ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Pro Kontra Soal MOS, dari Balas Dendam hingga Mental Budak

22 Juli 2015
Pro Kontra Soal MOS, dari Balas Dendam hingga Mental Budak
Ilustrasi: Siswa-Siswi yang sedang mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS). (Foto: Ist)
Masa Orientasi Siswa (MOS), Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), atau kini disebut Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) merupakan sebuah kegiatan yang umum dilaksanakan di sekolah guna menyambut kedatangan siswa baru. Masa orientasi lazim kita jumpai hampir di tiap sekolah, mulai dari tingkat SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Tak pandang itu sekolah negeri maupun swasta, semua menggunakan cara itu untuk mengenalkan almamater pada siswa barunya.

MOS dijadikan sebagai ajang untuk melatih ketahanan mental, disiplin, dan mempererat tali persaudaraan. MOS juga sering dipakai sebagai sarana perkenalan siswa terhadap lingkungan baru di sekolah tersebut. Baik itu perkenalan dengan sesama siswa baru, kakak kelas, guru, hingga karyawan lainnya di sekolah itu. Tak terkecuali pengenalan berbagai macam kegiatan yang ada dan rutin dilaksanakan di lingkungan sekolah.

Di tataran konsep MOS sangat ideal, namun dalam pelaksanaanya, tidak seideal konsepnya. Pro kontra soal MOS pun mencuat. Beberapa siswa dan beberapa orangtua murid yang anaknya hendak maupun sudah menjalani MOS berkomentar seputar hal tersebut. Kita simak komentar mereka:
 
Selvi da Cunha, Siswi SMK Negeri 10 Cawang
Bukan Ajang Balas Dendam
"MOS memang asyik akan tetapi sistem pelaksanaanya memang harus dirubah biar ada manfaatnya buat siswa-siswi baru. MOS juga bukan ajang balas dendan antara senior kepda yuniornya. MOS sudah menjadi tradisi yang turun menurun dan sulit dihapus. Maka, diambil positifnya saja.Jangan didiamkan jika memang di dalam MOS itu ada kekerasan saudara. Setiap MOS itu khan ada susunan acaranya yang sudah disepakati bersama.Saya selama 3 tahun menjabatdi pengurusan OSIS dan kami tidak berpikiran menjadikan MOS sebagai ajang balas dendam. MOS itu memang melibatkan guru di dalamnya. Semua junior saya merasa senang mengikuti MOS karena kami sebagai senior selalu memberi yg terbaik dan di pikiran kami sebagai OSIS senior tidak ada namanya ajang balas dendam. Makan, kalau senior berpikiran MOS sebagai ajang balas dendam, maka itu salah besar. Dan, jangan didiamkan jika memang didalam MOS itu ada kekerasan. Dan, OSIS itu harus bertanggung jawab dan menjadi contoh yang baik bukan hanya mau nampang jabatan saja".

Kegiatan MOS ini sangat bagus dan saya juga kurang sependapat dengan cara lama yang mengadaptasi dari kegiatan Ospek di kampus. Setahu saya, dulu jamannya abang saya dikenal dengan penataran P4 dan itu sangat bagus. Kalau skarang siswa-siswi baru harus mengenakan dandanan aneh dan jadi ingat saat masih jadi MaBa, sama seperti adik-adik MOS terlebih gaya dandanan juga perlengkapan yang dibawa. Sebaiknya kegiatan MOS lebih difokuskn pada kegiatan edukatif seperti pelatihan kepemipinan, kedisiplinan, pembinaan karakter dan tentunya dengan busana yag lebih wajar tidak terkesan aneh oleh sebagian orang.

Dicka Andika, SMA Negeri 70 Jakarta
Sistem Perlu Dirubah
"Yang jelas usul saya sistem pelaksanaan MOS dirubah sehingga ada perbedaan antara MOS yang dulu dengan MOS yang sekarang sehingga kegiatannya tidak lagi menjadi momok yang menakutkn bagi siswa-siswi baru. Melainkan lebih diisi dengan kegiatan yang bersifat edukatif. Kalau bisa dalam kegiatan MOS ini perlu juga keterlibatan guru secara aktif biar tidak terjadi hal-hal yg tidak diinginkn Di beberapa sekolah kegiatan MOS ini lebih dipercayakn pada OSIS semata jadi sangat rentan dan besar kemungkinan mereka akan berbuat sesuatu di luar dari aturan MOS yg ada karena di usia yg masih labil, segala macam tindakan tanpa perhitungn yang matang bisa saja dilakukan. MOS masih banyaK didefinisikan sebagai ajang balas dendam senior kepada yunior dan tidak menutup kemungkinan terjadi kekerasan baik dalam perbuatan atau sekadar lisan yang kerap dialami siswa baru.
 

Siscko Wisang, salah satu orangtua murid dan alumni SMEA Sint. Gabriel Maumere
Ditakuti Siswa
"Saya punya pengalaman. Tahun lalu keponakan saya di SMA sampai sakit dan ngambek tidak mau sekolah dan ikut kegiatan MOS lagi dengan alasan ia diperintah dengan nada suara seperti dibentak-bentak,dimarahin oleh senior, ditertawai saat dia salah dan masih banyak yang dialami keponakan saya, sebagai orang tua,  kami prihatin dan takut jika MOS justru menjadi hal yang ditakuti siswa.


Nita A Zaini, salah satu orangtua murid
Tanamkan Mental Budak
"Jujur aja nih. Sejak dari dulu gue terus gue turunin ke anak gue, nggak pernah mau ikutan OSPEK, MOS BIOS atau apalah namanya itu. Karena menurut gue, kegiatan itu tidak akan membuat kita atau anak kita jadi cerdas atau berani. Justru menanamkan mental budak di pikiran bawah sadar kita, karena kegiatan ini bukan mendidik menjadi Leader tetapi mendidik menjadi Jongos yang siap disuruh-suruh dan siap disalah-salahkan, siap dimarah-marahi. Pokoknya siap diperlakukan yang ngga ngenakin perasaan. Jadi bertentangan banget dengan prinsip hidup gue yakni menjadi manusia merdeka,tidak dijajah, di bully dan gak perlu takut takut ngadepin orang kalo kita nggak punya salah. Ituuuu....!!! Nah tambah satu lagi yang bikin tambah nggak setuju, aksi balas dendam. Gimana jadinya kalau generasi penerus terbiasa dengan kata balas dendam...? Yo tawuran terus Indonesia !"

Namanya orang tua maka kita harus kritis. Aku lebih suka MOS, OsPek (jaman kita) atau apalah namanya dilaksanakan dengan lebih cantik,kayak PMR jaman kita kuliah dulu atau kegiatan yang lebih mengarah ke gotong royong,memperindah lingkungan sekollh secara bersama-sama. Lebih banyak manfaatnya, jiwa siswa juga jadi lebih welas asih. Ngga seperti sekarg, rambut dikuncir kayak orang gila , melas-melas ke senior hanya untuk minta tandatangan, senior memaki maki atau menghukum para junior semaunya. Come on, mau jadi apa generasi kita nanti jika diajari untuk berjiwa pendendam?


Rintho Baptista, Karyawan
"MOS, perlu dibalut dengan latihan kepemimpinan tingkat dasar bagi mahasiswa".


Lembaga Pedrossa, Mahasiswa Unindra Jakarta 
Tidak Identik Bully
"Tidak selamanya MOS itu identik dengan kekerasan atau bully. Itu hanya dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab yang menyalahgunakan wewenang dan amanat"


Thom A. Edison, Karyawan
Banyak Unsur Balas Dendam
"Menurut saya, MOS itu baik juga, tapi yang terjadi itu lebih banyak unsur balas dendam. Soalnya siswa banyak yang mengeluh perlakuan panitia, walaupun semua ngga begitu. Apakah kalo MOS dihilangkan akan berpengaruh pada siswa-siswi baru tersebut?"




 

Tags :

KOMENTAR