ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | SCHOLAE

Dicari, Akuntan Andal dari Kampus!

27 Maret 2012
Dicari, Akuntan Andal dari Kampus!

Masa tunggu kerja, tak ada dalam kamus para sarjana maupun calon sarjana akuntansi. Lulusannya diburu di hampir setiap sektor perusahaan. Laris manis, namun penuh tantangan soal integritas ketika berkarier.
          
Berkarier di sebuah Kantor Akuntan Publik (KAP) ternama atau sejenisnya merupakan idaman bagi calon maupun para sarjana akuntansi. Sebut saja KAP Ernst & Young, PriceWaterhouse Coopers, Arthur Andersen, Deloitte & Touche, KPMG, dan Second-tier Accounting Firms. Selain gaji besar, meniti karier di KAP berkelas internasional memang selalu diburu para lulusan tersebut, meski harus melewati seleksi yang begitu ketat.
        
Dewasa ini minat masyarakat terhadap profesi akuntansi cukup tinggi. Hal ini tampak dari semakin banyaknya jumlah lembaga pendidikan akuntansi dari tahun ke tahun, yang memberikan layanan pendidikan akuntansi pada berbagai jenjang, termasuk pendidikan tinggi strata satu (S1). Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi dapat memilih alternatif pilihan karir antara profesi akuntansi umum dan profesi akuntan.
        
Dalam proses mencari kerja, terlihat kenyataan bahwa alumni jurusan akuntansi banyak sekali dibutuhkan, mulai dari perusahaan bisnis oriented, NGO, media massa, konsultan keuangan (pajak dan manajemen) dan lain sebagainya. Sehingga, para mahasiswa sejak dini diharapkan mampu menyiapkan diri menuju persaingan yang akan semakin berat dan kompetitif ini.
        
Seorang sarjana akuntansi dapat menentukan peran utamanya dalam dunia, apakah hendak menjadi seorang akuntan manajemen, akuntan publik, akuntan sektor publik, maupun akuntan pendidik. Di luar itu, sarjana akuntansi dapat saja menjalani profesi lain karena belum mendapatkan kesempatan menjalani profesi tersebut misalnya menjadi akuntan freelance, wirausaha, dan sebagainya. Mereka juga harus meng-create pengetahuan dan keterampilan untuk menunjang kompetensi utamanya seperti kemampuan berbahasa Inggris, perpajakan dan komputer.
          
Ketua Departemen Akuntansi, Fakultas Ekonomi (FE) UI, Dwi Martani mengatakan departemen akuntansi yang dipimpinnya memiliki track record yang menekankan pendidikan akuntansi yang lebih mengarah para praktek serta didukung tenaga pengajar yang kombinasi antara praktisi dan akademisi. Selain itu, setiap ada perubahan selalu dengan cepat diadopsi.
        
Dwi juga menambahkan mayoritas lulusan akuntansi FE UI berkarier di Kantor Akuntan Publik yang top semisal  PriceWaterhouse Coopers,  Arthur Andersen, Deloitte & Touche. Hal ini menrut Dwi dikarenakan, sejak awal calon mahasiswa yang hendak kuliah di UI harus melewati seleksi yang cukup ketat dan secara alamiah mahasiswa yang masuk ke UI umumnya memiliki intelegensi yang cukup tinggi sehingga dengan sangat mudah menyerap ilmu yang diberikan. Selain itu juga didukung oleh kultur UI yang menggunakan textbook berbahasa Inggris sehingga mereka jauh lebih siap. Selain itu kata Dwi, para mahasiswa umumnya memiliki kemampuan analitis dengan didukung oleh logika dan kemampuan matematika yang cukup kuat.
          
Dwi mengatakan, dari sisi globalisasi, Universitas Indonesia secara keseluruhan sudah siap bersaing dengan perguruan tinggi internasional. Apa yang diajarkan standarnya jauh lebih tinggi dengan kurikulum yang sesuai dengan standar International Education Standard.
          
Soal prospek karier, baik Dwi maupun Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sahid Jakarta, Susilo Utomo, SE, Msi, boleh dibilang masa tunggu paling lama sebulan, malah ada yang masih kuliah sudah bekerja. Program akuntansi kata Susilo, merupakan program idola para mahasiswa di fakultas yang dipimpinnya. Ditambahkan Susilo, profesi sebagai akuntan publik cukup dominan diminati para lulusan sarjana akuntansi.
    

Mulyono, alumni akuntansi FE UI yang juga sehari-hari bekerja sebagai Consulting Analyst di KAP McKinsey & Co melihat ada dua hal terkait dengan akuntansi. Pertama dari segi keilmuannya dan kedua dari departemen akuntansinya.
    
Mulyono mengaku memilih kuliah pada akuntansi di FE UI dikarenakan, para pengajarnya cukup bagus, terdiri dari praktisi dan non praktisi. Selain itu, juga didukung oleh fasilitas yang memadai misalnya perpustakaan dengan memiliki banyak koleksi buku dan jurnal, laboratorium akuntansi. Dari sisi kegiatan ekstra kurikuler, banyak aktivitas yang ada di fakultas tersebut yang dapat membantu mahasiswa meningkatkan diri dari sisi soft skill.
    
Sementara Dandy Firmansyah, mahasiswa hukum bisnis yang juga mahasiswa Fakultas Ekonomi Extension UI jurusan akuntansi semester tiga mengaku memilih sekaligus dua program studi karena melihat di antara kedua profesi tersebut terjadi kekosongan. Akuntan menurutnya tidak terlalu menguasai hukum dan sebaliknya. Dengan memiliki dua keahlian, nantinya dapat membantu memecahkan setiap masalah yang dihadapi ketika hendak berkarier.

Moral dan Etika

Tantangan terbesar bagi sarjana akuntasi ketika berkarier di tengah masyarakat adalah masalah  integritas  terkait bidang pekerjaan yang digelutinya. Karenanya, perguruan tinggi perlu membekali mahasiswa dengan pendidikan attitude dan character building.  Hal senada juga disampaikan Dwi Martani dimana para mahasiswa dibekali dengan pendidikan moral dan etika dengan demikian diharapkan dapat  membentengi mereka dalam menegakkan integritasnya.

Dalam kasus Enron misalnya, diketahui terjadinya perilaku moral hazard diantaranya manipulasi laporan keuangan yang dibuat auditor yakni dengan mencatat keuntungan 600 juta dollar AS padahal perusahaan mengalami kerugian. Manipulasi keuntungan disebabkan keinginan perusahaan agar saham tetap diminati investor. Tentunya kasus ini merupakan potret integritas para akuntan dari KAP Andersen yakni sebuah ketidak jujuran, kebohongan. Kasus ini juga memberikan dampak di Amerika bahkan di Indonesia.

    
Susilo berharap setiap  dua tahun sekali kurikulum pendidikan akuntansi harus dievaluasi dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) harus antisipatif dan interaktif. Kasus Century, kasus penggelapan pajak, kasus korupsi merebak dimana-mana namun tampak "sepi" dari saran, masukan, komentar yang produktif dari pengurus, pakar-pakar profesi akuntan. Anggota profesi mungkin perlu mulai belajar untuk berhadapan di area publik untuk menyampaikan pikiran-pikiran profesional untuk menunjukan bahwa profesi akuntansi pun memiliki kepedulian, empati dan kontribusi dalam pemecahan masalah bangsa.
    
Selain itu terkait dengan pendidikan akuntansi itu sendiri, Guru Besar Akuntansi Publik, Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Mardiasmo dalam suatu kesempatan menilai sudah saatnya sistem pendidikan akuntansi di perguruan tinggi dikaji ulang, karena selama ini menitikberatkan pada laporan keuangan untuk bisnis. Padahal, ada kebutuhan lain yang tak kalah genting yaitu membuat laporan keuangan pemerintahan. Apakah Anda berminat kuliah akuntansi?

Tags :

KOMENTAR