ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Menjadikan IPB Berbasis Riset Kelas Dunia

21 Maret 2012
Menjadikan IPB Berbasis Riset Kelas Dunia
Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam sorotan publik akibat gugatan terhadap penelitian Enterobacter sakazakii. Gugatan itu mau tak mau menuntut kerja keras IPB. Dalam situasi pelik ini, Herry Suhardiyanto sangat gigih memperjuangkan kebenaran yang dijunjung IPB.

Sejak putusan Mahkamah Agung yang memerintahkan IPB membuka hasil penelitian Enterobacter sakazakii, dalam setiap kesempatan Herry terdepan menjelaskan kepada masyarakat tentang penelitian tersebut. Hari-hari belakangan, pejabat pemerintah, DPR, pers, LSM, ilmuwan, peneliti, dan masyarakat merupakan orang-orang yang kerap ditemuinya.

Meski begitu, tidak ada raut lelah di wajah rektor peraih gelar doktor agricultural engineering dari Jepang ini. Dia tetap menunjukkan ketenangan, meski pada satu waktu harus hadir dalam rapat di DPR sepanjang hari. Hal yang sama ketika menerima Sinar Harapan, rektor berusia 51 tahun ini tetap dengan keramahan dan senyum lepasnya.

Gugatan ini menjadi tantangan bagi rektor dalam menakhodai kapal perguruan tinggi pertanian paling besar di Indonesia.“Saya sudah khawatir kasus ini akan menyurutkan minat pelajar untuk masuk IPB karena bersamaan dengan penerimaan mahasiswa baru. Tapi nyatanya kasus itu tidak berpengaruh sama sekali. Peminat masuk IPB sangat besar,” kata guru besar tetap pada Fakultas Teknologi Pertanian tersebut.

IPB memang terlalu kuat untuk goyah karena kasus ini. Perguruan tinggi ini tetap melaju dalam proses transformasi sesuai dengan Visi IPB 2013. Rencana strategis IPB 2008-2013 adalah menjadi perguruan tinggi berbasis riset kelas dunia dengan kompetensi utama pertanian tropika dan biosains serta berkarakter kewirausahaan.

“Untuk mewujudkan visi tersebut, kami merencanakan dan melaksanakan program strategis sebagai pilar visi tersebut, yaitu perluasan akses dan peningkatan mutu pendidikan dan kemahasiswaan, peningkatan mutu penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, peningkatan kesejahteraan dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa, peningkatan kapasitas sumberdaya IPB dan penguatan sistem manajemen IPB,” jelas Herry yang menjabat rektor periode 2007-2012.

Proses transformasi juga mengacu pada roadmap program strategis menurut prioritas tahunan yang disebut Panca Prima, meliputi Prima Organisasi, Prima Transparansi, Prima Akuntabilitas, Prima Akreditasi, dan Prima Prestasi. Tahun 2008, IPB menuju tahapan Prima Organisasi yang menitikberatkan pada penguatan peran dan penyempurnaan organisasi IPB sesuai TAP MWA No 77/MWA IPB/2008. Kemudian tahun 2009, bahkan sudah menapaki tahapan Prima Transparansi dan Prima Akuntabilitas yang menitikberatkan pada terciptanya transparansi dan akuntabilitas dalam kebijakan dan operasional penyelenggaraan pendidikan,
penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pembangkitan pendapatan, dan sistem manajemen.

Ditegaskan pria kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah ini, IPB konsisten dalam proses transformasi, meski saat ini masih menantikan landasan hukum yang kuat setelah dibatalkannya UU Badan Hukum Pendidikan. Dengan demikian, IPB bisa menjalankan transformasi yang lebih baik dan jelas arahnya.

Dalam tiga tahun terakhir harus diakui IPB mengalami perubahan. Hal itu tercermin dari RKA IPB secara signifikan setiap tahun naik. Tahun 2008, total anggaran IPB dari Rp 522 miliar meningkat menjadi Rp 687 miliar tahun 2009. Naik lagi menjadi Rp 821 miliar tahun 2010.

Tahun 2011, anggaran IPB naik lagi menjadi Rp 966 miliar. Jadi, tahun 2008-2011 terjadi kenaikan rata-rata 29,25 persen setiap tahun. Dalam pengelolaan keuangan, IPB mendapat opini wajar tanpa pengecualian dari kantor akuntan publik independen.

Perkuat Penelitian
IPB termasuk salah satu PTNternama yang memegang teguh konsep pendidikan ramah sosial. Penerimaan mahasiswa hampir 70 persen melalui seleksi prestasi akademik di SMA atau USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB). Sekarang dengan seleksi undangan SNMPTN. Seleksi ini menyaring pelajar SMA dari segala lapisan masyarakat.

Selain itu, IPB dikenal dengan biaya pendidikan yang berkeadilan dan berimbang. Pendanaan dari mahasiswa dibatasi maksimal 30 persen. Prinsipnya biaya tidak bisa menghalangi seseorang untuk meraih pendidikan tertinggi.

“Kami masih memegang ketentuan membatasi penerimaan dana dari mahasiswa paling banyak 30 persen dari total penerimaan IPB,” jelas Herry.

Ia mengatakan strategi IPB saat ini adalah memperkuat sumber dana dari penelitian dan usaha komersial. IPB memiliki usaha komersial untuk mendongkrak pendapatan IPB, meliputi hasil usaha dalam bentuk pendapatan dividen atau pembagian keuntungan atas badan usaha komersial atau perusahaan yang sahamnya dimiliki IPB secara keseluruhan atau sebagian, di antaranya PT Bogor Life, Science and Technology dan PT Prima Kelola Agribisnis dan Agroindustri, serta perusahaan lainnya.

Sumber dana dari SPP dan non-SPP serta pendapatan nonkomersial seperti beasiswa, auxiliary enterprise, dan usaha lain. Sumber dana APBN yang besarannya mencapai 42 persen untuk membiayai kebutuhan dasar/ pembiayaan utilitas, pelaksanaan tugas pokok dan fungsi IPB dan penyelenggaraan kerumahtanggaan kampus dan perkantoran serta pembiayaan untuk pengembangan IPB yang sifatnya reguler dan kegiatan yang sifatnya prioritas nasional.

Tantangan Pertanian
Dalam perbincangan, Herry juga mengakui tren jurusan pertanian semakin menurun dibanding jurusan lain seperti ekonomi, kedokteran atau teknologi komunikasi. Namun, bagi IPB, tren ini tidak berdampak sebab nyata minat masuk IPB sangat tinggi. Akan tetapi, butuh lebih banyak lembaga pendidikan tinggi untuk mencetak tenaga ahli bidang pertanian.

Padahal, persoalan pertanian semakin pelik seiring dengan perubahan iklim ekstrem. Produksi pertanian menurun, sedangkan pertambahan penduduk melaju cepat. Bila dibiarkan, Indonesia terancam memasuki jurang krisis pangan.

Sayangnya, pertanian belum menjadi prioritas pemerintah, mulai dari sarana dan prasarana hingga pascapanen masih dalam tahapan tradisional. Harga produk pertanian rendah. Petani tidak menjadi pilihan masyarakat.

Ini tantangan bagi Herry,menyiapkan manusia yang terus berkomitmen membangun pertanian di Indonesia. Tapi, semua pihak harus serius membangun pertanian.(Naomi Siagian)  


Banyak Pihak Mendukung Kami
 
“Kami belum lucky.”Begitu kata Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Herry Suhardiyanto terkait kasus gugatan susu formula terkontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii di Mahkamah Agung (MA). Putusan MA nyatanya memerintahkan IPB mengumumkan hasil penelitian terkait merek susu yang tercemar bakteri tersebut

Sang rektor awalnya sangat yakin akan memenangkan gugatan pada tingkat kasasi atas gugatan David L Tobing. Segala upaya sudah dikerahkan untuk memenangkan kasus itu, termasuk menghadirkan saksi-saksi ahli dari IPB. Namun,nyatanya putusan berkata lain,yang tidak diduga sedikit pun.

Herry telah berkali-kali menegaskan penelitian bakteri Enterobacter sakazakii yang dilaksanakan oleh dosen IPB, Sri Estuningsih, tahun 2003 hanya untuk riset isolasi bukan pengawasan produk.

Penelitian dilakukan dengan mengambil 22 sampel susu formula. Hasilnya lima dari 22 sampel susu formula ditemukan Enterobactersakazakii. Riset kemudian dibawa ke Dairy Science Laboratory Germany, yang semakin meyakinkan bakteritersebut adalah Enterobacter sakazakii.

Penelitian itu dilakukan pada hewan percobaan mencit berusia enam hari. Bakteri itu diberikan langsung ke lambung bayi mencit dalam dosis 100 juta sel per mililiter. Sebagian kecil dari bayi mencit yang diujicobakan menunjukkan gejala sepsi,
enteritis, dan meningitis.

Dia menegaskan penelitian itu tidak dalam rangka pengawasan, sehingga sampel yang diambil tidak mewakili seluruh merek susu formula. Kala itu juga belum ada larangan Enterobacter sakazakii pada susu formula.

Penelitian Estuningsih mendapat apresiasi yang sangat tinggi di dunia. Estuningsih menjadi tim ahli pada Enterobacter sakazakii dan Salmonella in Powdered Infant Formula, FAO-WHO di Roma, Januari 2006.

Bahkan, penelitian dan pengetahuan mengenai Enterobacter sakazakii menjadi sumber informasi bagi BPOM bagi draf delegasi Indonesia ke pertemuan tahunan Codex, pada 2006 dan 2007.

Akhirnya, penelitian Estuningsih ini menjadi salah satu sumber informasi bagi Codex mengeluarkan larangan adanya Enterobacter sakazakii pada susu formula sejak Juli 2008. Larangan ini kemudian diadopsi oleh BPOM pada Oktober 2009.

“Namun, publik menanggapi dengan persepsi yang berbeda. Hasil temuan itu justru tidak diapresiasi publik. Publik menanggapi berlebihan. Kami sudah berkali-kali mengatakan penelitian itu tidak untuk pengawasan, tapi isolasi
bakteri,”tegasnya.

Ada pertimbangan yang sangat diyakini sehingga IPB mengambil sikap tidak mengumumkan penelitian tersebut. Pertimbangan utamanya tujuan penelitian adalah untuk isolasi bakteri. Dalam kasus ini, ada kesan seolah-olah kepentingan publik yang dikedepankan. Padahal, kalau penelitian diumumkan justrumerugikan publik.“ Akan tidak adil kalau hasil penelitian itu diumumkan sebab belum diketahui apakah merek lain terbebas dari Enterobacter sakazakii,”lanjutnya.

Pertimbangan lainnya, ada etika penelitian bersifat universal dan menjadi pedoman bagi seluruh peneliti di dunia, yaitu mengedepankan asas privasi, kerahasiaan subjek penelitian, serta keadilan dan inklusivitas.

Di Indonesia, kode etik penelitian khususnya mengenai otonomi keilmuan dijamin UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menyatakan bahwa dosen memiliki otonomi keilmuan. Bahkan rektor tidak bisa mengintervensi peneliti.

“Karena itu, saya juga tidak bertanya atau tidak ingin memaksa mereka untuk memberi tahu saya karena saya menghormati otonomi keilmuan dosen yang dilindungi undang-undang,” tegas Herry.

Hal yang membuat Rektor IPB ini terus bertahan adalah dukungan dari berbagai kalangan, mahasiswa, dosen, dan peneliti. Bahkan, dia mengatakan, pertemuan dengan Komisi Informasi Publik (KIP) juga menyatakan penelitian IPB tidak untuk konsumsi publik. Herry memetik hikmah besar di balik kasus ini. Membangun komunikasi ternyata tidak mudah. (Naomi Siagian)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama                         :  Prof Dr Ir Herry Suhardiyanto, MSc
Tempat dan PUBLISH_DATE lahir : Banjarnegara, Jawa Tengah
10 September 1959
Jabatan                      : - Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian
                                  - Rektor Institut Pertanian Bogor.
PENDIDIKAN
1981 : Sarjana Program Studi Mekanisasi, Fakultas Teknologi Pertanian IPB
1991 : Master Agricultural Engineering, Kochi University, Jepang
1994 : Doktor Agricultural Engineering, Ehime University, Jepang

PENGALAMAN JABATAN
1995 – 1997 : Wakil Manajer BPPHP, Fakultas Teknologi Pertanian IPB
1997 – 2003 : Pembantu Dekan II Fakultas Teknologi Pertanian IPB
2000 – 2003 : Kepala Laboratorium Lingkungan dan Bangunan Pertanian, Fakultas  Teknologi Pertanian IPB
2003 – 2007 : Wakil Rektor II IPB
2007 – sekarang: Rektor IPB

Tags :

KOMENTAR