ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | SCHOLAE

Mengintip Sekolah Anak-Anak Berkebutuhan Khusus

24 Juni 2015
Mengintip Sekolah Anak-Anak Berkebutuhan Khusus
SLB B Pangudi Luhur Jakarta mengembangkan metode belajar MMR (Metode Maternal Reflektif). Metode ini mengadopsi cara seorang ibu mengajarkan bahasa pada anaknya. Di dalamnnya juga terdapat metode demonstrasi, metode pemberian contoh, tanya jawab dan penugasan. (Foto:Ist)
Mereka memiliki keterbatasan intelektual, emosi, dan sosial namun secara sosial tidak mengalami cacat fisik. Mereka tergolong anak-anak berkebutuhan khusus. Segudang prestasi ditorehkan dan telah mengharumkan bangsa. Pemerintah berjanji untuk lebih meningkatkan perhatiannya pada hak pendidikan.

Data Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) terbaru, jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia tercatat mencapai 1.544.184 anak, dengan 330.764 anak (21,42 persen) berada dalam rentang usia 5-18 tahun. Dari jumlah tersebut, hanya 85.737 anak berkebutuhan khusus yang bersekolah. Artinya, masih terdapat 245.027 anak berkebutuhan khusus yang belum mengenyam pendidikan di sekolah, baik sekolah khusus ataupun sekolah inklusi.
    
Anak-anak tersebut memerlukan penanganan khusus dan selama ini, jalur pendidikan yang ada untuk mereka biasanya Sekolah Luar Biasa (SLB) atau terapi-terapi di luar sekolah. Sebut saja, SLB B Pangudi Luhur Jakarta. Lembaga Pendidikan Anak Tunarungu Pangudi Luhur Jakarta ini seperti disampaikan Kepala Sekolah SDLB Pangudi Luhur, Wagiman, merupakan salah satu bentuk pilihan Yayasan Pangudi Luhur dalam perhatian dan kepeduliannya terhadap orang yang lemah, agar mereka mengalami pendidikan sebagaimana mestinya seperti yang dialami oleh teman-teman mereka yang mendengar.
   
Lembaga ini tambah dia, didirikan pada tahun 1983, dan dalam tahun-tahun berikutnya mengalami perkembangan yang pesat karena diminati oleh masyarakat, baik Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Bekasi tetapi juga dari daerah-daerah lain di Indonesia, seperti Pangkal Pinang, Pontianak, Banjarmasin, Bali, Kupang, Batam, dan lain-lain.
   
Di samping menyelenggarakan pendidikan anak tunarungu yang profesional, lembaga ini juga memberikan pelayanan konsultasi dan terapi pendidikan bagi anak-anak yang bermasalah dalam perkembangan.

Dikatakan Wagiman, kebutuhan anak tunarungu adalah kebutuhan komunikasi karena mereka miskin bahasa. Sehingga, seluruh pembelajaran di SD LB Pangudi Luhur mengacu pada sasaran perubahan tingkah laku melalui kemampuan berbahasa. Di sekolah yang dipimpinnya, yang dikembangkan adalah bahasa oral, bukan bahasa isyarat. Anak-anak, kata dia, berbicara, menangkao ucapan atau ujaran orang lain.
   
“Seluruh kegiatan belajar-mengajar mengacu pada kemampuan berbahasa si anak. Sistem pembelajaran, tidak menggunakan buku akan tetapi melalui media pengalaman akan. Jadi, apa yang dialami anak sehari itu dipercakapkan. Misalnya anak bercerita tentang kecelakaan yang dia saksikan. Dari percakapan itu oleh guru disusun menjadi sebuah cerita sehingga mereka bisa membaca dengan suara yang jelas, memahami isinya dengan pertanyaan bacaan,”jelas Wagiman.
   
Saat ini  tambah dia, jumlah siswa 100 orang dan guru yang mengajar sebanyak 15 orang. Masing-masing kelas 1-6, paling banyak 15 orang. Metode belajar yang dikembangkan adalah metode MMR (Metode Maternal Reflektif) yang mengadopsi seorang ibu mengajarkan bahasa pada anaknya.  MMR merupakan suatu metode besar dimana di dalamnnya terdapat metode demonstrasi, metode pemberian contoh, tanya jawab dan penugasan. Dan, bukan semata metode saja, akan tetapi lebih pada pendekatan.
   
Sekolah yang terletak di Jl. Pesanggrahan 125, Kembangan, Jakarta Barat ini setiap kelas dilengkapi dengan alat bantu dengar klasikal, ruang speech therapy, ruang Bina Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama (BKPBI), ruang psikologi, ruang auditorium, ruang rapat, ruang kuliah, ruang perpustakaan guru dan murid, ruang audiologi, ruang audiologi centrum, ruang perpustakaan guru dan murid, ruang deteksi intervensi dini, ruang assesment psikologis, ruang laboratorium, ruang makan besar dan kecil, ruang praktikum tata busana, tata boga, batik, komputer dan elektro, ruang UKS, taman bermain, lapangan olahraga lengkap, dapur, showroom, kafetaria, sanggar kreatifitas dan ruang workshop.

Belum Merata
Cerita lain datang dari  dari Pengurus SLB Surya Wiyata, Jakarta Timur. SLB ini mengkhususkan kelas B (tunagrahita) dan kelas C (tunarungu). Penjagaan SLB ini terkesan cukup ketat. Hal ini wajar karena ada sebagian siswanya yang tergolong tuna grahita. Sementara dari Rangkas bitung, Lebak, Banten, terdapat sekolah Luar Biasa Yayasan Pendidikan Padesan (SLB YPP). Sekolah yang mendidik anak-anak tuna rungu.
   
Saat ini, SLB berdiri diatas tanah seluas 800 meter dengan enam ruangan. Ruangan itupun, dibagi dua dengan pembatas sebuah tripleks. SLB mengajar anak-anak tuna rungu dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah umum secara gratis. Mereka mendapatkan pelajaran dari 12 orang guru dari Senin hingga Sabtu. Rata-rata, anak-anak tuna rungu lebih banyak mendapat pelajaran keterampilan baik tata boga, tata busana dan seni griya.   
   
Hasil kerajinan mereka sangatlah bagus, mulai dari kaos, makanan kecil, mobil-mobilan dan gitar. Menurut Kepala Sekolah SLB YPP Marzuni, masing-masing tingkatan sekolah mendapat jam pelajaran keterampilan berbeda-beda. “SD enam jam pelajaran keterampilan, SMP 10 jam dan SMA 16 jam pelajaran,” terang Muzani.
   
Dari belajar keterampilan itu, anak-anak tunarungu bisa membuat sebuah karya yang bisa dilirik konsumen. Terbukti, gitar buatan mereka sudah banyak yang memesan. Harga sebuah gitar akustik mereka bandrol sebesar Rp. 300 ribu, sedangkan gitar semi eletrik mereka jual dengan harga Rp. 450 ribu. Gitar, mereka promosikan ke sekolah-sekolah umum atau pihak yayasan yang mengenalkan gitar buatan anak-anak SLB ke kalangan luar.
   
Mengenai mobil-mobil, mereka memasarkannya jika ada sebua bazar di sekitar Rangkasbitung. Harga mobil kecil berkisar Rp 150 ribu dan mobil besar Rp. 250 ribu. “Bahan-bahan mobil, kami dapatkan dari limbah kayu,” ucap pengajar keterampilan kriya kayu Ari Gunadi.Hussein menambahkan, selain seni griya yang menarik dipelajari, anak-anak tuna rungu juga sangat menyukai belajar desain grafis. SLB YPP  ini terletak di jalan Pasir Tariti No. 14, Rangkasitung.
   
Direktur Pendidikan Luar Biasa Kemendiknas, Dr Sutji Hariyanto MPd MM dalam seminar internasional pendidikan inklusi di FKIP UNS, Solo mengatakan, porsi sekolah luar biasa sendiri sampai saat ini lebih banyak diambil swasta, yakni sebanyak 1.112 sekolah atau 76 persen, adapun sisanya sekolah berstatus negeri sebanyak 343 sekolah. Swasta sebetulnya sudah banyak mengambil peran, hanya kendalanya persebaran yang masih belum merata di berbagai daerah. Semuanya masih cenderung terpusat di Jawa, dan terbanyak di Jatim, serta paling sedikit di Papua.
   
Pemerintah berjanji untuk lebih meningkatkan perhatiannya pada hak pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memberikan beasiswa sekitar Rp 1 juta per anak setiap tahunnya sehingga tiap anak berkebutuhan khusus bisa bersekolah.
   
Beasiswa tersebut akan disalurkan melalui rekening sekolah. Di luar dana itu, pemerintah juga tengah merancang bantuan operasional institusi (BOI) yang akan diberikan kepada setiap sekolah dengan nominal mencapai Rp 40 juta. BOI akan diberikan untuk menutup biaya operasional. Dana ini di luar dari bantuan operasional sekolah (BOS).
   
Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus, Mudjito menambahkan tahun ini, Kemdikbud menyediakan dana sebesar Rp8 4,3 miliar untuk beasiswa anak berkebutuhan khusus.  Anggaran tersebut dialokasikan untuk pengelola kegiatan peningkatan akses dan mutu PKLK pada satuan kerja provinsi (dana dekonsentrasi).
   
Potensi anak berkebutuhan spesial ini kata Mudjito, tidak akan berkembang jika hanya belajar dan berinteraksi dengan sesama mereka, malah akan semakin terisolasi dari kehidupan nyata sehingga munculnya sekolah inklusi kata dia, sangat penting keberadaannya dimana sekolah reguler menyelengarakan pendidikan inklusif yang juga menerima anak-anak berkebutuhan khusus. Pertanyaannya, akankah pendidikan inklusif menjadi solusi atau masalah?

Mengukir Prestasi
Siswa tuna rungu wicara kelas XII Sekolah Menengah Kejuruan Pangudi Luhur Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Henry Restya Susetya meraih nilai ujian nasional tertinggi di Jurusan Otomotif di sekolah itu.
   
"Nilai rata-ratanya 8,2, dan mengungguli 49 anak normal lainnya di Jurusan Otomotif, sedangkan untuk tingkat sekolah dia menduduki ranking dua," kata guru wali kelas XII Jurusan Otomotif SMK Pangudi Luhur, Agustinus Ngadisa di Magelang, Selasa seperti dikutip dari kantor berita Antara.
   
Menurut Ngadisa, sejak diterima di SMK Pangudi Luhur, siswa berkebutuhan khusus tersebut memang dikenal cerdas, bahkan sejak duduk di kelas X, dia selalu mendapat ranking I di kelas.
   
Atas prestasi yang diraih anak pasangan Sri Sudiyati dan Supraptono, warga Kabupaten Purworejo itu, PT Astra International mengapresiasinya dengan diterima kerja tanpa tes. Namun, atas berbagai pertimbangan, Henry memilih untuk tetap melanjutkan sekolah.
    
Ngadisa menderita tuna rungu wicara sejak usia 11 bulan. Berbagai pengobatan sebenarnya telah dilakukan, namun tidak berhasil. Pada usia lima tahun, Henri disekolahkan di SD Luar Biasa Don Bosco di Kabupaten Wonosobo. Saat itu, dia diketahui miliki kecerdasan dibanding anak lainnya, bahkan dinilai oleh para pengajar di tempat itu mampu bersekolah di tempat umum.
   
Setelah lulus dari SDLB tersebut, Henry melanjutkkan ke SMP Bruderan Purworejo. Anak yang memiliki hobi membaca ini kemudian meneruskan ke SMK Pangudi Luhur Muntilan.
   
"Kami bangga atas prestasi anak kami. Semoga ini menginspirasi anak-anak lain," kata Sri Sudiyati yang juga sebagai guru di SMP Negeri 13 Purworejo.
   
Wakil Kepala SMK Pangudi Luhur Bidang Kesiswaan, FX Yellow Bayu, mengatakan, meskipun sekolah umum SMK Pangudi Luhur juga menerima anak-anak berkebutuhan khusus terutama tuna rungu wicara yang memiliki kelebihan. Hal ini sudah dilakukan sejak tahun 1980-an. Latar belakangnya, untuk menampung dan memberikan keterampilan kepada mereka.

"Semua anak bangsa dapat bersekolah di tempat kami. Kami tidak pernah membeda-bedakan dari mana mereka berasal, bahkan meskipun mereka berkebutuhan khusus, namun kalau memiliki sesuatu kelebihan, pasti kami terima," katanya.
   
Prestasi lainnya diukir atlet Desi Pradita. Tidak seperti kebanyakan atlet kontingen Special Olympics Indonesia (SOIna) atlet asal Yogyakarta itu sukses menggondol tiga medali di cabang tenis meja yaitu medali emas di nomor singel, perak di ganda campuran dan perunggu di ganda putri.ketiga medali itu dia raih padakejuaraan Special Olympics World Summer Games (SO WSG) ke-13 yang berlangsung di Athena, Yunani 24 Juni-Juli tahun lalu.
    
Srihanik, contoh lain  siswi berprestasi yang tunarungu dan tunawicara. Dilahirkan dengan keterbatasan kemampuan mendengar serta berbicara, tidak membuat Srihanik (17) berputus asa dalam menggapai prestasi. Karena kegigihannya itu, remaja asal Dusun Becek, Desa Kalirong, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menjuarai lomba Desain Grafis Sekolah Luar Biasa tingkat Provinsi Jawa Timur.
   
Dalam perlombaan Pendidikan Keterampilan yang digelar di Surabaya, 23-25 Juli tahu lalu itu, siswi yang waktu itu duduk dikelas VIII SLB Dharma Wanita, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri tersebut menyisihkan 19 peserta utusan daerah lain se-Jawa Timur.
Ia berhasil menggondol juara pertama dengan mengusung pembuatan poster serta pembuatan website beserta desainnya. Dalam website yang mengantarkannya sebagai pemenang itu, ia mengambil tema Bahaya Narkoba.
   
“Hingga pemenang diumumkan, saya tidak menyadarinya. Sampai saya diberitahu untuk maju ke panggung. Saat menerima piala itu, saya baru menangis haru,” ujar Srihanik sebagaimana diartikan oleh Nanda, guru pembimbing desainnya. Jadi, siapa bilang anak-anak tunanetra tidak bisa berprestasi?

Sumber: Harian Sore Sinar Harapan

 

Tags :

KOMENTAR