ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | SCHOLAE

Dosen, Antara Profesi dan Tuntutan Kualitas

30 Maret 2012
Dosen, Antara Profesi dan Tuntutan Kualitas
Peran dosen, bukan sekadar dapat berdiri di depan mahasiswa untuk menyajikan materi ajar. Sebagai pendidik profesional, mereka pun dituntut lebih, kemudian dinyatakan dengan sertified. Lantas apa peran perguruan tinggi?

Hal itu ditegaskan Rektor Universitas Negeri Jakarta, Prof Dr Bedjo Sudjanto yang tampil sebagai pembicara pada seminar internasional “Membedah Kebijakan Pembinaan Perguruan Tinggi dan Dosen di Indonesia dan Malaysia”, yang diselenggarakan atas kerjasama antara UPN “Veteran” Jakarta dengan Universiti Selangor Malaysia, Sabtu (16/7) di Jakarta.
    
Bedjo menambahkan, tuntutan lebih dosen tersebut adalah mereka harus terlatih dan memiliki kemampuan mengajar yang baik, kemudian dinyatakan sertified sebagai dosen melalui sertifikasi dosen. Oleh karena itu, proses sertifikasi harus obyektif dan dilaksanakan dengan baik dan benar. Jika tidak, akan menambah pencederahan terhadap pendidikan tinggi. Ini, lanjut Bedjo, harus disadari oleh semua dosen, jangan sampai dikalahkan oleh kepentingan sempit dan pendek.
    
Lebih lanjut Bedjo menambahkan universitas atau perguruan tinggi harus melakukan pembinaan dosen secara berkelanjutan melalui berbagai program. Fakultas, jurusan, dan lembaga penjaminan mutu di perguruan tinggi harus melakukan pembinaan dan penilaian secara berkala untuk mengetahui apakah semua dosen telah memenuhi standar minimal sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi.
    
Peraturan Pemerintah (PP) No. 37 Tahun 2009 tentang dosen, menyebutkan bahwa dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan, dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
    
Untuk itu kata Bedjo, uji kompetensi maupun portofolio secara berkala dilakukan untuk mengetahui perkembangan kemampuan dosen. Cek silang melalui kegiatan administratif maupun akademik perlu dilakukan, sehingga kualitas dosen akan mampu dipertahankan atau bahkan ditingkatkan.
    
Lantas, apa peran perguruan tinggi? Rektor UPN “Veteran” Jakarta, Koesnadi Kardi, Msc, RCDS dalam sambutannya mengatakan, seminar ini dapat memberi acuan bagi pengelola perguruan tinggi dalam melakukan pembinaan instiitusi dan dosen yang profesional menuju perguruan tinggi unggul untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya.
    
Menurut Koesnadi, perguruan tinggi sebagai lembaga penyelenggara pendidikan tinggi memiliki peranan yang sangat besar dalam kerangka pembangunan nasional yaitu mendidik putra-putri bangsa agar mengusai ilmu dan teknologi dan mempersiapkan calon-calon pemimpin bangsa yang bermoral tinggi serta berbudaya demokratis.
    
Dalam menjalankan perannya tersebut kata Koesnadi, perguruan tinggi menghadapi tantangan besar dalam era globalisasi ini. Globalisasi yang dicirikan oleh banjirnya arus informasi dan hilangnya sekat-sekat batas antar negara sebagai akibat perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi harus direspon secara akurat dan bijak.
    
Ditambahkan Koesnadi, upaya menghadapi tantangan global tersebut, pemerintah telah mencanangkan paradigma baru pendidikan tinggi dengan menitiksentralkan pada kualitas optimal perguruan tinggi. Penerapannya terus dimantapkan oleh pemerintah, dalam hal ini Kemenetrian Pendidikan Nasional, melalui aktualisasi asas otonomi perguruan tinggi. Dalam memasuki era pembangunan yang memberi tekanan pada pengembangan sumber daya manusia, perguruan tinggi mulai tertantang untuk mampu menghasilkan sumber daya manusia yang mempunyai keahlian, ketrampilan, dan profesi yang sesuai dengan keperluan pembangunan disamping sesuai dengan karakteristik dan aspirasi tiap pribadi peserta didik.    
    
Tantangan ini kata Koesnadi, hanya akan terjawab dengan meningkatkan kemampuan tenaga dosen maupun lembaga penyelenggara pembelajaran. Kecuali itu, para pendidik-termasuk dosen- diharapkan pula berperan dalam menciptakan kondisi mental dan sikap masyarakat pada umumnya untuk menerima dan bertindak secara positif dalam proses perubahan sosial dan bahkan penemuan sosial.

Pengembangan Profesionalisme
Pengembangan profesionalisme dosen menjadi upaya yang penting dalam rangka peningkatan kualitas perguruan tinggi. Di Amerika Serikat,  program pengembangan profesionalisme dosen mulai mendapat perhatian sejak pertengahan tahun 60-an yang dikenal dengan istilah faculty development. Program itu muncul setelah ditemukannya anomali, yaitu bahwa pengajaran di perguruan tinggi telah berlangsung secara tidak efektif, bahkan terkadang diberikan tanpa kewenangan.

Demikian pula di Eropa, program pengembangan tenaga dosen sudah berlangsung sejak permulaan tahun 70-an. Dalam skala lokal di beberapa universitas di Eropa terdapat pusat-pusat pengembangan profesionalisme dosen. Namun secara umum pada level Eropa, program tersebut dijalankan secara terpadu. Selain itu juga terdapat semacam jaringan organisasi jaminan mutu dosen perguruan tinggi yang meliputi seluruh negara Eropa.

Di Indonesia, program pengembangan mutu dosen juga telah dikenal sejak tahun 70-an. Beberapa perguruan tinggi telah menyelenggarakan kegiatan yang termasuk dalam kategori pembinaan dosen, seperti penataran khusus untuk semua dosen baru. Bahkan universitas-universitas tertentu mendirikan pusat pelatihan staf dosen dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pembinaan dosen dalam level regional maupun nasional. Namun, kendati telah berlangsung hampir empat dekade, program pengembangan profesionalisme dosen di Indonesia belum menampakkan hasil yang menggembirakan.
     
Sebagai perbandingan, merujuk data Litbang Depdiknas yang dirilis beberapa tahun lalu  menunjukkan, dari 120.000 dosen tetap PTS dan PTN di Indonesia, masih ada 50,65 persen atau sekitar 60.000 di antaranya belum berpendidikan S2 atau baru S1.  Data lain menunjukkan bahwa jumlah seluruh dosen di PTN sebanyak 240.000 orang, 50% di antaranya belum memiliki kualifikasi pendidikan setara S2. Di antara jumlah tersebut, baru 15% dosen yang bergelar doktor. Jika dibandingkan dengan perguruan tinggi di Malaysia, Singapura dan Filipina yang jumlah doktornya sudah mencapai angka 60% lebih, maka tampak bahwa dosen di perguruan tinggi Indonesia masih jauh ketinggalan.

Padahal, Undang-undang (UU) No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mensyaratkan dosen perguruan tinggi minimal S2. Dalam UU itu disebutkan, para pendidik jenjang pendidikan dasar dan menengah persyaratannya adalah minimal bergelar S1. Sementara, untuk mendidik di jenjang pendidikan akademis S1, maka sekurang-kurangnya bergelar strata dua (S2), sedangkan bagi program pascasarjana adalah doktor (S3) dan profesor. Kenyataan ini ironis mengingat salah satu cita-cita besar perguruan tinggi di Indonesia adalah menjadi universitas bertaraf internasional (world class university).
    
Para pakar pendidikan mengemukakan berbagai pendapat tentang program pengembangan profesi dosen. Menurut J.G. Gaff dan Doughty, terdapat tiga usaha yang saling berkaitan, yaitu pengembangan instruksional (instructional development = ID), pengembangan organisasi (organization development = OD), dan pengembangan profesional (professional development = PD). Bergquist dan Philips berpendapat bahwa pengembangan tenaga dosen merupakan bagian inti dari pengembangan kelembagaan (institutional development), dan meliputi sebagian dari pengembangan personal, pengembangan profesional, pengembangan organisasi, dan pengembangan masyarakat

Penguasaan para dosen terhadap teknologi informasi sangat berpengaruh terhadap kesuksesannya dalam mengelola pembelajaran di perguruan tinggi. Pengembangan kemampuan memanfaatkan teknologi informasi ini dibutuhkan dalam perencanaan pendidikan, terutama yang terkait dengan analisis, desain, implementasi, manajemen, hingga evaluasi instruksional pendidikan.

Pendirian lembaga atau pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan profesi akademis, termasuk profesi dosen, yang prioritas kegiatannya terkait dengan pelaksanaan riset-riset ilmiah dan   pelatihan peningkatan kompetensi akademis. Kerjasama ilmiah dengan perguruan tinggi lain, baik berupa pertukaran dosen, riset bersama (join research), maupun program double degree. Kerjasama ilmiah ini juga bisa dilakukan antara perguruan tinggi dengan pusat-pusat penelitian, atau perusahaan-perusahaan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
    
Dengan usaha yang sungguh-sungguh dari perguruan tinggi untuk mengembangkan profesionalisme para dosennya, diharapkan akan tercipta para dosen yang mampu menjalankan tugasnya secara profesional, yaitu mencetak para ilmuwan dan tenaga ahli di berbagai bidang, mencerdaskan kehidupan bangsa dalam arti yang seluas-luasnya, serta mengembangkan pribadi-pribadi manusia Indonesia seutuhnya.

Tags :

KOMENTAR