ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Begini Cara Guru Kembangkan Sikap Ilmiah Pada Siswa

28 Januari 2019
Begini Cara Guru Kembangkan Sikap Ilmiah Pada Siswa
Kembangkan berpikir kritis siswa (Net)

KUTAI KERTANEGARA, SCHOLAE.CO -  Siswa perlu diberikan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Hal ini untuk membiasakan para pelajar untuk berpikir ilmiah dan kreatif dalam pembelajaran. Bahkan pembelajaran berbasis nalar tingkat tinggi pun tidak mesti diterapkan secara rumit. Penalaran dapat diterapkan dengan mengamati, menganalisis, dan mencari solusi atas permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar. Siswa diberi kebebasan mengembangkan imajinasi dan kerativitasnya.

Sekolah-sekolah yang menciptakan lingkungan berpikir ilmiah, akan membuat siswa semenjak dini terdorong suka bertanya, berpikir kritis dan suka melakukan percobaan-percobaan. Selain itu, mereka juga lebih cakap dalam mengomunikasikan nalar berpikirnya, lebih suka membaca, menulis dan bahkan membuat model-model karya siswa sendiri, mengadopsi atau mengembangkan dari yang sudah ada.  

Mengutip penelitian Rachel Goldman, Khundori Muhammad, Spesialis Pembelajaran Sekolah Dasar program PINTAR Tanoto Foundation Kaltim mengatakan bahwa penciptaan lingkungan semacam ini tak bisa dicapai dengan model pembelajaran ceramah, tapi pembelajaran aktif.

“Berdasarkan penelitian Goldman, baik siswa sekolah dasar maupun  kelas menengah  kebanyakan sebenarnya tak menyukai pembelajaran model ceramah. Metode pembelajaran yang lebih menarik adalah yang interaktif. Metode ini juga lebih menunjang penciptaan lingkungan yang berpikir ilmiah,” ujarnya.

Tanoto Foundation bersama Dinas Pendidikan dan Kemenag berusaha mendorong sekolah menciptakan suasana ilmiah di kelas dengan melatihkan guru metode pembelajaran aktif dengan pendekatan MIKIR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi). Salah satu yang sudah konsisten untuk melakukannya adalah ibu Kurnia Astuti, guru kelas IV SDN 003 Tenggarong, Kutai Kartanegara. 

Untuk membuat siswa menjadi kritis dia awali  dengan menumbuhkan kemampuan dan kebiasaan bertanya. Pada saat pembelajaran tentang daur hidup hewan. Bu Kurnia menyuruh siswa kelas empat yang diasuhnya membaca senyap terlebih dahulu bacaan dari internet yang sudah dia print.

Setelah selesai, ibu Kurnia membagi dadu pada para 8 kelompok siswa di kelas tersebut.  Masing-masing kelompok siswa terdiri dari 4 – 5 orang. Kalau dilempar dan yang muncul dadu satu berarti kelompok harus menyusun pertanyaan dengan awalan apa,  dadu dua siapa, tiga dimana, empat kapan, lima mengapa dan enam bagaimana, berdasarkan bacaan yang sudah dibaca.

“Kemampuan bertanya mereka menjadi makin terasah karena sering saya lakukan seperti ini. Mereka bermain sambil menyusun kalimat untuk menanyakan lebih jauh, kadang bahkan diluar teks,” ujar bu Kurnia. Kurnia berharap dengan model demikian, lama-lama siswa terbiasa membuat hipotesis. 
Pertanyaan tersebut oleh ibu Kurnia kemudian dilempar ke siswa yang lain untuk dijawab. Fungsi ibu Kurnia adalah menguatkan jawaban yang dilakukan oleh siswa.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR