ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Pilih-Pilih Sekolah Kedinasan

21 Maret 2012
Pilih-Pilih Sekolah Kedinasan
Suasana kuliah STIP Curug (Foto: Ist)
Praktis, realistis serta mendapat jaminan kerja mendorong siswa/siswi lulusan SMU/SMK mencari dan memilih sekolah-sekolah kedinasan. Apalagi ada ikatan dinas yang menjadi primadona bagi mereka.
    
Yarsoni Dionisius Gege (20) yang biasa disapa Arson, adalah  seorang siswa lulusan SMK Negeri 2 Maumere, Flores, jurusan Perikanan. Sebuah sekolah kejuruan favorit bagi para siswa lulusan SMP di daerahnya. Di sekolah ini para siswa sebelum menamatkan sekolah pun sebagiannya sudah mendapat tawaran kerja di luar negeri seperti di Jepang dan Amerika dengan gaji yang cukup menggiurkan.
    
Meski prospek karier cukup menjanjikan, Arson lebih memilih melanjutkan kuliah di sekolah kedinasan. Pilihannya jatuh pada Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, sebuah sekolah kedinasan milik Departemen Kelautan dan Perikanan RI yang terletak di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Arson mengakui kebutuhan SDM di departemen tersebut untuk daerahnya masih terbuka lebar dan Arson memang berniat usai kuliah akan mendedikasikan dirinya sebagai abdi negara di kota kelahirannya.
    
Berbeda dengan Muhamad Andika, siswa lulusan SMK jurusan Akuntansi sebuah sekolah swasta di Depok, Jawa Barat. Andika memilih langkah praktis. Jalan pikirannya pun realistis. Ia sadar betul, kemampuan orang tua yang terbatas ikut membatasi gerak langkahnya dalam memilih perguruan tinggi yang diidamkannya. Andika memutuskan mendaftar ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) milik Departemen Keuangan Republik Indonesia yang terletak di kawasan Bintaro, Tangerang sebagai calon punggawa keuangan negara.
    
Pendidikan Program Diploma bidang keuangan yang diselenggarakan STAN bertujuan  menghasilkan tenaga-tenaga ahli di bidang keuangan negara dengan spesialisasi tertentu seperti Akuntansi, Perpajakan, Pajak Bumi dan Bangunan/Penilai, Kebendaharaan Negara, Kepabeanan dan Cukai, dan Kepiutanglelangan. Karenanya, para lulusan dibekali pengetahuan dan keterampilan serta keahlian profesional sesuai dengan spesialisasinya dalam rangka memenuhi kebutuhan pegawai dan mencetak kader-kader pengelola keuangan negara pada unit-unit di lingkungan Departemen Keuangan dan instansi pemerintah lainnya seperti  Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI).
    
Setidaknya terdapat 20 departemen atau lembaga pemerintah yang memiliki sekolah kedinasan, sebagian di antaranya memiliki beberapa sekolah kedinasan sekaligus. Praktis, terdapat sekitar 50 sekolah kedinasan, baik yang berada di ibu kota provinsi maupun ibu kota negara.
    
Sekolah kedinasan rata-rata mendapatkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang dialokasikan melalui departemen atau kementerian lembaga yang bersangkutan. Selain itu, sekolah kedinasan juga menawarkan masa pendidikan yang lebih singkat dengan biaya yang lebih terjangkau, dan bahkan tidak jarang biaya pendidikannya digratiskan. Keseriusan dalam menjalani masa pendidikan dalam sekolah kedinasan sangat ditekankan, sehingga tidak ada kesempatan buat para mahasiswa menyia-nyiakan waktunya. Siswa dituntut untuk selalu concern dengan pendidikannya.
    
Hal lain yang ditawarkan oleh sekolah kedinasan adalah jaminan kerja bagi para mahasiswanya. 99 persen lulusan sekolah kedinasan akan bisa langsung kerja karena adanya ikatan dinas dari instansinya. Lain halnya jika mereka lulusan PTN, kadang-kadang masih harus diuji untuk bisa bersaing dengann para lulusan-lulusan lain dari berbagai universitas. Inilah menjadikan lulusan sekolah kedinasan satu langkah di depan dibandingkan dengan lulusan PTN.
Darat, Laut, Udara
    
Badan Pengembangan SDM Perhubungan, Departemen Perhubungan RI misalnya selain memiliki Pusdiklat Perhubungan Darat, Laut, Udara, dan lainnya, juga memiliki beberapa sekolah tinggi yaitu  Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) Bekasi, Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda-Jakarta, Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug-Tangerang, Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang, Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar, Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Medan, Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Surabaya dan Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar.
    
Khusus peluang bersekolah di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug-Tangerang, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Capt Bobby R Mamahit, pada upacara wisuda Taruna Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, belum lama ini  mengatakan, kini Indonesia dan negara-negara lain di dunia sedang mengalami kekurangan tenaga kerja, khusunya di bidang penerbangan.
     
Dikatakan Bobby, dari data Boeing menyebutkan, sampai tahun 2029 kawasan Asia Pacifik membutuhkan 181.000 pilot dan 220.000 tenaga teknisi. Dengan demikian para lulusan SMU maupun SMK yang berminat sekolah di STPI akan memiliki kesempatan seluas-luasnya dalam mengisi lowongan tersebut.
    
STPI Curug terletak di Kecamatan Legok Kewedanaan Curug Kabupaten Tangerang Propinsi Banten. Memiliki tugas dan fungsi mendidik putra putri terbaik bangsa Indonesia untuk menjadi sumber daya manusia yang ahli dan terampil di bidang penerbangan, yang diakui secara nasional maupun internasional.
    
Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya STPI Curug memiliki 4 (empat) jurusan pendidikan, yaitu Jurusan Penerbang, Jurusan Teknik Penerbangan, Jurusan Keselamatan Penerbangan dan Jurusan Manajemen Penerbangan. Setiap jurusan pendidikan terbagi dalam beberapa program studi sesuai dengan minat dan bakat peserta pendidikan dan pelatihan. Kurikulum dan silabus pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan STPI Curug mangacu pada standar nasional (Departemen Pendidikan Nasional RI) dan internasional (International Civil Aviation Organization=ICAO), sehingga diharapkan setiap lulusan STPI Curug mampu untuk bersaing baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
    
Bagaimana menembus lembaga pendidikan tinggi milik pemerintah itu? Sebelum menetapkan sekolah kedinasan sebagai pilihan, ada baiknya mencari tahu lebih dulu segala hal yang berkaitan dengan persyaratan penerimaan. Misalnya, syarat ujian masuk, kurikulum, biaya (jika ada), dan fasilitas seperti asrama. Satu lagi hal yang perlu diperhatikan adalah budaya yang terdapat di sekolah itu. Pilih mana? Anda sendirilah yang memutuskan!
 
Sumber: Harian Sore Sinar Harapan

Tags :

KOMENTAR