Memotivasi lewat Kuliah Umum Perdana

19 Maret 2012
Memotivasi lewat Kuliah Umum Perdana
Songsong tahun ajaran baru, berbagai perguruan tinggi menggelar kuliah umum perdana. Berbagai topik kuliah dipersiapkan dengan menghadirkan pakarnya masing-masing, mulai dari pakar ekonomi, teroris, hingga birokrat. Sarat motivasi dan harapan.

Prof. Miranda S. Goeltom, SE, Ma, Ph.D, guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang juga mantan Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia misalnya pada Senin (12/9) lalu memberikan kuliah umum perdana di kampus Universitas Darma persada (Unsada) bertema “Menuju “Great University” melalui Unsada Berbasis Pengetahuan”.
    
Miranda mengajak para mahasiswa baru bersama-sama melihat pentingnya melakukan lompatan jauh ke depan, dengan menerapkan strategi berbasis knowledge economy. Ekonomi berbasis pengetahuan itu sendiri adalah era dimana asset tidak lagi terletak pada fisik, tetapi pada sesuatu yang bersifat intangible yaitu pengetahuan. Dan, tantangan utamanya terletak pada bagaimana meningkatkan inovasi.
    
Bagi Unsada sendiri kata Miranda, jelas betapa pentingnya upaya untuk menghidupkan dan menggairahkan civitas akademika, dosen, mahasiswa, pimpinan universitas, senat akademik untuk meningkatkan kreativitas yang dapat memunculkan inovasi. Dengan kata lain tambah Miranda, menjadikan knowledge economy sebagai landasan pacu untuk terbang tinggi menjadi universitas unggulan.
     
Pada dasarnya knowledge economy memiliki tiga pilar, yang pertama adalah bagaimana menggunakan pengetahuan dalam setiap kegiatan organisasi. Yang kedua, adalah bagaimana menggunaan asset pengetahuan yang ada, yang harus memberikan nilai tambah pada produk-produk yang dihasilkan oleh organisasi . Dan, yang ketiga adalah bagaimana mengelola pengetahuan yang ada dalam organisasi tu sendiri. Namun demikian terpenting menurut Miranda adalah pengelolaan itu yakni knowledge management atau manajemen pengetahuan.
    
Penerapan manajemen pengetahuan kata Miranda memang idealnya menggunakan teknologi untuk penyimpanan dokumen dan proses pembelajaran selanjutnya. Akan tetapi hal paling utama menurut dia adalah merubah paradigma dalam diri kita masing-masing agar terjadi proses learning dan sharing.
    
Dan, apabila pertukaran pengetahuan sudah menjadi budaya, maka Unsada kata Miranda akan dapat mencatatkan diri sebagai learning organization, dan menjadi great university. Namun demikian, tentunya manajemen perubahan tersebut harus didukung dengan kepemimpinan yang kuat dan mendorong proses pertukaran pengetahuan.
    
Sementara di Universitas Sahid Jakarta, Senin (19/9) lalu menghadirkan Brigadir Jendral Polisi Drs. Muhammad Tito Karnavian, MA Ph.D Candidate. Mantan Kepala Detasemen Khusus 88 Polri yang kini menjabat Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ini bertema: “Peningkatan Pemahaman Pilar Kebangsaan dalam Rangka Penanggulangan Terorisme dan Kejayaan NKRI”.
 
Tito Karnavian pada kesempatan tersebut mengatakan, di Indonesia aksi terorisme sejak tahun 2000-an cukup marak terjadi, khususnya setelah aksi terorisme di Amerika Serikat pada PUBLISH_DATE 11 September 2001. Beberapa aksi terorisme yang menimbulkan kerugian dan meninggalnya korban dalam jumlah besar, seperti kasus Bom Bali I (2002) dan Bom Bali II (2005),  hotel JW Marriot 2003 dan 2009, Kedutaan Besar Australia 2004.

Aksi terorisme tersebut kata Tito Karnavian menimbulkan efek domino ke berbagai bidang, seperti di bidang perekonomian menyebabkan investor akan takut untuk masuk, sehingga akan merusak tatanan ekonomi yang berlanjut dengan jutaan pekerja kehilangan pekerjaan, maka akan menyebabkan tindak kriminal lain menjadi marak. Kondisi ini akan mempengaruhi kehidupan sosial dan bisa menyebabkan kehancuran bangsa.
    
Untuk itu lanjut Tito Karnavian, perlu upaya-upaya penanggulangan terorisme, diantaranya melalui peningkatan pemahaman terhadap pilar kebangsaan.Mahasiswa sebagai generasi muda bangsa mempunyai kedudukan dan peranan yang penting sekaligus merupakan potensi dalam mewujudkan cita-cita dan arah perjuangan bangsa.
    
Universitas Kristen Indonesia Jakarta menghadirkan Menko Kesra RI, Agung Laksono untuk memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru faKultas kedokteran tahun ajaran baru 2011/2012 bertempat di Graha William Fakultas Kedokteran UKI  Jakarta, awal pekan lalu.
    
Agung, yang juga alumni Fakultas Kedokteran UKI Jakarta dalam sambutannya mengawali kuliah umum mengingatkan para mahasiswa baru dan seluruh pihak UKI Jakarta agar dapat mengoptimalkan penggunaan serta menjaga graha baru fakultas tersebut.
    
“Kebanggaan sebagai mahasiswa baru hendaknya harus diikuti dengan tanggung jawab, baik kepada orang tua maupun diri sendiri untuk memanfaatkan waktu dengan baik. Harus bekerja keras agar menjadi pelayan kesehatan yang baik di masyarakat. Tentunya dalam melayani masyarakat harus dengan hati yang ikhlas,”pesan Agung.
    
Sebagai Menko Kesra, ia juga menghimbau perihal minimnya tenaga ahli kesehatan bagi daerah-daerah terpencil di Indonesia. Salah satu kondisi kekurangan tersebut ahíla keterbatasannya dokter spesialis. “Kiranya ada dokter-dokter lulusan FK UKI yang nantinya dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan dokter spesialis. Tidak hanya itu, semoga para lulusan FK UKI pun punya perhatian terhadap kondisi ini dan mau terjun ke daerahdaerah tersebut,”ujarnya.   

Butuh Kerjasama
Di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan hadar memberikan kuliah umum bertajuk “Mewujudkan Jawa Barat sebagai Provinsi Terdepan dan Termaju di Indonesia Bersama Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha”, pada Jumat (23/9) lalu di aula barat ITB.

Ahmad Heryawan memulai kuliah umum dengan menyampaikan peta pertumbuhan penduduk Jawa Barat yang tinggi dan diprediksi pada tahun 2030 mencapai 54 juta jiwa. Jumlah yang besar tersebut kata dia bisa menjadi potensi jira terdidik dengan baik.

“Menjadikan penduduk Jawa Barat menjadi terdidik membutuhkan kerjasama dari banyak pihak terutama instansi pendidikan seperti perguruan tinggi,”tutor Heryawan.

Selain itu, kerjasama aktif antara ITB dan pemerintah provinsi Jawa Barat penting guna membangun Jawa Barat berbasis teknologi, sehingga pengembangan Jawa Barat menjadi tepat sasaran.

Heryawan menambahkan, penelitian perguruan tinggi yang tepat, sesuai kendala masyarakat Jawa Barat tentu Sangat bermanfaat dan diharapkan. Penelitian, kata dia bisa menghasilkan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Penelitian di bidang pertanian, menjadi salah satu penelitian yang tepat sasaran karena bisa menjadi solusi bagi ketahanan pangan yang merupakan masalah masyarakat di Jawa Barat.

Rektor ITB, Akhmaloka saat membuka kuliah umum di hadapan 400 civitas akademika ITB mengatakan kuliah umum yang diberikan Gubernur memberikan pelajaran yang banyak bagi para mahasiswa baru dan juga dapat terjalin kerjasama yang erat antara ITB dengan pemerintah provinsi Jawa Barat untu bersama-sama membangun Jawa Barat.

Sumber: Harian sore Sinar Harapan

Tags :

KOMENTAR