ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | SCHOLAE

Antara Keadilan dan Kinerja Wakil Rakyat

03 April 2012
Antara Keadilan dan Kinerja Wakil Rakyat
Rencana pembangunan gedung DPR mendapat reaksi dari masyarakat. Dari kalangan mahasiswa/mahasiswi pun mengomentari rencana tersebut. Berikut komentar mereka:
 
Najwa Abdullah Sungkar (Mahasiswi, Sastra Inggris UI, tingkat 3)                
”Tidak Jamin Kinerja Wakil Rakyat”

    
Dilihat dari urgensinya, pembangunan gedung baru DPR yang diperkirakan akan memakan biaya hingga triliunan rupiah menurut Najwa harus dipertimbangkan kembali. Hal ini karena gedung DPR yang ada sekarang masih dalam kondisi sangat layak untuk dipakai, dan hingga sekarang tidak ada jaminan yang pasti bahwa kinerja para anggota DPR akan lebih maksimal apabila disediakan kantor baru beserta fasilitas mewahnya seperti spa, gym, kafe, dan lain sebagainya.
    
Selain itu, dalam konteks sosial lanjut Najwa, pembangunan gedung mewah ini sangat kontradiktif terhadap opini publik. Pertama, kondisi masyarakat yang masih lekat dengan kesulitan ekonomi serta krisis yang disebabkan berbagai bencana alam jauh lebih penting untuk diprioritaskan dalam perencanaan keuangan negara. Kedua, sebagai wakil rakyat, pada hakikatnya mereka harus mementingkan kepentingan rakyat jauh di atas kepentingan pribadi. Menurut saya, pengajuan pembangunan gedung mewah ini sangat egois dan personal apabila hanya didasari atas peningkatan kenyamanan kerja. Secara kontekstual, kenyamanan fasilitas tambahan seperti kolam renang, gym, dan spa tidak seharusnya disediakan di tempat kerja.
    
Menurut fungsinya kata Najwa, tempat kerja merupakan tempat kita mengaktualisasikan produktivitas kerja, sehingga fasilitas santai tersebut hanya akan menjadi distraksi yang bahkan dapat menurunkan produktivitas anggota DPR di kantornya. Yang terakhir, karena alasannya yang tidak signifikan, pembangunan gedung DPR ini terkesan ‘menyimpang’ atau menyalahgunakan uang rakyat dengan tidak mendistribusikannya kepada kepentingan rakyat, melainkan kepentingan pribadi. Oleh karena itu, pembangunan gedung baru DPR ini tidak selayaknya direalisasikan selama bertentangan dengan opini publik. Karena sebagai wakil rakyat, rakyatlah yang harus didengar, bukan kepentingan pribadi atau golongan tertentu.

Putut (Mahasiswa Kedokteran Gigi UI, angkatan 2008)
Melukai Rasa Keadilan Masyarakat
“Menurut saya, rencana pembangunan gedung DPR dengan anggaran yang sangat besar, mencapai Rp 1,16 triliun, akan melukai rasa keadilan masyarakat. Pembangunan gedung DPR yang baru ini menimbulkan banyak polemik di kalangan masyarakat. Dikarenakan, pembangunan ini sangat berbanding terbalik dengan kondisi mayoritas rakyat yang diwakili DPR. Mereka yang diwakili masih terjerat dalam hidup kemiskinan, kelaparan, pendidikan yang rendah dan banyak infrastruktur yang buruk, sementara itu DPR malah menunjukkan hedonisme dan konsumtif”.
 
Biaya Rp 1,16 triliun terlalu tinggi untuk pembuatan gedung baru DPR yang tidak dapat dirasakan langsung oleh rakyat. Sementara itu, gedung lama masih layak digunakan untuk bekerja bagi para anggota DPR. Apabila dikatakan bahwa pembangunan gedung baru ini dapat meningkatkan kinerja dari para anggota DPR, maka bagi saya hal ini tidak bisa menjamin kinerja mereka akan lebih baik ke depannya. Jika dilihat dari fasilitas yang ada di dalam gedung baru ini, diantaranya kolam renang, spa, tempat fitness dan sebagainya seperti yang ada pada hotel bintang 5, tidak mengindikasikan akan adanya perbaikan kinerja para anggota ke depannya. Lebih baik perbaiki kinerja terlebih dahulu sebagai badan legislatif, baru memikirkan gedung baru yang akan dibuat. Gedung DPR merupakan rumah rakyat, jadi perlu persetujuan semua rakyat untuk membangun gedung baru. Menurutnya, perlu adanya evaluasi mendalam terlebih dahulu untuk pembangunan gedung baru DPR.

Tags :

KOMENTAR