonesia memang ebih baik dalam menanggapi persaingan kerja dunia modern.

Namun di beberapa negara, masalah kerja masih menjadi momok yang harus diselesaikan. Mengutip pernyataan Henrietta H. Fore Executive Director, UNICEF melalui laporan di World Economic Forum (WEF) tentang keterampilan kerja yang wajib dimiliki kaum milenial.

Ia menyampaikan, ada beberapa pendidikan keterampilan yang dibutuhkan kaum muda dalam menghadapi persaingan dunia kerja. Menurutnya, banyak milenial yang masuk dunia kerja akan menemukan bahwa mereka tidak memiliki keterampilan dasar yang mereka butuhkan untuk berhasil. Lebih jauh Direktur Eksekutif UNICEF ini mencatat, secara global 6 dari 10 anak-anak dan remaja tidak mencapai kecakapan minimum dalam membaca dan matematika, dan 200 juta remaja tidak bersekolah di seluruh dunia. 5 keterampilan dasar Henrietta menyampaikan, "Kita bisa mengubahnya, jika kita bekerja bersama untuk menutup kesenjangan pendidikan keterampilan di sejumlah bidang," ungkapnya. Beberapa pendidikan keterampilan yang dibutuhkan di antaranya:

1. Keterampilan dasar: Kaum muda membutuhkan keterampilan dasar seperti literasi baca dan berhitung, idealnya melalui pendidikan berkualitas selama 12 tahun.
2. Keterampilan yang dapat ditransfer: Mereka membutuhkan keterampilan yang dapat ditransfer, seperti kemampuan memecahkan masalah, membangun kepercayaan diri, kolaborasi, dan komunikasi.
3. Keterampilan spesifik pekerjaan: Mereka membutuhkan keterampilan khusus pekerjaan, seperti pertukangan, coding, akuntansi, teknologi hijau, pertanian atau teknik modern.
4. Keterampilan wirausaha: Mereka semakin membutuhkan keterampilan kewirausahaan , terutama di negara-negara berpenghasilan rendah, di mana sektor informal dominan.
5. Keterampilan digital: Dan mereka jelas membutuhkan keterampilan digital untuk berpartisipasi dalam ekonomi global, yang didorong oleh teknologi informasi dan komunikasi.

Selain itu, Henrietta juga menyampaikan ada tiga cara dunia bisnis dapat membantu menutup kesenjangan keterampilan, dan memberi anak muda peluang yang dibutuhkan untuk mencapai potensi mereka:

1. Meningkatkan kualitas dan jumlah pemagangan dan bimbingan kerja Dengan membuka kualitas pemagangan kepada orang-orang muda, perusahaan tidak hanya membentuk tenaga kerja masa depan, tetapi juga mengidentifikasi bakat potensial untuk bisnis perusahaan di tahun-tahun mendatang.
2. Bermitra dengan sekolah-sekolah lokal meningkatkan transisi 'sekolah-ke-kerja' Perusahaan dapat menjalin kerjasama dengan sekolah-sekolah lokal untuk membangun program baru yang berfokus pada keterampilan yang paling membutuhkan, misal coding atau penguasaan mesin.
3. Kesetaraan jender dan kebijakan ramah keluarga Perusahaan juga diharapkan kebijakan dan praktiknya mendukung peran perempuan dan peran orangtua di tempat kerja.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR