ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Menyoal Pendidikan Karakter bagi Anak

26 Januari 2019
Menyoal Pendidikan Karakter bagi Anak
Salah satu kegiatan di sekolah yang membangun karakter anak (Net)

PEMERINTAH sangat konsern terhadap penguatan pendidikan karakter (PPK) bagi anak-anak usia seklah. Bahkan penerapan pengajarannta, diatur secara khusus melalui Peraturan Presiden 87/2017 tentang PPK. Turunan regulasi ini pun melahirkan buku panduan PPK,yang telah dilaunching pekan lalu di Jakarta.

Pada kesempatan itu, Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pembangunan Karakter Kemendikbud Dr Arie Budhiman juga menghimbau agar program penguatan pendidikan karakter (PPK) harus disesuaikan dengan kondisi daerah. Ia  berharap buku panduan yang diluncurkan bersama dengan Wahana Visi Indonesia (WVI) itu dapat memberikan manfaat terutama daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T). PPK sebagai model pembelajaran yang bertumpu pada kekayaan kearifan lokal, yang dipandang mampu menjadi solusi alternatif untuk mempersiapkan generasi emas di Indonesia 2045.

WVI mendokumentasikan berbagai modul pelatihan dan buku panduan penguatan pendidikan karakter untuk para guru. Buku tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan bagi pegiat pendidikan dalam penerapan penguatan pendidikan karakter di skala nasional terutama di wilayah 3T.

Peranan Guru dalam Pengembangan Pendidikan Karakter di Sekolah

Dalam Pengembangan Karakter peserta didik di Sekolah, Guru memiliki posisi yang strategis sebagai pelaku utama. Guru merupakan sosok yang bisa digugu dan ditiru atau menjadi idola bagi peserta didik. Guru bisa menjadi sumber inpirasi dan motivasi peserta didiknya. Sikap dan prilaku seorang guru sangat membekas dalam diri siswa, sehingga ucapan, karakter dan kepribadian guru menjadi cermin siswa. Dengan demikian guru memiliki tanggung jawab besar dalam menghasilkan generasi yang berkarakter, berbudaya, dan bermoral. Tugas-tugas manusiawi itu merupakan transpormasi, identifikasi, dan pengertian tentang diri sendiri, yang harus dilaksanakan secara bersama-sama dalam kesatuan yang organis, harmonis, dan dinamis.

Ada beberapa strategi yang dapat memberikan peluang dan kesempatan bagi guru untuk memainkan peranannya secara optimal dalam hal pengembangan pendidikan karakter peserta didik di sekolah, sebagai berikut :

1.  Optimalisasi peran guru dalam proses pembelajaran. Guru tidak seharusnya menempatkan diri sebagai aktor yang dilihat dan didengar oleh peserta didik, tetapi guru seyogyanya berperan sebagai sutradara yang mengarahkan, membimbing, memfasilitasi dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik dapat melakukan dan menemukan sendiri hasil belajarnya.

2.  Integrasi materi pendidikan karakter ke dalam mata pelajaran. Guru dituntut untuk perduli, mau dan mampu mengaitkan konsep-konsep pendidikan karakter pada materi-materi pembelajaran dalam mata pelajaran yang diampunya. Dalam hubungannya dengan ini, setiap guru dituntut untuk terus menambah wawasan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pendidikan karakter, yang dapat diintergrasikan dalam proses pembelajaran.

3.  Mengoptimalkan kegiatan pembiasaan diri yang berwawasan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia. Para guru (pembina program) melalui program pembiasaan diri lebih mengedepankan atau menekankan kepada kegiatan-kegiatan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia yang kontekstual, kegiatan yang menjurus pada pengembangan kemampuan afektif dan psikomotorik.

4.  Penciptaan lingkungan sekolah yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya karakter peserta didik. Lingkungan terbukti sangat berperan penting dalam pembentukan pribadi manusia (peserta didik), baik lingkungan fisik maupun lingkungan spiritual. Untuk itu sekolah dan guru perlu untuk menyiapkan fasilitas-fasilitas dan melaksanakan berbagai jenis kegiatan yang mendukung kegiatan pengembangan pendidikan karakter peserta didik.

5.  Menjalin kerjasama dengan orang tua peserta didik dan masyarakat dalam pengembangan pendidikan karakter. Bentuk kerjasama yang bisa dilakukan adalah menempatkan orang tua peserta didik dan masyarakat sebagai fasilitator dan nara sumber dalam kegiatan-kegiatan pengembangan pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah.

6.  Menjadi figur teladan bagi peserta didik. Penerimaan peserta didik terhadap materi pembelajaran yang diberikan oleh seorang guru, sedikit tidak akan bergantng kepada penerimaan pribadi peserta didik tersevut terhadap pribadi seorang guru.



Editor: Maria L Martens
KOMENTAR