ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Kenaikan BBM Jangan Korbankan Masyarakat

16 Maret 2012
Kenaikan BBM Jangan Korbankan Masyarakat

Isu kenaikan BBM mengundang reaksi dari berbagai pihak terutama kalangan mahasiswa. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto, dan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa bertemu dengan para pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia dalam pertemuan "Silaturahmi dengan Para Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri dan Kopertis" yang diadakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selama dua hari sejak Kamis (15/3). Mereka memaparkan alasan kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang rencananya ditetapkan 1 April nanti.

Pertemuan ini disebut-sebut sebagai pertemuan untuk 'meredam' aksi kalangan mahasiswa, terkait munculnya aksi besar-besaran mahasiswa sebagai dampak penerapan kebijakan kenaikan harga BBM ini. Berikut komentar mahasiswa seputar rencana kenaikan BBM tersebut:

Putra Christianto Rambe Purba (Mahasiswa UKI)
Cari Solusi Berimbang

Tentang kenaikan harga BBM awal April nanti, saya menilai setuju karena melihat secara harga minyak dunia juga naik. Kebijakan pemerintah untuk mencabut subsidi BBM ya udah okelah daripada anggaran membengkak dan bertambahnya hutang luar negeri. Tapi, ada sisi yang tidak menyenangkan di satu pihak di mana kenaikan ini membuat harga yang lain juga ikut naik, sedang daya beli masyarakat nantinya akan semakin berkurang karena masalah ekonomi akibat harga-harga naik. Tentunya pasti buat orang jadi belanja sebelum April nanti, dan saat April nanti minat pembelian masyarakat turun.

Pemerintah seharusnya juga perlu mencari solusi berimbang agar tidak membebankan masyarakat ekonomi bawah yang semakin sulit dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Kenapa tidak mencoba mengurangi jumlah kendaraan di Indonesia? Misalnya mobil seharga Rp 200juta ke bawah hanya boleh dipakai lima tahun terus harus dijual seperti yang dilakukan di Singapore. Sosialisasikan masyarakat untuk naik kendaraan umum dibanding pribadi. Karena bila kendaraan yang berkurang pastinya konsumsi akan BBM pasti berkurang. Dengan begitu subsidi tidak membengkak untuk memenuhi jutaan kendaraan di Indonesia.

 

  Saor Gultom (Mahasiswi UKI)

Jangan Korbankan Masyarakat Kelas Bawah

Sebagai mahasiswa tidak setuju dengan adanya kebijkaan tersebut. Jika hal ini terjadi, dipastikan akan menimbulkan apa yang disebut sebagai efek spiral dimana akan diikuti juga naiknya semua harga kebutuhan sehari-hari. Dan, korbannya adalah  masyarakat kelas bawah. Mereka sudah sulit mencari nafkah malah dibebani dengan harga sembako yang semakin naik,lantas kapan masyarakat ini akan sejahtera?

Setiap kebijakan yang dilakukan pemerintah seharusnya dilakukan dengan akal sehat, agar setiap kebijakan yang dikeluarkan tidak mengorbankan sebelah pihak, perlu diingat juga tujuan negara ini adalah untuk mensejahterakan rakyat, tetapi kalau BBM semakin naik bagaimana rakyat mau sejahtera karena pendapatan dan pengeluaran tidak setimpal. Bisa kita lihat kenaikan BBM saja masih tahap wacana juga sudah berdampak pada naiknya harga sembako sudah mulai.

Sebenarnya tanpa kenaikan BBM juga beban pengeluran pemerintah untuk membangun negara ini sudah cukup dengan adanya pajak dan pemasukan lainnya. Orang-orang yang sedang memimpin harus belajar menjadi masyarakat kecil agar tahu bagaimana rasanya membagi-bagi uang dengan jumlah yang pas-pasan, sehingga ketika ada kesepakatan untuk mengeluarkan kebijakan seperti kenaikan BBM, bisa dipikirkan terlebih dulu sebelum melakukan tindakan. Negara bisa maju jikalau setiap pejabat pemerintah tidak memikirkan kantong sendiri tetapi memikirkan bagaimana masyarakat bisa sejahtera.

Harapan saya, semoga pemerintah mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan semua pihak, peka terhadap seruan masyarakat kecil, dan pejabat-pejabat yang korupsi harus ditangani dengan bijak karena perlakuan mereka secara tidak langsung menguras masyarakat. Jadikan negara ini negara yang sejahtera dan memegang teguh kejujuran.


 

Tags :

KOMENTAR